Wednesday, October 31, 2018

Coffee at Louis with Myself and I

After days of eating just instant noodles and microwaved tteokbokki for breakfast and lunch, I decided to treat myself to a nice and beautiful brunch at Coffee at Louis. My best friend recommended me this dining place. “The food is good, and the place is very pretty and not too crowded with Surabayans,” she said. I’ve been wanting to drop by since months ago, but Surabaya was just too hot for me to function. Yet, finally, I got up today, went to the hospital to do some checkups and brought myself out to eat. 


Breakfast at Louis'

My refillable cup of Creme Brulee Tea

I did some research on Coffee at Louis’ Instagram page, where I scan all the food and beverage on the menu and decide on what I want to have. I obviously settle for the non-carb option, which is the Chicken Salad. But, then, I saw this new dish they have, a dessert menu named Pouched Pear, and it caught my attention instantly. I have never had pouched pear before, hence being unfamiliar with how it should taste, so I gave it a try. 

They have all sorts of cakes and cookies here at Louis'

The staff was a very friendly and assertive man. He greeted me and welcomed me, asking on how many person would be dining today. “It’s just me,” I answered, and he escorted me to the indoor seats, which then I cut as he was pointing at a table for two, saying that I’m going to sit outside because I need to smoke. Still with a smile, he opened the door for me and gesture politely to another table for two in the open. He went back inside, then came back a minute later with a glass of water on the house and an ashtray. 

I love how the place is not jammed-pack with people. It’s easier for me to function in public when there are less people, and I managed to finish all the things that needed to be done with my laptop today in a snap of a finger. 

This fulfills my aesthetic needs

The sight of the indoor seating

My Chicken Salad didn’t look as beautiful as I wanted it to be, but the quality of the food is amazing. The greens were rather cooked as they were topped with slices of grilled chicken, but it’s okay. There were diced croutons here and there, along with slices of baby tomato. The portion of the grilled chicken was rather generous. I got the thigh part of the chicken and, even though I’m more of a breast person, it was delightfully delicious and very much enjoyable. 

I love how the chicken skin was very crispy and savory. I don’t usually like chicken skin, but this one was an exception. The meat was very tender and delicious, and it had this level of umami that was just on point. There wasn’t much dressing on the greens, but I could tell that it was balsamic vinegar. 

Some greens to go with your cup of Joe

My share of Chicken Salad

To be honest, all of the ingredients of the salad didn’t manage to work together as a team as they had their own spotlight of flavor that stood out from each other. Like, the egg, for example. The egg was just boiled and sliced in half, and it was just there sitting on the side of the plate waiting to be eaten. I tried to combine it with all of the elements in the plate in a spoonful of a bite, but the flavor just didn’t merge well. But, hey, it’s a salad. Nothing can go wrong. It’s just a matter of personal choices. 

My first Pouched Pear I've ever taste

Drizzle drizzle drizzle!

After I finished my salad, I moved on with my Pouched Pear, which was cold. I thought, the name “pouched” would make the pear hot from  coming out straight from a pan, but it seemed that I had the wrong idea. 

The dessert was very beautiful and it had, in my opinion, this autumn vibe going on with all the color selection. It came with a tiny cup of spiced syrup, while the pouched pear laid there majestically on a bed of vanilla yogurt, circled with Coffee at Louis’ house made granola. It was a delightful sight for sore eyes.

Autumn-like dessert
I cut through the poached pear to find that the pear was rather tender, like as if it was poached, but still had this crispness of a fresh pear here and there. I scooped some of the vanilla yogurt, along with the spiced syrup and the house made granola, and brought the spoonful of delicious goodness into my mouth. Damn, it was delicious!

I put a bit too much of the spiced syrup into my pear, making it way too sweet for my taste. But, it still tasted amazing. The pear tasted fresh, sweet, and juicy, and the flavor blended well with the cinnamony granola and the solid vanilla yogurt. I have never experienced autumn in my life, but every bite of the dessert pear that went into my mouth felt like how fall season should be. 

I also ordered a cup of hot Creme Brulee tea to go with my food. The aroma of the tea was really like Creme Brulee: all toasty and sweet and caramel like, which blowed my mind. I didn’t put any sugar into my tea, because that’s how I drink my tea, yet it still tasted delicious. 

Guys, in all seriousness, if you feel like having a quiet me-time while still able to enjoy good food, do visit Coffee at Louis. You won’t regret a single second. 


Coffee at Louis
Jl. Trunojoyo No. 69
D.R. Soetomo, Tegalsari
Kota Surabaya, Jawa Timur 60264

Opening Hours:
WED - MON: 7AM - 9PM

Contact:
+61 21 822 3304 6369


Sunday, October 28, 2018

Ke Newborn: Coffee & Friends Lagi

Tiga bulan berlalu dan gue berhasil menyisihkan waktu untuk mampir lagi di kedai kopi kepunyaan Pak Eko. Kali ini nggak sendirian, gue mengajak sahabat gue yang, saat itu, sedang dinas di Surabaya. Kami bertiga disambut dengan kesunyian kedai kopi tersebut. Mas Ganang sudah tidak ada, digantikan oleh barista baru yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Mau berkenalan juga lupa, kita panggil saja dia Mbak Mawar. 

Wajah ovalnya dihias dengan sepasang kacamata berbentuk kotak. Rambutmya dikuncir, kemejanya bermotif kotak-kotak, yang ia tutupi dengan celemek sederhana berewarna hitam. “Pak Eko ada, Mbak,” tanya gue. Mbak Mawar menggeleng singkat sambil memamerkan senyum kecilnya. “Pak Eko masih di jalan, Kak,”balasnya dengan suara kecil. Ah, ya sudah, toh gue ke Newborn karena mau mengenalkan teman-teman gue dengan sajian minumannya yang apik dan murah. Nggak ada Pak Eko juga nggak apa-apa, kok. 

Sally dan Chacha sama-sama memesan minuman andalan khas Newborn yang, sayangnya, gue lupa namanya apa, sementara gue memesan satu gelas Belgian Hot Chocolate karena asam lambung gue yang akhir-akhir ini suka kambuh-kambuhan. Hanya ada Mbak Mawar yang berjaga di kedai siang itu, jadi semua minuman yang kami pesan disiapkan oleh beliau. Meskipun begitu, pelayanan tetap cepat dan rapi. Nggak lama kemudian, radio mulai memainkan rentetan lagu yang menurut gue sangat tidak cocok untuk diputarkan di sebuah kedai kopi: lagu-lagu EDM (alias, Electronic Dance Music).. versi remix.. dan agak dibikin dangdutan. Duh. 


Minuman kami datang hampir berbarengan. Gue dan Chacha nggak tahan untuk nggak melenggangkan badan kami sesuai dengan irama musik yang sedang dimainkan. “The monsters running wild inside of me, I’m faded DUNG TAK DUNG DUNG TAK DUNG DUNG TAK DUNG DUNG TAK DUNG,” begitu bunyinya. Tengah Sally menggelengkan kepala karena, mungkin, merrasaa jijik melihat tingkah laku kami, Mbak Mawar datang dengan satu shot glass berisi minuman pekat berwarna hitam. 

“Lho, Mbak, minumannya udah keluar semua, kok,”ucap gue.

“Ini dari Pak Eko, Kak,”balas Mbak Mawar, “kemarin biji kopinya baru dateng. Sambil dicoba buat jadi menu baru.”. Wah, hati senang kalau bisa mencicipi menu baru begini. 

Kata Mbak Mawar, nama biji kopinya adalah Kerinci Black Honey. Buih kopinya berwarna coklat kekuningan sehingga membuat minuman tersebut nampak mirip dengan madu. Teksturnya agak pekat. Kami bertiga bergantian menyicipi kopi baru dari Newborn: Coffee & Friends tersebut dan tasting notes kami bisa dibilang cukup sama, yaitu tingkat kemasaman yang cukup tinggi dengan sedikit manis yang seperti manisnya madu. Kopinya sendiri cukup ringan untuk diminum ketika santai. 

“Ket, lo kok enak sih dikasih kopi gratis,” ucap Sally. Gue hanya membalas dengan tawa kecil karena gue pun nggak tau bagaimana caranya gue sampai bisa disuguhi kopi berkali-kali oleh Pak Eko. 

Belum habis Kerinci Black Honey barusan, tiba-tiba datang lagi Mbak Mawar ke meja kami sambil menyajikan minuman gelap di gelas yang lebih besar, kali ini dengan berhiaskan es batu beberapa tumpuk. “Lho, Mbak, kok dikasih lagi,” tanya gue, yang kemudian dibalas dengan, “Iya, Kak, nggak apa-apa. Biar nyoba.”


“Kalau yang ini house specialty kita, Kak,” tambah Mbak Mawar. “Oooh, ini mocktail, Ket,” sanggah Sally, matanya menelusuri daftar menu minuman di dinding atas meja kasir. Sebenarnya, gue lebih senang cocktail ketimbang mocktail karena mocktail itu nggak beda jauh dari sirup. Kalau cocktail kan lebih nendang karena ada alkoholnya. Bukan begitu, bukan? 

“Ooh, ini Black Mamba, ya,” sahut Chacha. Mbak Mawar mengangguk dari balik kasir. 

Entah campuran apa yang ada di dalam mocktail ini, tapi rasanya persis seperi balsam yang dibubuhi gula: pedas, hangat, dan manis. Seandainya cocktail bohong-bohongan ini nggak dikasih es batu, gue pasti kan mengira minuman ini adalah jamu. 

Waktu itu sudah pukul 4 sore. Kami masih ada janji lagi untuk bertemu dengan teman-teman yang lainnya di Tunjungan Plaza. Padahal niat awal gue adalah untuk menunggu Pak Eko datang sambil menikmati kopi, tapi mau bagaimana lagi, janji harus ditepati. Kami bertiga pamit dengan Mbak Mawar. Gue langsung membuka aplikasi Instagram dan mencari akun Newborn: Coffee & Friends yang dioperasikam oleh Pak Zeko sendiri untuk memberi salam terima kasih. “Kopinya baru dateng kemarin, tuh,” balas Pak Eko cepat. “Iya, Pak, nanti kapan-kapan saya main lagi, yaa.”. Nggak lama, GoCar kami datang dan kami mulai menelusuri Jalan Arjuno sampai ke Tunjungan Plaza. 



Newborn: Coffee & Friends
Jl. Arjuno, No. 144
Sawahan, Surabaya
Jawa Timur 60251

Opening Hours:
Monday - Thursday: 12 PM - 12 AM
Friday - Saturday: 12 PM - 1 AM
Sunday: 7 PM - 12 AM

Wednesday, October 17, 2018

Rainbow Bowl at the Shelter

Beautiful delicious food, interior design that lives up to my aesthetic needs, and a warm yet hearty atmosphere are the three main reasons that makes me keep coming back to the Shelter every time I got the chance. True, they can charge an awful lot of money for tax and service, and the fact that the breezy rooftop garden doesn’t provide any parking lot for those who bring their personal vehicles to dine in adds up some minuses to the points, but I don’t mind as long as I have my food and that my food is served with some edible flowers on it. One thing that I notice though, which is a shameful thing to do, is how the staff treat us locals differently than the foreigners. But that’s another story I’ll tell in the future. In the mean time, let’s go for the food!

Finishing my Blue Moon on the go!

Mr. Waffles - 75K

I stumbled upon this salad dish that I instantly love. It goes by the name Soul Fuel Bowl. Consisted of a mix of shredded beetroot, carrot, and purple cabbage, garnished with cucumber swirls and a dollop of hummus with toasted seeds on top. Complete with a handful of organic quinoa and avocado on the sides, and it also comes with three okay pieces of homemade falafels. Finally, the salad from the garden is served with three house dressings that will definitely tingle your tastebud. Boy, when I first ordered this dish, I didn’t know what was coming - all I expected was a petite bowl of greens. But then, after 15 minutes of waiting, I was presented a humungous bowl of rainbow that looks as festive as a tumpeng. Gulp. 

It took me a while to figure how to devour this heavy breakfast. Things were all over the place and my bowl was very much occupied for me to mix them all up without having quinoa flying across the table. The three dressings were sweet, creamy and sour, and savory. I tried each dressings with my salad, then mix them all together in one bite as well, but my favorite among the three was the sweet one. Combined with the hummus and toasted seeds, the flavor quickly escalated and, the next thing I know, I was halfway through my salad. 

Soul Fuel Bowl - 85K

Blue Moon - 75K

The creamy and juicy Soul Fuel Bowl goes very well with this vegan smoothie named Blue Moon, a blue colored smoothie that resembles a beautiful unicorn. The blue color emerges when the chef adds a spoonful of Blue Majik Spirulina into the frozen banana and frozen white dragon fruit mixture. Add some vanilla cashew cream, a touch of lemon, and some dates, then mix them all together in a blender. Finally, garnish the top of the cold vegan beverage with sliced banana, blueberries, strawberries, and shredded coconut, and voila! 

The perfect breakfast combination.

I love love love how the banana overpower the entire flavor wheel, yet managed to keep the zest of the lemon and the sweet dates alive. The mixture is very thick and heavy, but trust me, it goes so well with the Soul Fuel Bowl. 

Unfortunately, despite its’ awesomeness for being vegan, Mr. Waffle is not gluten free. I finally convince myself to declare that day as a cheat day only so that I can enjoy the vibrant desert without having to feel guilty of consuming carbs. Thank God I made the right decision. 

15 minutes in. Suddenly, I heard a soft “ding” came from where the kitchen is and I spotted one of the staff carrying a plate of purple goodness. Of course, being the curious gastronomer that I am, I am familiar with how the waffle looks like, so I quickly assume that my order was going to be served in a few minutes. 

“Permisi, Kak,” said the waitress, who paced her way to the side of my table, “satu Mr. Waffle, ya.” She placed the desert on the table and I could hear numerous “Ooooo!” and “Wow!” overleaping from where I was seated. The sight of the vegan desert was breathtakingly beautiful. 

Grilled until it was slightly brownish in color, the Shelter’s Mr. Waffle is a one stack waffle garnished with what it seemed to me like a homemade vegan whipped cream in the color of purple on top, complete with a handful of various berries on the side, and came with a small cup of honey. It was definitely a sight for sore eyes. I sliced the waffle into four pieces and I could feel the crispiness of the edges as my knife slide through the grilled dough. 

I took a big bite of one slice, complete with all the decoration provided on the place, and I was lost for words. I could definitely taste some genuine honey here and there, meaning that it was not artificial sugar with honey flavor, and a dash of cinnamon as well. The berries was very juicy and refreshing, a very nice neutralizer from all the sweet action I was getting from the cream.

The Snickers

The other day, I also had this other vegan desert from the Shelter named Snickers, which is basically a vegan version of a Snickers Cake. It looked like a regular ol’ cake, but I didn’t feel guilty after I devoured the whole thing. It was very creamy, sweet, and peanuty. The chocolate infused inside had a raw kick into it, while the crumbly bottom layer was actually crushed cashew that tasted like shortbread crumbs. Oh, and did I mention that the cake, other than being vegan, was gluten free? 

Cauliflower Fries - 25K

Chill, guys, the Shelter is not a vegan cafe, so you meat eaters can still have some beef, bacon, and eggs for breakfast here. I highly recommend you to have the Shelter Big Burger with French Fries if you want to go for something tummy-filling and and heart-warming. They also have other healthy and delicious munchies, like Cauliflower Fries, plant based waffle, and vegan Chocolate Truffles. Just don’t forget to empty your stomach before visiting the Shelter because the terms “kenyang bego” applies here. I mean it!

Shelter Big Burger with French Fries - 99K


Shelter Cafe Bali
Jl. Drupadi No. 2B
Seminyak, Bali

Opening Hours:
MON - SUN: 8AM - 6PM

Contact:
+62 361 904 118
+62 813 3770 6471



Monday, October 15, 2018

Twins Fried Chicken

Twins Fried Chicken telah membuka cabang pertamanya di foodcourt Menara Thamrin pada tanggal 3 Oktober yang lalu. Beruntung, gue diundang Mbak Sinta (salah satu pekerja di Twins Fried Chicken) untuk mencoba ayam gorengnya, yang kemudian akan gue ulas. Gue pun diperbolehkan untuk membawa seorang teman, oleh karena itu gue mengundang Anggita: indra perasa nomor dua gue (nomor satunya Ibu gue). 

Terletak di pojok dalam foodcourt, Twins Fried Chicken harus bersaing dengan kios-kios lain yang juga menjual makanan. Untungnya, hanya TFC saja yang mempunyai konsep ayam goreng siap saji, sehingga tidak ada saingan secara langsung. 




“Kami baru buka bulan Oktober ini, Kak,” jelas Mbak Sinta, “jadi belum ada cabang lain dari Twins Fried Chicken selain di sini.”. Mbak Shinta juga kemudian menjelaskan mengenai pilihan makanan yang mereka sajikan di kiosnya dengan sangat sabar dan atentif. Lalu gue menanyakan satu hal yang dari tadi membuat gue penasaran, yaitu simbol dari Twins Fried Chicken yang adalah dua gadis berpakaian baju tradisional dari Jepang dengan tulisan tahun “2005” di bawahnya. “Jadi, yang punya Twins Fried Chicken ini punya dua anak perempuan kembar dan mereka lahir di tahun 2005,” jelas Mbak Sinta. A family-oriented person, I see. 

Menunya ditulis di sebuah papan hitam menggunakan kapur berwarna. Awalnya gue sangat malas membacanya karena gue udah pusing duluan karena melihat warna-warna yang beragam dalam satu area, tapi akhirnya berhasil setelah gue paksa diri gue untuk memfokuskan pandangan. 

Gue bikin hitam putih supaya kalian nggak pusing karena terlalu warna-warni.

Ada 4 tahap yang bisa mempermudah kalian untuk menentukan pesanan apa yang kalian mau dari Twins Fried Chicken:

  1. Pilih Ukuran Makanan
Ukuran penyajian makanan di Twins Fried Chicken terbagi menjadi tiga, yaitu Single Fried Chicken (Rp15.000,00), Twins Fried Chicken (Rp28.000,00), dan Twins Fried Chicken with Rice (Rp28.000,00). Gue nggak ngerti kenapa ukuran yang kedua dan yang ketiga mempunyai harga yang sama, padahal sudah jelas lebih menguntungkan kalau pakai nasi. 

  1. Pilih Bumbu dan Tingkat Kepedasan
Sebenarnya bumbunya ada tiga macam saja, yaitu Chilli, Garlic Salt, dan Matcha. Hanya saja, bumbu Chilli tersebut mempunyai empat tingkat kepedasan, dari Level 1, Level 5, Level 10, dan Level 15. Untungnya di sini mereka menggunakan bubuk cabai, dan bukan cabai asli. Kalau cabai asli, sih, bibir gue keburu nyonyor duluan di gigitan pertama. 

  1. Pilih Saus
Kalian bisa pilih satu dari tiga saus ini untuk menemani ayam berbalut bumbu kalian. Pilihannya terdiri dari Honeymustard (my favorite sauce of all time, yay!), Barbeque, dan Salted Egg. 

  1. Pilih Minuman
Sebenarnya minuman tidak termasuk dari paket makanan Twins Fried Chicken, karena kalian tetap harus membayar beberapa lembar ribuan lagi untuk satu botol air mineral (Rp5.000,00) dan satu botol es teh manis (Rp8.000,00). 


Karena kemarin adalah hari perdana pembukaan Twins Fried Chicken, gue memutuskan untuk mencoba beberapa variasi dari bumbu-bumbu dan saus-saus tersebut agar gue bisa membuka jalan untuk kalian menikmati ayam goreng yang hanya berlokasi di Menara Thamrin ini secara optimal 

Pertama, kita bahas ayam gorengnya dulu, ya! Nah, bentuk dari ayam gorengnya sendiri itu nggak beda jauh dengan chicken popcorn, atau chicken pok pok, atau gampangnya chicken nugget berbentuk tatter tots. Pada intinya bentuknya kecil-kecil seukuran ibu jari, sehingga mudah untuk disantap dan memberikan visualisasi yang memuaskan - karena satu porsi Single Fried Chicken itu nggak terlalu banyak, tapi karena bentuknya kecil-kecil jadi terlihat berlimpah. 


Kulitnya sangat renyah dan dagin di dalamnya cukup empuk. Ayam yang digunakan adalah ayam asli, bukan ayam olahan seperti chicken nugget di McDonald, karena ada tekstur suwiran dagingnya ketika gue gigit. Hati-hati, buat kalian yang sedang diet. Nikmatnya nyemilin potongan ayam kecil-kecil yang digoreng sampai garing ini nggak ketulungan. Bisa jadi kalian akhirnya merasa kenyang, tapi di porsi keempat. 

Mengenai rasa, ada satu rasa yang ketara sekali di lidah gue dan Anggita, yaitu rasa jahe. Pedas dan hangatnya nggak terlalu terasa, tapi kami berdua yakin itu adalah rasa jahe. Mungkin itu cita rasa khas dari Twins Fried Chicken. Nggak terlalu mengganggu, kok, meskipun gue nggak suka jahe. Tapi, tetap saja terasa kuat. 

Dari berbagai macam bumbu dan saus yang disajikan di Twins Fried Chicken, gue dan Anggita memutuskan untuk memilih empat macam bumbu saja, yaitu Chilli Level 1, Chilli Level 15, Garlic Salt, dan Matcha, dan semua ketiga saus yang ada. Alasan kami memilih untuk mencoba bumbu pedas dengan tingkat yang paling rendah dan tingkat yang paling tinggi adalah agar orang-orang bisa mengira-ngira tingkat kepedasan yang mereka mau. Kebetulan Anggita kuat pedas, sedangkan gue tidak kuat. Kalau gue berhasil mencicipi bumbu pedas yang paling pedas, berarti bumbu tersebut sebenarnya tidak pedas. Kalau Anggita sampai nangis mencicipi bumbu pedas yang paling pedas, berarti orang-orang seperti gue terancam akan menyibukkan diri di kamar mandi keesokan harinya. 

Ayam Twins Fried Chicken yang sudah digoreng kemudian akan dimasukkan ke dalam kantung kertas, lalu bumbu akan ditaburkan di dalamnya, dan ayam akan dikocok-kocok di dalam kantung tersebut sampai bumbunya menempel dengan baik. Konsepnya sama seperti Shilin. Lalu, saus akan dituangkan juga ke dalam kantung kertas itu, kemudian kalian akan diberikan tusuk sate untuk menyantap makanan kalian. Karena menurut gue bumbu dan saus yang dicampur bisa merusak rasa asli dari kedua elemen tersebut, gue meminta Mbak Shinta untuk menyajikan ayam dengan bumbunya dulu, dengan saus yang dipisah agar gue dan Anggita bisa mencicipi masing-masing rasa.

Kalian masih di sini, kan? Ini, lah, saatnya untuk membedah rasa!

  1. Seasoning Level 1 (paling tidak pedas)
Pedasnya sangat sedikit, lebih ada rasa pahit dari yang gue asumsikan adalah bubuk lada. Asinnya cukup, gurihnya cukup, dan nggak terlalu berasa seperti metsin. Sangat cocok untuk kalian yang nggak kuat sama sekali dengan pedas, tapi dalam diri penasaran ingin icip-icip berhadiah keringat dan perut melilit.


  1. Seasoning Level 15 (paling pedas)
Anehnya, gue pun masih bisa menyantap ayam berbalut bumbu pedas tingkat 15 ini dengan santai. Pedasnya lebih terasa dibandingkan dengan Seasoning Level 1, tapi nggak membuat gue kepedasan. Beberapa kali sempat batuk karena rasa pedas pahit yang agak membuat kerongkongan gue kaget. Sedikit berkeringat, sih, setelah beberapa potong, tapi tetap bisa dinikmati.


  1. Garlic Salt
Ini adalah bumbu yang paling gue suka! Rasa bawangnya manis dan gurih. Agak ada rasa asam, tapi rasa asam yang enak. Gurihnya benar-benar nendang! Sangat gue rekomendasikan untuk kalian yang hobi ngegadoin bumbu kering Indomie Goreng. Rasanya nggak mirip, tapi kenikmatan dari bumbu tersebut nggak bisa dibohongi. 


  1. Matcha
Bumbu ini nggak cocok sama sekali dipadukan dengan ayam. Terlebih lagi, rasa matcha di sini adalah matcha manis, bukan matcha pahit sebagaimana rasa matcha itu sendiri seharusnya. Memang, ada beberapa sajian ayam manis yang nikmat untuk disantap, seperti Ayam Goreng Kecap, Ayam Asam Manis, Ayam dengan Saus Sechuan, tapi bukan yang satu ini. Gue cukup tersiksa dengan bumbu yang satu ini. Kalian harus coba dulu sendiri untuk setuju, atau tidak setuju, dengan pendapat gue. 


Dari sini, semuanya akan menjadi lebih seru lagi dengan adanya saus. Kombinasi rasa!

Setelah gue dan Anggita berdebat selama beberapa menit, menentukan saus mana yang cocok digabungkan dengan bumbu yang mana, akhirnya kami mendapat kombinasi yang nikmat. Tapi sebelumnya, gue akan membahas dulu masing-masing rasa dari bumbu tersebut. 

Kiri ke Kanan: Saus Barbeque, Saus Honeymustard, Saus Salted Egg

  1. Saus Barbeque 
Nama saus ini agak rancu karena di papan menu tertulisnya “Saus Original”, sedangkan di menu selebarannya bertuliskan “Saus Barbeque”. Namun, setelah gue dan Anggita cicipi, saus ini terasa persis seperti saus tomat yang diaduk dengan air. Kalian ngerti, kan, rasa saus spaghetti La Fonte seperti apa? Nah, ini dia. Hanya saja ditambahkan air dan nggak pakai daging cincangnya. Gue nggak suka dengan manisnya saus ini, tapi cukup menghibur ketika dituangkan pada potongan daging ayam goreng. 

  1. Saus Honeymustard
Meskipun rasa saus ini nggak bisa dibandingkan dengan rasa saus yang Subway punya, tetap saja gue suka banget dengan kombinasi rasa manis yang seperti madu dan rasa pedas dari saus mustard. Teksturnya cukup kental namun halus, dan warnanya kuning seperti warna saus mustard itu sendiri. 

  1. Saus Salted Egg
Jangan! Jangan pakai saus ini. Menurut gue, saus ini nggak ada nikmatnya sama sekali. Teksturnya seperti kuning telur yang dihancurkan dengan blender, kemudian dicampurkan dengan air, diaduk-aduk sampai agak kental, kemudian baru disajikan. Rasanya amis dan berminyak, tidak ada rasa manisnnya sama sekali, dan tidak ada rasa creamy seperti saat kita menyantap telur asin. Ada rasa yang tertinggal di pangkal lidah setelah gue menelan saus tersebut dan itu sangat bau dan mengganggu. Anehnya, Anggita sangat menyukai saus yang satu ini. Sekali lagi, kalian harus coba sendiri untuk berpihak pada gue, atau Anggita. 

Kombinasi yang bumbu dan saus yang paling cocok, menurut gue dan Anggita, adalah:
  • Chilli Seasoning (level berapa aja) dengan Saus Barbeque
Manis dan pedas menjadi satu, dan semakin tinggi tingkat kepedasan bumbunya, semakin nikmat ayam goreng tersebut terasa. 


  • Garlic Salt Seasoning dengan Saus Honeymustard
Kombinasi dari surga! Rasa gurih dari bawang dan manis dari madu, bercampur dengan pedasnya mustard dan asin dari garam, membuat santapan yang satu ini mempunyai konsep rasa seperti permen Nano-nano: ramai rasanya! Gue berhasil menghabiskan satu porsi ayam goreng dengan kombinasi bumbu ini sendiri. 


  • Matcha Seasoning dengan Saus Salted Egg
Anggita lahap sekali menghabiskan ayam yang ditaburkan bumbu matcha dan saus salted egg ini. Dia benar-benar nggak berhenti. Bahkan dia menggabungkan ayam dengan bumbu lain pula dengan saus terkutuk ini. Yah, mungkin dia suka rasa itu. Tapi, gue nggak. 


Setelah kami selesai menyantap sajian ayam goreng dari Twins Fried Chicken. Kami melepas dahaga dengan air mineral dan es teh manis yang disajikan dalam botol berbentuk bohlam lampu yang sangat lucu. Kedua minuman ini disajikan dingin, sangat cocok dikonsumsi setelah makan besar karena rasanya yang benar-benar segar. 


Empat porsi Single Fried Chiken dengan berbagai macam bumbu itu berhasil membuat gue dan Anggita kenyang bego. Kami bahkan nggak sanggup untuk menghabisi semua, akhirnya kami membawa pulang satu kantung. 


Lapar nggak, sih, kalian setelah membaca ulasan gue mengenai Twins Fried Chicken? Gue, kok, rasanya agak lapar, ya. Untungnya, gue masih punya Indomie Kari Ayam dan beberapa potong Ayam Bumbu Kuning di freezer yang bisa gue hangatkan untuk makan malam hari ini. Kalian makan apa?


Twins Fried Chicken
Foodcourt Menara Thamrin
Ground Floor, Stall C6
Jl. M. H. Thamrin No. 3
RT002 RW001, Kebun Sirih 
Menteng Kota, Jakarta Pusat
Jakarta 10340

Opening Hours: 
MON - FRI: 10AM - 4PM
SAT: 10AM - 2PM

Contact:


P.S. I'm so sorry for the yellow photos. I didn't have any external lightings with me and the warm foodcourt's lighting made it worst. I tried my best in editing the saturation of the photos, but my photos only turned less yellow. I'm sorry! Do visit the stall itself to experience its' true colors. 

Sunday, October 14, 2018

Cerita Terbang Hari Ini

Hari ini gue terbang dengan kapten yang lebih rela nggak sampai destinasi lebih awal demi menghindari awan besar yang membentang sepanjang ratusan kilometer, panjang atas bawah dan kiri kanan. Dari airways yang kami lalui, kami sampai harus menghindar 90 kilometer jauhnya demi nggak menabrak awan tersebut. Itu kami hanya kena serempetan buntut awannya saja, tapi goyangannya cukup terasa. Gue sampe berhenti makanin kacang saking tegangnya pegangan sama dashboard. 

Sebenarnya kami punya beberapa pilihan lain selain menghindar, yaitu naik ke flight level yang lebih tinggi, atau mantengin airways kami dengan resiko ayan masal, baik flight crew dan tamu kami yang terhormat, selama 15 menit gara-gara pesawat kena goncang. Sayangnya, flight level lainnya sudah diambil oleh pesawat lain dan pilihan kedua, kalau beneran dilakuin, adalah pilihan yang bodoh. Alhasil, gue dan kapten setuju untuk menghindari awan saja. Jauh nggak apa-apa, yang penting nggak sport jantung.

Awan itu, meskipun dari daratan dan dari jendela pesawat kelihatannya cantik dan menggemaskan, sebenarnya berbahaya. Ada tingkatan-tingkatan bahayanya, tergantung jenis awannya seperti apa. Gue akan menjelaskan secara singkat di sini bukan dengan bahasa penerbangan supaya kalian, yang gue heran kenapa sedang baca blog post gue yang ini, bisa mengerti. Yuk, simak.

Cantik, tapi mematikan.

Awan putih yang kelihatan tebal seperti bulu domba ternyata nggak seempuk yang kalian bayangkan. Awan itu berisi muatan air yang sangat-sangat berat sampai kalau sayap pesawat gue nyerempet sedikit saja dari gumpalan uap itu, pesawat gue akan berguncang sangat dahsyat. Pada saat itu, mungkin tanda sabuk pengaman yang ada di langit-langit pesawat sudah menyala dan penggunaan kamar kecil tidak disarankan. Pada saat itu juga gue tengah mencengkram pinggiran dashboard dengan tangan kanan gue, sementara tangan kiri gue sibuk mengatur kecepatan pesawat dengan FCU (kependekan dari Flight Control Unit, yang adalah deretan tombol untuk mengatur beberapa hal dalam pesawat, termasuk kecepatannya). Keringat gue sudah pasti bercucuran dan kemungkinan besar gue menjeritkan, "TUHAN YESUS PIMPIN. TUHAN YESUS PIMPIN," dalam hati.

Di pesawat gue, ada enam buah monitor yang gue pakai dalam penerbangan, salah satunya berguna untuk memantau awan. Monitor ini dinamakan ND (Navigation Display) dan ia bekerja sama dengan weather radar yang terpasang di radome (sebutan dalam dunia aviasi untuk bagian hidung pesawat, atau bagian "moncong"). Weather radar bisa mendeteksi tingkat presipitasi air pada udara, atau bahasa yang lebih gampangnya adalah uap air, yang kemudian dipresentasikan di ND dalam corak abstrak berwarna hijau, kuning, merah, dan magenta. Yang barusan gue sebutin adalah warna untuk tingkatan uap air dari rendah ke tinggi. Semakin tinggi kandungan air, semakin bahaya pula apabila pesawat masuk ke dalamnya.

Contoh gambaran weather radar pada ND. Gambar diambil dari Google.

Selama masa pendidikan, gue selalu diajarkan untuk tidak masuk awan. Setiap ada awan, menghindar. Lihat dulu situasinya, pantau melalui jendela secara visual dan pantau juga dengan weather radar. Apabila awan itu kelihatan tipis dan tidak akan menyebabkan guncangan yang terlaly kencang, nggak apa-apa kalau mau ditrabas. Tapi, kalau di monitor sudah ada warna kuning dan merah, apalagi magenta, dan saat dilihat secara visual awannya berwarna putih mengkilap dan solid bak tembok, mending cepet-cepet menghindar sebelum berabe.

Sampai di sini nggak terlalu bingung, kan? Penjelasan mengenai awan cukup sampai di sini ya, kita kembali lagi ke cerita terbang gue hari ini.

Nah, siang tadi, dalam perjalanan gue pulang ke Surabaya dari Kuala Lumpur, ada suatu area di atas Laut Jawa yang tertutup dengan awan. Awan itu sangat-sangat besar dan panjang membentang dari kiri ke kanan. Ibarat sedang main galasin dengan awan, pesawat gue harus menghindar dari hadangan awan-awan jahat itu untuk bisa menang, dan menang di sini adalah sampai tujuan dengan selamat sentosa (mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu kemerdekaan negara Indonesia, eh ini mah Pembukaan UUD 1945).

Jangan dekat-dekat, awannya "galak".

Sayangnya, ada beberapa kapten yang rela menerobos gumpalan-gumpalan awan itu demi sampai ke tujuan lebih cepat. Kalau gue dipasangkan dengan kapten bermental seperti itu, selain memberi saran untuk menghindari awan bagaimanapun caranya, gue akan tegang sepanjang perjalanan menembus awan, dengan keringat bercucuran (padahal di cockpit itu dingin, lho), kedua tangan berpegang pada dashboard, sambil menjeritkan doa dalam hati, "TUHAN YESUS PIMPIN.".

Untungnya, partner terbang gue hari ini cukup sehati dengan gue. Kami berdua sama-sama berpikiran untuk menghindari awan. Alhasil, penerbangan terakhir gue siang tadi berjalan dengan lancar. Hati tenang, perut kenyang, tidur pun tenang.

Saturday, October 13, 2018

TimTam Galore

Nona just got back from her holiday in Australia and she brought me three packs of TimTams in two different flavors, eeeppp! Despite the fact that I'm not TimTam's number one fan, I was nonetheless still excited to try out new and exciting flavors of munchies I've never tried before. 


These are special editions TimTams, you see. The flavors created was inpired from Gelato Messina, which is Australia's staple of gelato in which they produce more than 40 unique flavors of the Italian ice cream, and what I got from Nona was Honeycomb and Turkish Delight flavored. Not just the flavor, the TimTam biscuit itself was made to resemble Gelato Messina's gelato, so I had to chill them out in the freezer to bring them to their optimum state and flavor. Even the packaging was rather special as it changed its' color at low temperature - the printed words "Chill Me!" in white changed to sky blue with prints of snowflakes on it, how cool is that? 



The presentation of the chocolate covered biscuits was simple and unappealing as some of them were already melted from the rising temperature in Bekasi. I sliced each flavored biscuits into half and found the treasure that lied within. 

I first tried the Honeycomb flavored TimTam. The fillings had this mocha color, making it seemed like a tiramisu flavored instead of honeycomb. There was no bubble-like texture in the fillings mimicking a honeycomb, it was just plain smooth cream. To be honest, it looked rather dull, but then I took a bite and my mouth bursted with the sweetness of honey. 


The chocolate coating was already sweet, making a great combination with the chocolate biscuits that had a hint of bitter dark chocolate here and there. It already screamed, "DIABETES ALERT!", then there's the honey-flavored fillings that add an extra sweetness to your tastebud. It tasted very similar to Cadburry's Crunchie bar, but without the honeycomb toffee texture. I'm giving this flavor an 8 out of 10 because I'm a sucker for delicious sweets.

Then, it was time for me to try the other flavor, the Turkish Delight. Very unique choice of flavor, don't you think? I was skeptical on how they're going to implant the texture of a Turkish Delight into a chocolate biscuit sandwich without ruining the originality of both snacks but, then again, I took a bite.



The chocolate biscuit was sandwiching a pink cream that tasted like milky strawberry milkshake, and in the middle of that pink cream (which was frozen because I kept my TimTam in the freezer overnight) was a sweet strawberry-davored hard toffee-like transparent gummy in the color red. It's the Turkish Delight, I thought to myself, they owned it. The Turkish Delight had the gummy texture like how Turkish Delight supposed to have, and it tasted amazing too combined with the whole chocolaty goodness. Weird flavor combo, but it worked out just fine. I was blown away.


Both flavors tasted amazing, and if I had to choose which flavor is my favorite between these two, it would be the honeycomb one. Although the flavor combination can be pretty awesome, I'm just not that into chocolate and strawberry tangled with each other. Not Godiva's chocolate coated strawberries, though! They're just to die for.