Monday, March 26, 2018

Duren Pak Lubis

Kembali lagi gue di Medan, dengan sasaran duren baru yang letaknya nggak terlalu jauh dari hotel tempat gue menginap. Kurang lebih 15 menit kalau naik mobil jemputan dari Wings Hotel, lurus terus sampai ketemu Markas Brimob dan lapangan luas, putar balik, melipir ke kiri sedikit, nggak lama kemudian sampailah ke sebuah warung sederhana berhias tumpukan duren di depannya. Entah nama resminya apa, tapi gue dan teman-teman AirAsia gue menyebutnya Duren Pak Lubis.



Harganya nggak terlalu mahal, satu buahnya ada yang Rp30.000,00 ada juga yang Rp35.000,00. Pak Lubisnya sendiri lah yang akan memilihkan durennya dan kita bisa mencoba dulu sebelum memutuskan untuk mengambil duren tersebut. Manis kah, kurang manis kah, terlalu bersoda kah, busuk kah, atau terlalu pahit pun, kalau rasa durennya nggak sesuai dengan selera kita, duren tersebut akan digantikan oleh Pak Lubis. Dengan suara lantang dan logat khas Medannya, Pak Lubis akan menemani kita menyantap durian selayaknya teman.


Pak Lubis ini sudah berjualan durian sedari beliau belum mempunyai anak. Dan sekarang anaknya yang paling tua sudah berumur 30 tahun. Lucunya, meskipun Pak Lubis ini penjual durian, beliau tidak suka durian.

Dibandingin dengan Dedi Durian, Durian Pak Lubis ini lebih montok, lebih cantik tampilan daging duriannya, dan varian rasa duriannya lebih bermacam-macam. Kebanyakan manisnya lebih kental dibandingin dengan Dedi Durian, tapi lebih sedikit bersoda juga. Jangan dibandingin dengan Lambok Durian kalau masalah soda, Lambok Durian sudah terjamin menangnya.


Meskipun hati gue lebih memihak kepada durian empunya Pak Dedi, gue pun bisa menikmati durian dagangan Pak Lubis. Jelas, sudah 4 durian dibuka malam ini dan gue makan dengan lahap. Selamat tinggal, diet.

Saturday, March 17, 2018

Nastar Medan ala Dapur Reuni

Mohon maaf atas judul yang sangat tidak mengundang ini, kekreativitasan gue sudah gue kerahkan seluruhnya untuk mengedit video sedari jam sembilan pagi tadi. Video apa, kalian tanya. Tunggu tanggal mainnya, ya. 

Biasanya gue senang didinaskan di luar Jakarta, tapi entah kenapa, posting Medan kali ini rasanya lama banget. Rasanya seperti di konsinyir (istilah yang kami, mantan taruna dekil bau matahari, pakai yang artinya adalah dihukum tidak boleh pulang ke rumah). Meskipun tidak terlalu ngefek ke performa terbang gue, tetep saja lebih enak terbang dengan kondisi hati dan pikiran yang positif dibandingan dengan kondisi mental yang butek. 


Dan, biasanya, diet gue berjalan dengan lancar. Gue bisa menahan lapar seharian dan berujung hanya makan satu porsi capcay seafood dan empat potong tahu goreng isi. Tapi kali ini, gue rasanya ingin membatalkan diet gue dan memakan segala makanan yang mau gue makan. Untungnya gue masih bisa menahan untuk nggak mengunyah nasi dan roti, tapi sayangnya iman gue kurang kuat untuk menahan godaan Nastar Medan buatan Dapur Reuni ini.

Pertama kali gue mencoba nastar yang ukurannya hampir setengah telapak tangan gue ini adalah ketika posting Medan terakhir gue dengan Kapten Aditya Hergiantomo. Di tengah perjalanan kami dari Padang menuju Singapura, beliau mengeluarkan kotak kecil bernuansa kuning berhiaskan buah nanas. "Nan, ayo, Nan," kata beliau. Berat rasanya untuk menolak, karena gue sedang diet karbohidrat dan gula, tapi orang mana yang menolak rezeki, kan? 


Gue ambillah satu buah. Awalnya gue agak kaget dengan bentuknya yang tidak sekecil nastar pada umumnya. Lebar, bos! Udah lebar, padet pula. Dalam hati gue menenangkan diri, wes nggak apa-apa. Makan kue satu nggak bakal naik lima kilo juga, kali! Pas banget gue tengah kelaparan, akhirnya gue buka bungkusannya dan gue cemilin. Jujur, gue eman-eman, karena enak banget. 

Dibandingkan dengan Kue Nastar yang biasa kita makan saat lebaran, Nastar Medan ini berbentuk lebih besar, agak lebih pipih, lebih berhias dan menarik perhatian, dan termasuk padat. Adonan kuenya tidak gampang rontok, begitu juga dengan taburan keju panggang di atasnya. Dan, Nastar Medan ini tidak hanya sekedar dibentuk bulat, tapi ada tanduk-tanduk kecil di sekelilingnya yang membuat kue tersebut terlihat seperti landak (atau sisik di kulit dinosaurus. Pilih mana?). 

Isinya, seperti biasa, nanas. Manisnya tidak berlebihan, pas, seperti selai nanas yang biasa Ibu buat di rumah dulu saat beliau masih rajin membuat Kue Nastar. Selainya pun tidak terlalu basah, pas di lidah, dan serabut-serabut buah nanasnya cukup kenyal. Jujur, gue suka banget sama Nastar Medan ini. Lebih dari Kue Nastar yang biasa Ibu beli di Pasar Sumberarta menjelang Lebaran. 

Satu kotaknya isi empat buah kue dengan harga Rp18.000,00. Memang agak mahal, tapi cukup menyenangkan hati untuk dicemilin sendiri, ataupun dibawa ke rumah sebagai oleh-oleh. Ini aja gue udah gagal diet gara-gara nggak kuat untuk ngegayem sebiji. 



Friday, March 9, 2018

Posting di Medan

Adalah sebuah kebahagiaan tersendiri kalau gue dikasih jadwal untuk dinas di Medan. Selain dari makanannya yang ciamik, yang berhasil membuat gue naik beberapa kilo, gue pun bahagia karena gue menjalani kehidupan yang gue impi-impikan dari dulu: terbang, jalan-jalan, dan dibayar; belum lagi dikasih tempat tinggal dan air hangat untuk mandi. Ngantongin beberapa kilo lemak saat pulang ke Bekasi sih setimpal harganya dengan pengalaman yang gue dapet di sini, belum lagi rasanya senang banget ketika gue pulang ke rumah dan bawain Ibu gue satu kotak Meranti rasa Keju Keju. Nggak sampai lima hari, itu kue ludes dicemilin sama Ibu gue (segitu doyannya sama Meranti), padahal beliau jarang banget makan.

Beberapa bulan yang lalu, saat pertama kali gue didinaskan di Medan, belum ada penerbangan direct ke Kualanamu dari Jakarta. Gue harus singgah sebentar di negara tetangga untuk pindah pesawat karena saat itu cuma baru ada penerbangan rute KUL - KNO saja. Tambah seneng, dong! Beberapa jam di Kuala Lumpur sih cukup untuk gue jajan paket makan siang dari Subway dan semangkuk Laksa bikinan Yong Tau Fu. Setelah kenyang jajan, gue pun segera memasuki pesawat yang akan membawa gue ke Kota Melayu Deli.

Bukan Laksa, tapi semangkuk bakmi dengan kuah kari, lengkap dengan beberapa potong gorengan dan bakso ikan yang boleh gue pilih sesuka hati. Kalau nggak salah harganya hanya sekitaran 16RM, tapi gue sangat teramat puas dan kenyang. Asli, kental dan gurih karinya ngalahin Indomie Kari Ayam yang gue dewa-dewakan. Pas baru jadi sih masih panas banget, lidah gue sempet melepuh karena gue paksa makan saking nggak kuatnya nahan air liur yang udah rembes, tapi nggak menyesal sekali pun. 

Ini gue jajannya di Yong Tau Fu, terminal KLIA2, saat mau menuju gate Q untuk boarding ke pesawat gue. Jajannya bareng salah satu kapten gue yang kebetulan saat itu satu pesawat dan akan dinas di Medan juga. Halo, Capt. Novan! 



Sesampainya gue di Kualanamu, seperti biasa gue linglung dan celingak-celinguk karena terlalu bersemangat dengan suasana baru tapi buta arah mengenai gue mau ke mana, sama siapa, dan naik apa. Untuk ke flops (gue nyari di kamus nggak nemu arti dari flops apa, itu pun bahasa Inggris atau bahasa Indonesia pun gue nggak tau, tapi artinya adalah kantornya pilot. Tolong dikoreksi kalau salah, ya.) AirAsia pun gue susah karena nggak ngerti dengan arahan, "Hmm, aduh gue bingung ngejelasinnya, Kin. Pokoknya di situ, deh!" dari salah satu rekan kerja gue. 

Untungnya, entah kenapa gue beruntung banget jadi orang, gue ketemu adik-adik asuh gue semasa masih tinggal di barak: Rury, Dinda, dan Vivi. Mereka lagi OJT (On the Job Training) di Medan untuk enam bulan ke depan. Astaga, senangnya nggak karuan ketemua wajah-wajah yang dikenal di tempat yang sangat sangat asing. 

Tapi, itu masih penempatan dinas gue di Medan yang pertama. Di dinas gue yang kedua, ketiga, dan keempat, gue mulai berasa nyaman dan kenal dengan seluk beluk Kualanamu yang kecil dan tergolong sepi ini. 


Di hotel tempat gue menginap, ada sebuah toko oleh-oleh yang isinya segala macem ada. Ya Keripik Pisang Kepok asal Lampung, ya Meranti, ya Gudeg khas Jogja, ya mecin-mecinan asal Bandung, semuanya ada! Gue sampai bingung, dan sedikit kesal karena gue hampir saja ngeluarin Rp36.000,00 untuk sekaleng Gudeg, saking lengkapnya tempat oleh-oleh ini. Namanya HUB, cuma jalan 10 menit dari kamar gue. 

Karena bingung mau jajan apa saking banyaknya, akhirnya pilihan gue tertuju pada es krim yang ternyata adalah produk asal Medan dengan nama Pop Eyes Popsicle. Varian rasanya lebih dari sepuluh, dari yang buah-buahan sampai yang rasa kekinian, seperti Thai Tea, Green Tea, Cookies and Cream, dan Strawberry Yogurt. Hanya dengan tiga lembar kertas jingga bergambarkan Tuanku Imam Bondjol, gue bisa menikmati jajanan dingin ini di bangku depan HUB ditemani dengan sekotak Ice Blast. 

Awalnya cuma satu rasa yang gue beli, si putih susu Strawberry Yogurt yang ternyata adalah frozen yogurt yang dihiaskan dua potong buah stroberi tipis di permukaannya. Rasanya kecut manis, selayaknya rasa susu yang diolah sedemikian rupa untuk menjadi yogurt. Buah stroberinya pun kecut, tapi tetap enak untuk dicemilin. 

Tapi, rasanya nggak afdol kalau nggak nyobain apapun yang berjudul "Cookies and Cream", jadi lah gue beli lagi. Bukan yogurt, tapi krim rasa vanilla yang dilengkapi dengan kepingan biskuit Oreo. Juara, sih, es krim yang satu ini. Tapi, tergantung selera kalian yang mana, pasti itu yang paling enak.





Pernah ada saat di mana gue dan dua teman seangkatan gue didinaskan di Medan di waktu yang bersamaan. Namanya Aloy dan Sage. Dengan bermodalkan mobil antar jemput dari hotel, kami bertiga berhasil meninggalkan kawasan penginapan dan mencicipi makanan lokal warga sekitar. Yang pertama sudah pasti Dedy Durian, tempat langganan durian seluruh crew AirAsia yang menginap di Wings Hotel. 

Penawaran tiga buah durian untuk harga Rp90.000,00, sih, menurut gue nggak terlalu mahal kalau mau dibandingin dengan di Jakarta, ya. Pernah gue beli durian di toko buah yang cukup dikenal oleh banyak orang dan durennya nggak manis blas. Mau tau berapa harganya? Kembalian dua puluh ribu dari selembar seratusan. Kesel nggak jadi gue? 

Di Dedy Durian ini, durennya manis dan lembut. Nggak terlalu pahit dan nggak terlalu beralkohol, pas banget untuk gue. Saking bersemangatnya, gue sampai lupa hitung berapa potong yang udah gue makan. Di saat Aloy dan Sage menyenderkan badan di kursi sambil ngelus-ngelus perut, gue masih bertahan dengan durian yang gue makan. "Mau tambah, kak," tanya salah satu abang penjualnya. "Tambah satu, bang," gue balas, yang kemudian disambut dengan ekspresi "Gila lo masih kuat?" dari Aloy. 






Malam kami belum berakhir di situ. Setelah puas dengan durian Dedy, kami menelusuri beberapa meter jalan Batang Kuis untuk mencari makanan khas warga lokal lainnya. Sayangnya, nggak banyak pilihan di daerah sini, dan kebanyakan makanannya adalah makanan kaki lima yang mungkin ada juga di Jakarta. Seperti Sate Padang, contohnya. Meskipun dagingnya kecil-kecil, dan tempat jualannya bersebelahan dengan tukang jual bensin enceran, Sate Padang ini cukup gurih dan enak untuk dicemilin. 

Satu porsinya isi sepuluh tusuk dengan beberapa potong lontong, taburan bawang goreng, dan sejumput kerupuk berwarna merah jambu yang jarang sekali gue lihat. Nggak kenyang, sih, meskipun kalau satu porsi dimakan sendiri. Potongan dagingnya kecil-kecil banget, ngalahin kecilnya Sate Taichan. Kelingking gue aja lebih gemuk daripada sate ini. 



Belum puas dengan durian dan Sate Padang, kami mampir lagi di salah satu tempat makan yang menjual bakso. Bakso Mas Tori namanya, tempatnya kecil dengan penerangan yang sederhana, namun cukup. Nggak banyak pelanggan yang tengah memesan bakso di tempat makan Mas Tori ini, sehingga kami bisa mendapat meja dengan gampangnya. Rasa kenyang di perut bukanlah halangan bagi rasa penasaran akan makanan khas Medan, tapi kami sadar diri dengan rasa begah yang mulai memuncak, akhirnya pilihan makanan tertuju pada semangkuk bakso seharga Rp6.000,00. "Eh, tambahin semur, lah," saran salah seorang diantara kami bertiga yang gue lupa siapa. Jadi, lah, gue mengeluarkan sekeping seribuan dari kantung celana. 

Kalau mau dibilang makanan khas Medan, sih, bukan, ya. Bakso Semur ala Bakso Mas Tori ini sepertinya sama saja dengan bakso mas-mas dan abang-abang lainnya yang bisa kalian temuin di Jakarta, atau di daerah rumah kalian. Nggak ada yang spesial dari bakso ini, terlebih lagi semurnya. Hanya sedikit memuaskan rasa penasaran kami. Untungnya rasa sebanding dengan jumlah uang yang dikeluarkan. 



Makan. Makan. Makan terus. Selain makanan, rute terbang dari Medan pun memberikan gue kebahagian yang nggak bisa gue dapat kalau dibandingkan dengan rute terbang Jakarta. Pemandangannya cantik, banyak yang dilihat, cuacanya kebanyakan cerah meskipun kadang suka berawan, jarang sekali ada badai, rekan kerja yang sangat ramah, dan, yang paling utama, gue bisa bertegur sapa dengan kawan-kawan gue yang ada di Rengat.

Rengat itu adalah markas kedua STPI. Dengan alat navigasi bernama AD (baca: Alpha Delta), gue bisa tahu di mana letak Bandar Udara Japura yang sekarang tengah dihuni dengan beberapa penerbang angkatan 68, instruktur-instruktut favorit gue, dan pentolan ATC (Air Traffic Controller) bernama Bang Jimmy. 

Baru saja kemarin, ditengah perjalanan gue dari Kualanamu menuju Palembang, gue berhasil menghubungi Bang Jimmy di frekuensi 118.2. "Japura Japura PK-AXV radio check how do you read me," ucap gue dengan semangat dari ruang kemudi. Kapten gue, yang adalah alumni Curug seperti gue, pun semangat menunggu balasannya dari sebelah gue. "PK-AXV Japura reading you clear ma'am," balasnya. Sayangnya pembicaraan kami terhenti karena ada tabrakan antar frekuensi. Patah-patah gue mendengar, "Kinan, kah?" dari radio. Langsung gue menengok ke kapten dan menjerit, "Kep kep bisa kep!". Ternyata itu benar Bang Jimmy. Hutang kontekan udah saya bayar ya, Bang! 


Pernah juga waktu dinas gue di Medan yang ke.. berapa, ya, lupa. Gue menerbangi rute perdana KNO - SIN - PDG dengan Kapten Gerardus Rahyanto. Seketika kami mendarat di Medan, pesawat kami disambut dengan water salutation atas berhasilnya penerbangan perdana kami. Di kanan kiri pesawat ada sepasang mobil pemadam kebakaran yang menyemburkan air dengan cantiknya, menghujani pesawat kami. Lumayan lah, cuci pesawat. Dan ketika kami turun sebentar untuk mengurus dokumen imigrasi, beberapa staff AirAsia tengah merayakan keberhasilan rute perdana ini di salah satu restoran yang ada di bandara. Namanya Sabana. Gue dan kapten gue dijajanin satu kota nasi dengan sayur dan lauk pauk masing-masing. Nggak mau rugi, gue ambil telur dadar, rendang, sayur daun singkong, dan tumis toge. Sepulangnya gue ke rumah dan berkaca, gue merasa jijik dengan tambahan lemak di pinggang.


Banyak makanan khas daerah yang berhasil gue cicipi langsung dari tempat asalnya semenjak gue pecah telur memakai bar dua. Baik itu Gudeg dari Jogja, lumpia dan tahu bakso khas Semarang, batagor dari Bandung, Rujak Kolam asal Medan, Nasi Pedas Bali saat terbang ke Denpasar, semua sudah gue cicipi. Masih banyak daftar makanan yang belum gue coba. Tapi, akhirnya gue kesampaian untuk mencoret Pempek asal Palembang dari daftar tersebut. 

Hari yang sama di mana gue berhasil menghubungi Bang Jimmy di frekuensi 118.2, gue mencicipi Pempek asli dari Palembang. Capt. Aditya Hergiantomo, salah satu kapten yang gue kenal doyan makan, doyan ngopi, dan doyan menjelajahi sesuatu yang baru. Setelah kami mendarat di Palembang, Kapten Adit seketika meninggalkan gue di ruang kemudi untuk waktu yang nggak sebentar. Balik-balik, beliau membawa satu kantung besar berisikan dua mangkuk Pempek dan satu kemasan jumbo Kerupuk Palembang. "Nih, Nan," kata Beliau sambil menyodori gue mangkuk plastik bertuliskan "Beringin". Orang paling baik di dunia ini adalah orang yang memberikan gue makanan. Titik.

Pempek yang dibeli di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II ini nggak digoreng, melainkan dikukus dan dihangatkan kembali di Microwave sebelum dibungkus dalam mangkuk plastik. Disajikan dengan sangat sederhana, hanya Pempek dan bumbunya yang diplastikin, Pempek ini tetap saja berhasil membuat gue bersimbah air liur saat membuka tutup mangkuknya. Nggak kenyal, cukup lembut untuk dikunyah, dan berisikan telur yang cukup manusiawi besarnya untuk yang Pempek Kapal Selam. Enak dan mengenyangkan, meskipun nggak renyah karena nggak digoreng sebelumnya. Bumbunya pedas dan kecut, beda dengan bumbu Pempek lainnya yang pernah gue makan sebelumnya. Udah pasti Pempek ecek-ecek yang gue beli di Bekasi kalah keasliannya kalau dibandingkan dengan yang ini. 




Selain Dedi Durian, ada lagi tempat makan durian yang digemari warga sekitar, tapi nggak banyak orang yang tahu, yaitu Lambok Durian di daerah Tembung. Malam itu, gue memberanikan diri untuk memesan Go-Car dan pergi ke Tembung dengan dua adik asuh gue, Rury dan Dinda. Vivi nggak bisa ikut karena waktu itu harus menunggu senior jurusannya yang tinggal satu rumah. Hampir tiga puluh menit perjalanan dari Batang Kuis ke Tembung, dan gue berpura-pura menjadi salah satu dari komplotan taruni OJT seperti Rury dan Dinda karena gue nggak mau orang tahu bahwa gue adalah pilot. 

Tempatnya kumuh, seperti pasar basah yang biasa didatangi Ibu-ibu di pagi hari. Durian bertaburan di tanahnya, dari yang paling kecil sampai yang sebesar bayi baru lahir. Kursi dan meja tersedia untuk pelanggan yang mau makan di tempat. Abang-abang penjualnya masih muda-muda dan pintar sekali membujuk. "Kak, mau durian, kah? Ayo lah duduk Kak, nanti saya pilihkan yang enak. Boleh ditukar, kok, kalau tidak enak," ucap salah satu dari mereka. "Murah saja ini, Kak, tiga buah seratus ribu. Boleh ditukar, kok, kalau jelek." Gue langsung jongkok di tempat dan memilih durian mana yang mau gue nikmati.

Tiga durian sudah gue pilih dan ukurannya besar-besar. Dagingnya lebih kuning kalau dibandingkan dengan durian dari Dedi Durian. Empuk-empuk, lebih sedikit beralkohol dan sedikit lebih pahit. Favorit gue tetap saja Dedi Durian, tapi durian dari Lambok Durian ini juga nggak kalah enaknya, tentu saja dengan ciri khas rasa yang berbeda dari kedua tempat santap durian. Ujung-ujungnya kami bertiga berhasil menghabiskan, kurang lebih, satu buah durian masing-masing dan pulang ke hotel dengan celengnya. 




Lihat betapa bahagianya muka gue di foto ini? 




Ada kalanya saat malas datang menyerag dan gue sama sekali nggak berhasrat untuk meninggalkan kamar. Alhasil gue memesan makanan yang disediakan hotel, seperti sore ini. Semangkuk Capcay Seafood dan satu porsi Tahu Gejrot yang hanya menghabiskan tiga perlima dari selembar seratus ribu, yang hanya tersisa beberapa lembar lagi di dompet gue. Itu pun udah termasuk pajak. Cukup manusiawi, kok, untuk ukuran makanan hotel.

Capcay Seafoodnya seperti nggak mengandung makanan laut karena hanya ada dua potong udang dan beberapa potong cumi. Gue bahagia karena taburan bawang gorengnya yang melimpah. Cukup gurih, cukup memuaskan kehausan gue akan mecin dan bumbu yang enak, dan cukup mengenyangkan. Yang disayangkan adalah bahwa udangnya nggak dibersihkan dengan baik. Punggungnya masih menyimpan kotoran yang seharusnya dibuang. Tapi, karena lapar, tetep aja gue telan. 

Tahu Gejrotnya lebih seperti tahu isi goreng tepung. Bumbunya pun bumbu kacang, bukan bumbu pedas manis berbasis gula jawa. Lebih gue suka kalau dibandingkan dengan Capcay Seafood-nya. 



Tentu saja gue harus berbagi kebahagiaan dengan orang rumah. Nggak lupa gue memenuhi salah satu tas yang gue bawa dengan beberapa kotak Meranti dan beberapa kotak Bika Ambon Zulaikha. Pernah gue juga membawa dua kantung Kerupuk Jangek Balado (atau nama lainnya Kerupuk Kulit) dan membaginya dengan bibi di rumah, juga sekantung Kopi Medan yang gue oleh-olehkan untuk salah satu teman gue yang lagi gemarnya kopi single origin. 

Beberapa hari lagi gue pun akan pulang. Agak sedih, tapi untungnya akhir bulan nanti akan ada lagi jadwal dinas di Medan. Tunggu, ya.