Wednesday, February 28, 2018

Starbucks' Bottled Diabetes

As much as I love Starbucks, I'm pretty sure that this drink will be the death of me. The sight of this bottled frappuccino may be very beautiful and attractive, but I bullshit you not, what contained on the inside is not as good as what it looks from the outside. 


Too sweet, too instant, and too expensive. The more I drink it, the more I can feel diabetes building up inside of my body. This Starbucks' beverage is just plain sugar with a dollop of milk and a drip of espresso. Even by the first sip, I can already taste that something's not right with this drink. It's too sweet, even for my liking! I told my Mom to take a few gulp just to make sure that my tastebud is not overreacting, and yet she shared the same opinion as me. 

I actually bought two of them, this one is the Starbucks' Bottled Coffee Frappuccino Coffee Drink, and the other one is the Starbucks' Bottled Dulce de Leche Frappuccino Coffee Drink in which I forgot to take picture of before I drink it so it didn't make it to this particular blog post. But, despite all that, there was hardly any significant differences from each products; same artificial sweetness, same diabetes. My cousins and aunt tried a gulp each as well and they made the same sour face despite this drink being sweet as hell. "Too sweet," they said.

I don't think it's worth spending Rp36.000,00 for a bottle of diabetes. Sure, there's the bitterness from the coffee and the creamy texture of milk, but there was just way too much sweetener in this bottle. Don't get me wrong, though. I mean, if you are fond of coffee and are looking for some serious coffee business, you might as well go to a nice coffee shop anywhere that serves manual brewed coffee and asked the barista to make you a cup with its' best single origin coffee. It ought to be cheaper and nicer. But, if you are just drinking coffee for the sake of lifestyle, be it Starbucks, then help yourself. 



Saturday, February 10, 2018

A Lingering Thirst of Thai Milk Tea

An honest opinion regarding this new milk tea beverage from Ichitan: it's nice. Really!

Just last night, my best buddy Bernhard and I went to have a late night munchie at Kacamata Restaurant. I would say it was more of a pretty late dinner rather than a late night munchie, tho. We had a feast! Two portion of plain rice and half a portion of hainan rice, an ounce of siobak - as well as chasio - a thousand century egg, siomay, a couple of pork meatball, and some tofu skin roll. All of those and we finished them all. Can you imagine? We were pretty much as stuffed as a Thanksgiving turkey. 

After our feast, we headed home and made a quick pitstop at the only Indomaret that opens for 24 hours in our neighborhood. Bern dashed to the beverage section and grabbed two bottle of this nice cappuccino colored drink. "You have to try this," he said, "it's so good!". 


This newcomer from Ichitan holds the concept of a beverage from the Land of the White Elephants that, I believe, we all are familiar with. Yes, you answer correctly, it's thai milk tea! 

The drink is very milky and quite thick, compared to other bottled thai milk teas that I've tasted before. It may be a little bit too sweet, even for my liking, because I could taste the sugar kick the moment the thick brown liquid made contact with my taste buds. Those who are not fond of overly sweet drink may not favor Ichitan's Thai Milk Tea at all. Most of the time, it tasted of how a thai milk tea would taste like, but at some points it tasted like caramel. A very milky and thick caramel. I'm not a big fan of the aftertaste, which is quite sour and it leaves you with this lingering thirst that urges you to drink more. But, all in all, it's still good. 

Monday, February 5, 2018

Eggs Benedict by the Shelter

Yak, masih seputar Bali!

Kali ini adalah dinas gue yang kedua di Bali. Saat itu, keadaan mulai membaik dan gue sudah mulai keluar dari zona nyaman gue. Pagi dihari ketiga gue dinas, gue memutuskan untuk sarapan di luar. Ada tempat makan di atas Nalu Bowl, di daerah Seminyak, yang cantik dan Instagramable banget, namanya Shelter. Waktu itu pernah gue mampir ke sana, tapi belum kesempatan untuk nyoba makanannya karena saat itu gue tengah tergila-gila sama yang namanya Smoothie Bowl. Nah, mumpung gue baru gajian dan lagi pingin-pinginnya makan sesuatu yang ada rotinya, pergilah gue ke Shelter dianterin Bapak.

Masih jam sembilan pagi ketika gue sampai, tapi tempatnya sudah ramai pengunjung, baik penduduk lokal maupun tamu dari negara lain. Gue langsung menempati salah satu tempat duduk yang menghadap keluar (gimana ya jelasinnya, bayangin kursi dan meja bar tapi nggak ada tembok untuk ditatap, melainkan langsung pemandangan luar. Nah, iya begitu!) dan memilah-milah buku menu. Gue sangat menikmati waktu me-time gue saat itu. Sampai lupa kapan terakhir gue bisa merasa tenang dengan pergi sendirian ke suatu tempat. "Mbak, saya mau Eggs Benedict extra Smoked Bacon, ya," ucap gue ke salah satu staff Shelter.


Eggs Benedict ala Shelter ini dipresentasikan dengan cukup sederhana dan nggak neko-neko: dua buah english muffin yang dihias dengan danish ham dan telur rebus diatasnya, dilumuri saus hollandaise yang mengkilat dan ditaburi daun peterseli; dan tetap cantik! Di sisi piring ada dua lembar smoked bacon yang tadi gue pesan, dan ukurannya lumayan tebal dan panjang. Which is good! 

Di mana-mana Eggs Benedict itu, pada intinya, adalah roti pakai telur rebus. Tapi, yang membuat Eggs Benedict Eggs Benedict adalah saud hollandaise-nya. Saus ini terbuat dari kuning telur dan air buah lemon yang diaduk sampai agak matang diatas panci kukus. Ngaduknya harus pas, nggak boleh terlalu kencang, nggak boleh terlalu pelan. Kalau salah ngaduk, sausnya bisa pecah, atau bisa juga terlalu encer, dan nggak akan kental dan cantik seperti foto di atas dan gif di bawah. Pernah sekali gue bikin Eggs Benedict di rumah dengan bahan seadanya, dan hasilnya ciamik.

Eggs Benedict dari Shelter tidak mengecewakan, cukup mengenyangkan, dan rasa saus hollandaisenya pun nggak jelek. Pilihan tepat adalah untuk menambahkan beberapa potong smoked bacon ke dalam sajian makanan gue, karena rasa gurih dari daging babi itu membuat keseluruhan sarapan gue menjadi lebih nendang.



Shelter Cafe Bali
Jl. Drupadi No. 2B
Seminyak, Bali

Opening Hours:
MON - SUN: 8AM - 6PM

Contact:
+62 361 904 118
+62 813 3770 6471



Posting di Bali

Beberapa waktu yang lalu, gue sempat didinaskan di Denpasar, Bali, selama lima hari. Waktu itu sih gue merasa terbebani dengan penggilan tugas seperti itu, tapi gue tau di dalam diri gue yang sesungguhnya bahwa gue senangnya bukan main. Men, akhirnya gue ngejalanin apa yang gue impi-impiin sedari gue masih ngerayap di STPI, pikir gue, I'm finally living my dream! Tapi, karena satu dan lain hal, gue memilih untuk nggak banyak kelayapan keluar dan memingit diri sendiri di kamar hotel yang disediain oleh perusahaan tempat gue bekerja sekarang. Untungnya, Indonesia zaman sekarang sudah jauh lebih canggih dibandingkan Indonesia zaman penjajahan Belanda, jadinya gue nggak usah khawatir bakal kelaparan. Yak, gue yakin lo ngerti apa yang gue maksud: Go-Food!

Anggepan gue saat dinas di Bali adalah, "Kalau Kartini aja bisa hidup dipingit, berarti gue juga bisa!". Hmm, agak tolol memang, ya. Gue kerap kali menghibur diri dengan pemikiran bahwa lebih kasihan Kartini, karena pada zamannya dulu dia nggak ada kemewahan seperti aplikasi Go-Food dan Grab-Food yang bisa nganterin makanan enak-enak ke rumahnya selagi dia di pingit. But, who am I kidding, right? 

Akhirnya, selama lima hari tersebut, gue makan pakai Go-Food; keluar kamar hanya untuk terbang dan kalau gue butuh banget untuk ngambil uang di ATM seberang hotel, lain dari itu gue mengurung diri di kamar. Nggak banyak varian makanan yang gue pesan melalui Go-Food karena fokus gue hanya tertuju pada satu hal: Nasi Campur, dan nggak sembarangan nasi campur, saudari-saudariku, melainkan Nasi Campur Babi. 


Babi Guling Candra - Nasi Babi Guling Spesial 50K

Langganan gue setiap gue ke Bali. Hukumnya wajid, kudu, harus untuk ke Babi Guling Candra. Nasi Babi Guling Spesial adalah nama salah satu menu makanannya dan harganya hanya Rp50.000,00 saja. Satu kotak Nasi Campur itu terdiri dari, obviously, berbagai macam lauk babi guling, sayur daun singkong, serta bumbu genep. Ada pun lauk-lauk lainnya yang nggak babi-related, seperti halnya sate lilit ikan dan jeroan ayam goreng kering. Lain dari itu: sate babi, daging babi panggang, kulit babi panggang, lawar, sup kaldu babi, urutan (sosis yang terdiri dari darah dan campuran potongan dari babinya itu sendiri), kalian sebutin lah pokoknya, ada semua dalam satu kotak mahadahsyat tersebut.

Asli, kalau gue hidup di zamannya Kartini yang serba pingit dan dikurung, gue nggak masalah kalau makanan sehari-hari gue kayak begini.

Enaknya nggak perlu ditanya, ya. Gue berusaha, gimana caranya, supaya gue bisa dapetin siraman rasa dari semua lauk-pauk yang ada di kotak itu dalam satu sendok. Sering kali gagal karena kepenuhan dan mulut gue nggak muat untuk menampung sepotong-sepotong dari semuanya, tapi tetap enak dan membahagiakan. Yang selalu gue eman-eman (bahasa Jawa yang artinya "disayang-sayang") adalah urutan. Urutan is lyfe!




Warung Babi Guling Bu Made Sekar - Nasi Babi Guling Komplit 30K

The same kind of food like the one above, tapi ini versi pinggir jalan dan lebih kampungnya. Nasi Babi Guling Komplit ala Warung Babi Guling Bu Made Sekar, dijual di pinggir jalan seberang Pasar Kuta dan baru dijual diatas maghrib sampai sedikit lewat tengah malam. Jatuhnya lebih mirip nasi Warteg, ya, di mana nasinya ditumpuk dengan segala lauk pilihan konsumer kemudian dibungkus kertas minyak dan dikaretin. Sangat sederhana, sangat seadanya, tapi jangan berani-beraninya kalian menilai makanan ini dari tampak luarnya. Tampang pembungkusan boleh kalah dengan Babi Guling Candra punya, tapi rasanya bersaing, bung!

Yang paling gue senangin dari nasi bungkus ini adalah gorengan babinya. Ya Tuhan, mantepnya nggak ada yang nandingin sejauh ini! Para pembaca sekalian mungkin agak kesusahan memilah lauk apa namanya apa di gambar di bawah ini karena semuanya ditumplekin jadi satu. Kalian bisa ke halaman ini untuk membaca secara keseluruhan mengenai Warung Babi Guling Bu Made Sekar.



Babi Guling Sari Bhuana - Nasi Campur Spesial 45K

Setiap hari gue makan Nasi Campir Babi, bayangin, gimana gue pulang-pulang ke Jakarta nggak mirip babi? Tiga hari berturut-turut yang gue makan ya itu aja terus, cuma beda tempat makannya aja. Sama seperti yang satu ini.

Ini pertama kalinya gue makan dari tempat makan Babi Guling Sari Bhuana. Dari aplikasi, sih, jaraknya nggak begitu jauh dengan hotel, hanya sekitar 3Km saja. Waktu itu masih sekitar maghrib saat gue mau memesan melalui Go-Food, tapi tempat makannya sudah mau tutup! Untungnya gue keburu. Berhasil, deh, makan malam Nasi Campur Spesial. 

Nggak sewarna-warni dua nasi campur sebelumnya, Nasi Campur Spesial dari Babi Guling Sari Bhuana bernuansa coklat, coklat, dan coklat. Lauknya terdiri dari satu sate lilit, satu sate babi, sepotong kulit babi panggang, sepotong kecil urutan, sebongkah kerupuk kulit, dan tumpukan bumbu genep campur irisan kecil sawi putih serta potongan babi panggangnya. Nggak ada aksen hijau daun singkong ataupun merah dari sambel bawang, tapi tetap enak, kok! I'm used to have my food either from Babi Guling Candra, or Warung Babi Guling Bu Made Sekar, so I wasn't as thrilled as I used to be when this particular food comes. But, it taste deliciously great as well! HIDUP BABI GULING.




Milk and Madu - Traditional Poke Bowl 111K

Akhirnya, datang juga hari di mana gue sudah merasa terlalu jijk dengan lemak yang menumpuk di perut gue, yang membuat gue makin hari makin mirip dengan babi, akhirnya gue banting setir di suatu pagi untuk tidak lagi mengonsumsi Nasi Campur, melainkan Poke Bowl. Gila, hits banget, sis.

Hari itu adalah hari terakhir gue di Bali dan pesawat gue untuk kembali ke Jakarta adalah sekitar jam satu siang. Nggak mau rugi, gue masih punya beberapa jam untuk memanjakan diri dengan makanan-makanan di Bali, akhirnya gue memutuskan untuk go healthy. Yang ada di pikiran gue adalah Poke Bowl dan Smoothie Bowl, tapi, ya kali gue ngeGo-Food Smoothie Bowl. Yang ada itu Smoothie Bowl sudah keburu jadi jus encer kena panas di jalan. 

Setelah hampir setengah jam nge-scroll atas bawah, membanding-bandingkan harga Poke Bowl di tempat A dengan Poke Bowl di tempat B, dan di tempat C yang lebih jauh tapi variasi lauknya lebih berwarna dan enak dipandang dengan di tempat D yang murahnya naujubilah tapi Ibu gue pun bisa bikinin buat gue di rumah, gue memutuskan untuk memesan Traditional Poke Bowl seharga Rp111.000,00 dari Milk and Madu. 


Lokasi tempat makannya agak jauh dari hotel tempat gue menginap, alhasil gue harus menunggu lebih lama dan ekstra sabar sampai makanan gue sampai. Gue sampai nyemilin dua bungkus Lay's dulu untuk ngeganjal rasa laparnya. 

The food finally arrives just a few minutes to midday, padahal gue memesannya saat masih belum jam 11 siang. Tapi lamanya gue nunggu sepadan dengan apa yang gue dapat, kok. Sumpah, porsinya banyak banget dan presentasi makanannya pun cantik secantik-cantiknya cantik. Sangat-sangat Instagramable! 

Traditional Poke Bowl yang gue pesan datang dalam tempat makan styrofoam yang cukup besar - terdiri dari nasi ketan manis (sama seperti jenis nasi ketan yang dipakai untuk membuat sushi), tumpukan potongan daging tuna mentah yang gemuk-gemuk dan segar, irisan wortel, irisan timun, irisan alpukat, beberapa lembar sawi ungu, irisan kubis ungu, kacang edamame gemuk yang sudah dikupas dari kulitnya, semangkuk kecil saus Punzu, taburan kacang wijen dan daun bawang. Gue saking excited-nya sampai bingung mau mulai makan dari mana. Ujung-ujungnya gue menghabiskan semua sayur-sayurannya dulu dan menyisakan potongan tunanya untuk dinikmati belakangan. 

Gue nggak main-main, segala bahan makanan yang ada di Traditional Poke Bowl ala Milk and Madu ini benar-benar segar dan juicy. Beneran! Gue sampai nggak tau bahasa Indonesia yang tepat untuk menggambarkan juicy apa. Segar, ya? Atau berkuah? Ngerti, lah, ya pokoknya; yang kalau digigit itu cairan segar dari makanannya langsung keluar membanjiri mulut. 

Tunanya, astaga Tuhan, segar banget! Apalagi dikasih potongannya besar-besar dan gemuk-gemuk, dan lumayan banyak, lho, sampai di satu titik gue kekenyangan dan harus istirahat sebentar sebelum melanjutkan sarapan gue lagi (Iya, itu masih termasuk sarapan). Selesai makan, gue langsung bego seketika. 




Lay's Potato Chips - 9K

Yang terakhir adalah Lay's Potato Chips yang gue cemilin sebelum gue melahap Poke Bowl. Dua rasa ini belum pernah gue coba sebelumnya, yaitu rasa Saus Krim & Bawang dan rasa Honey Butter. Gue adalah penggemar berat chiki-chikian dengan rasa saus krim dan bawang, atau bahasa Inggrisnya sour cream and onion. Entah itu Mister Potato, ataupun Pringles, pasti harus rasa tersebut! Untuk Lay's ini, sayangnya gue harus jujur bahwa rasa saus krim dan bawangnya masih belum bisa ngalahin kepunyaannya Pringles. Rasa saus krim, atau sour cream, nya masih kurang nendang dan kurang kuat, sementara rasa bawangnya kurang kerasa. Kurang berani, lah, kasarannya! Jadi, buat gue, Pringles masih memegang juara satu bertahan mengenai kemantapan rasa. 

As for the Honey Butter flavor, gue sebenarnya agak kurang suka karena menurut gue rasanya aneh. Rasa madunya ada aksen pahitnya dan rasa butter-nya berkerak dan menempel di lidah. Manisnya, sih, gue suka, tapi cukup sebagai pelipur lara saja.

Karena gue kurang puas dengan kedua varian rasa baru dari Lay's Potato Chip ini, gue memutuskan untuk mencampur kedua rasa ke dalam satu kemasan. Gue kocok kocok kocok sampai kedua rasa bercampur dengan baik dan hasilnya... makin aneh. Sip, deh. 



Bali Banana from a Good Friend

Once, during those hectic time of my line training with Air Asia, a good friend of mine visited me at my working place. He goes by the name Dito, a former classmate who is currently working with Air Asia as well and based at Denpasar, Bali. I was busy preparing the flight data for my next sector when I heard this familiar Javanese accent lingering at the cockpit door. Could it be, I thought to myself. I was damned sure that it was him - because my auditory system excels most compared to my other functioning system, so I can recognize and memorize sounds well. And, just when I finished setting up my FMGC, I turned my gaze around and found him smiling and waving at me. I couldn't help but to scream with joy because it felt so good to reunite with an old friend.  

After the breakup, I've developed this new habit of turning my cellphone off every time I fly, including that day. Turns out, Bli Dito knew in advanced that I was coming to Denpasar from his duty schedule, which has my aircraft registration and my name in it. He took the liberty to notify me before hand through LINE that we were going to meet. "See you on board," he said, which I noticed later on when I turned my cellphone on to snap pictures of us inside the cockpit. We ended up exchanging quick updates about our lives despite the super short ground time. 


Like the usual caring and generous Bli Dito, he gave me a bag of souvenir just before the door closes. "For you to enjoy, Ket," he said, "send my regards to your parents.". He bid his goodbye and I bid mine. In a snap of a finger, the flight attendant closed the door and the aircraft was being pushed back. He stood there under of the aircraft nose, waving his hands whilst smiling, which I replied with an overly excited waves despite the fact that I was flying with an instructor. Couldn't care less, tho. I was dead happy to meet a familiar face in a such strange environment.

During the next few hours of my flight, I was content. Didn't do the flight as stressful as my previous flights as I was in a good mood. Despite the fact that my landings were still not center lined, I managed to do well on my flight and did a proper calculation of my descend profile. Then, I went home to my Mom and we opened the souvenir together. Well, what do you know, it's a banana cake!

Unlike any other banana cake I've had before, Bali Banana's banana cake was slightly different as it was sprinkled with toasted pastry flakes on the surface of the cake. Garnished with chocolate streaks, Bali Banana made sure that its' cake was eye-catching and appealing to the eyes of its' consumer. As Mom was slicing the cake, I notice a green paper lying on the bottom of the plastic bag. I took it out, and it was a note from Bli Dito. 


This banana cake from Bali Banana is very soft, with a slight hint of chewiness here and there. The chocolate accent blended nicely with the banana flavor, and the toasted pastry flakes give a nice subtle change to the monotonous texture. They were slightly savory and buttery, adding a more variant flavor to the whole being of the cake. 

Now, I believe I had told you in some of my blog posts about how I like to eat my chocolate, or ice cream, with something to chew on, like chocolate sprinkles, or crushed peanuts, or biscuits chunks, or shredded orange peel; the same goes with this cake. It's already delicious the way it is, but the pastry flakes and the chocolate streaks made it more enjoyable to eat.




P.S. Thanks for the cake, Bli Dito! Stay safe, and I hope we'll meet again when I have the chance to fly to Denpasar. 

Saturday, February 3, 2018

Custard-filled Taiyaki

I spontaneously went to AEON Mall, the one at Cakung, with a friend of mine who goes by the name Gavin, and we ended up strolling around the entire building while occasionally stopping by to some food places to get us some cheap munchies. This Custard-filled Taiyaki being one of it. 

Everybody knows AEON Mall for its' food market that sells lots and lots of cheap food, and I bet you're aware of it too. I mean, come on, where else can you find a piece of Salmon Nigiri (a kind of sushi where it's made of rice topped with a slice of fresh salmon) that costs only Rp6.000,00? Or a pack of rotisserie chicken that costs ten times the piece of Salmon Nigiri? Or a various range of meat on a stick that can be payed with a single magenta-colored value with a picture of Sultan mahmud Badaruddin II (yeah, I googled it because I flunked at History class back at school) on it? Even Pasar Sumber Arta doesn't provide this kind of luxury.


So, as Gavin and I were window-shopping at the food market, I happen to spot this particular stack of fish-shaped food located just adjacent to the sushi counter. My finger couldn't help but to point at that particular section, while my mouth automatically let out a rather loud, "Ih, itu Taiyaki!". Skipped my way through some people to get myself a good view of the Taiyaki and there I was at sea on which flavor of filling I should choose: red bean, chocolate, or custard.

"Lo mau rasa apa," said Gavin. I definitely wouldn't pick the red bean one because I know already how it will taste like. It was either chocolate or custard. Just before I got the chance to answer, he cut me already by saying, "Ya udah, gue yang isi custard, deh." (Damn, boy, wait for your turn to defend yourself! The court has its' order!) I immediately grabbed myself the one with the custard filling and said, "Gue rasa custard," and leave him with no choice but to choose the chocolate one. We ended up sharing each of our Taiyakis with each other, tho. 

The pancake batter was okay and rather decent. It didn't taste sour, it tasted slightly sweet, and the texture was acceptably rather crispy on the outside and not so soft on the inside. It was a bit rubbery too, but it a good way. Unfortunately, the filling of the Taiyaki was lacking. I could only bite a bit part of the Taiyaki that has the custard filling, which is on the belly part of the fish. The other parts were just plain toasted batter. The custard itself was nice and sweet, it reminds me a lot of an eclairs' filling. I tried a bite of Gavin's chocolate Taiyaki and it tasted nice as well even though it's not my favorite.


AEON Mall
Food Market, Ground Floor
Jl. Jakarta Garden City
RT001/RW006
Cakung Timur, Bekasi 

Thursday, February 1, 2018

Mister Donut's Milk Choco Pretzel

Truth be told, yang awalnya gue menganggap Mister Donut nggak lebih dari donat abal-abalan yang dijual di Indomaret (ya, memang sebenarnya dijual di Indomaret, sih) ternyata lama-lama gue jadi candu. Satu, karena harganya yang murah dan budget-friendly kalau dibandingin dengan Dunkin Donuts dan kawan-kawannya. Dua, karena rasanya nggak jelek-jelek amat dan, malahan, ada beberapa varian dari Mister Donut yang enaknya nggak hanya sekedar pelipur lara doang. Salah satunya, si Milk Choco Pretzel ini. 

Asli, bentuknya lebih lucu dan mengundang pas dipajang di etalase Indomaret! Nggak kayak foto gue di bawah ini yang lebih mirip dengan gambar pup di komik Crayon Sinchan. Mohon maaf ya, saudara-saudara. Kesalahan terletak pada sudut pemotretan.


Donut yang satu ini agak beda kalau dibandingkan dengan saudara-saudaranya sesama hasil produksi Mister Donut. Nggak tahu apakah memang edisi donut yang ini disengajakan untuk bertekstur agak empuk, atau gue belinya pas banget donutnya baru dikirim dari pabriknya dan masih segar-segarnya.

Balutan coklat beku yang ada di atasnya pun lebih manis dan lebih enak dari varian donut garapan (dikira lagu digarap?) Mister Donut yang pernah gue makan sebelumnya. Kalau boleh dibandingkan, manisnya itu mirip dengan coklat-coklat yang biasa dipakai untuk dicelup-celup strawberry tusuk atau marshmallow. Dan, yang paling mengejutkan buat gue adalah teksturnya yang nggak mirip plastik, atau plastisin. Ngerti kan, kadang ada kan donut berhiaskan coklat warna-warni yang rasanya seakan-akan kayak lo makan PlayDoh? Nah, ini nggak, dan gue kaget!

Sejauh ini, ini adalah donut terenak dari Mister Donut yang pernah gue makan. Bahkan donut dengan topping kremesan Oreo pun kalah kalau dibandingkan dengan yang ini, padahal itu adalah topping andalan gue! Dan gue nggak berasa rugi-rugi amat karena harga satu buahnya nggak lebih dari Rp10.000,00. Hidup, gaya hidup medit!