Wednesday, November 30, 2016

Best of Bangkok: Day 3

Hari ketiga gue di Bangkok, gue awali dengan perjalanan singkat dari kasur ke kamar mandi dan meninggalkan oleh-oleh hasil gue menjajahi banyak pedagang asongan di hari pertama dan hari kedua. Ah, perut pun terasa ringan. Makin banyak ruangan yang bisa dijejelin dengan kunyahan-kunyahan nikmat dari Negeri Gajah Putih ini.

Pagi itu, kami bertiga bangun nggak terlalu pagi. Setelah melakukan rutinitas biasa seperti melek, ngucek mata, sempoyongan ngambil handuk dan ke kamar mandi untuk siap-siap, ngecheck hp dan laptop sebentar manatau ada notification dari ehem-uhuk-pura-pura-batuk, gue memastikan bahwa pretelan untuk jalan-jalan hari ini sudah tersimpan dengan rapih di dalam tote bag yang lagi seneng-senengnya gue pakai karena itu asli buatan Ibu gue. Nggak lupa gue memakai topi yang gue beli di pesawat dalam perjalanan gue dari Jakarta ke Doha beberapa tahun yang lalu, kami bertiga beranjak ke lobby untuk menunggu dijemput salah seorang sahabat Bapak.

Namanya Oom Anton. Beliau sudah lama tinggal di Bangkok, Thailand. Hari itu, rencana kami adalah untuk mengunjungi salah satu pasar apung terkenal di nergara ini, yang letaknya satu setengah jam perjalanan dari hotel kami. Gue lupa nama tempatnya apa, kalau nggak salah ada di vlog gue, kalau salah kalian bisa cari sendiri di Google, nggak apa-apa, ya?

Yang jelas perut harus keisi sebelum memulai perjalanan jauh, jadinya kami berempat langsung tancap gas ke mall yang letaknya hanya sejauh perjalanan menggunakan shuttle bus yang disediakan hotel dan sarapan di foodcourt tempat gue pertama kali bertemu dengan bencong Thailand penjual Thai Milk Tea. Ingat, bukan diskriminasi.

Menu sarapan gue pagi itu adalah makanan berbasis kerang yang waktu itu Bapak rekomendasikan, yang ternyata namanya adalah Thai Oyster Omelette. Bentuknya lucu, seperti crepes gurih dengan taburan kerang matang dan telur acak-acak. Cara pembuatannya pun nggak kalah menarik, yaitu pertama-tama mereka menuangkan campuran antara adonan tepung dan kerang matang diatas penggorengan, kemudian mereka memecahkan telur diatasnya dan diorak-arik sampai matang, sampai akhirnya Thai Oyster Omelette tersebut pun siap disantap dan kita bisa menghiasnya dengan varian topping sesuai selera. Bapak gue doyan banget dengan santapan yang satu ini. Sayangnya, kurang cocok di lidah gue. Alhasil gue menyantap habis potongan babi goreng dan seporsi Mango Sticky Rice untuk sarapan.



Perut kenyang, hati gembira, perjalanan kami dimulai. Nggak banyak yang gue ingat dari perjalanan yang gue tempuh karena gue tidur. Pokoknya pas melek, Bapak dengan semangatnya menepok paha gue sambil bilang, "Nak, ayo, kita udah di pasar apung!".

Nggak banyak yang bisa gue ceritain dari pasar apung tersebut karena, ternyata, kami datangnya kesiangan. Sepi banget, asli. Timing-nya kurang pas. Sudah nggak banyak lagi jejeran perahu yang hilir mudik sepanjang sungai menjajakan jualannya, yang tersisa hanya beberapa dan itupun bisa dihitung menggunakan tangan. Tapi, ya, berhubung udah terlanjut basah, might as well take a dive and enjoy what you can enjoy. 

Untungnya masih ada ibu-ibu yang jualan Mango Sticky Rice, jadilah gue menghabiskan 120baht untuk seporsi makanan traditisional khas Thailand ini. Harganya dua kali lebih mahal dari Mango Sticky Rice yang gue beli di Khaosan Road, maklum karena ini adalah tempat wisata. Kalau kalian punya jiwa yang medit, seperti gue, dan nggak kebelet-kebelet amat jajan ketan kuah santan pakai potongan mangga, nggak usah jajan juga nggak apa-apa kok. Duitnya bisa dipakai untuk jajan porsi dobel di Khaosan Road.


Setelah menempuh perjalanan sejauh satu jam lebih hanya untuk leyeh-leyeh di emperan sungai sambil menikmati Mango Sticky Rice, beberapa potong duren, dan sepasang kaleng bir Thailand, kami berempat memutuskan untuk kembali ke kota. Tadinya kami hampir mau ke kawasan istana, tapi toh kalian pun tahu bahwa gedung dan jendela nggak bisa dimakan, akhirnya kami mampir ke sebuah area perbelanjaan yang cukup terkenal bernama Asiatique.

Ibarat pasar malam yang sudah disulap menjadi modern dan terlampau bersih, Asiatique ini dipenuhi dengan berbagai macam wahana-wahana ekstrim dan non-esktrim yang bisa dinikmati adek-adek rewel yang biasa nangis kalau nggak dibeliin es krim duren sama ibunya sampai oom-oom turis asal Amerika yolo yang nggak afdol kalau nggak mencicipi semua hal-hal yang nggak bisa dia temukan di negara asalnya, banyak tempat makan yang menyediakan berbagai macam makanan baik local maupun internasional, kios-kios kecil yang menjual printilan oleh-oleh, bahkan area taman dengan deretan bangku kosongnya yang menghadap ke sungai untuk foto ala-ala.

"Nak, kamu mau naik itu, nggak," tawar Bapak gue sambil menunjuk ke sebuah mesin berbentuk Transformer ecek-ecek seukuran oom-oom bule bongsor, dengan kursi ditengahnya dan controller di masing-masing arm rest. Persetan umur, persetan malu, "Mau, Pak!" gue jawab dengan lantang. Ini lah hasilnya..


Dan, setelah 20 menit berputar-putar tanpa malu di circuit robot Transformers ala-ala tersebut, yang ternyata ada tombol yang bisa dipencet untuk menghasilkan suara "DOR DOR DOR!" sehingga ceritanya kita sedang berada di tengah-tengah invasi robot dan kita harus membunuh setiap robot yang ada di depan mata, gue menghadiahkan diri gue dengan Soft Vanilla Ice Cream with Thai Tea Macaroon seharga Mango Sticky Rice yang gue beli di pasar apung beberapa jam yang lalu. Nggak hanya itu, banyak jajanan lain yang gue lahap sepanjang muter-muter gue di Asiatique dan kenyangnya nggak kerasa karena tadi pagi gue udah setoran.


Malam pun tiba, setelah puas mengisi perut kami dengan jajanan kecil-kecilan, kami kembali ke hotel sebentar untuk menjemput salah satu teman Bapak yang malam itu baru saja mendarat dan diantarkan ke hotel dengan crew shuttle bus. Namanya Oom Caesar, tapi gue biasa memanggil beliau Mas Gemz, in which "gemz" stands for "gembel" but we Indonesian have to shorten it up and add a "z" at the end because we're alay like that. 

Our last pit stop for the day was a German restaurant named Tawandang, located at Rama 3 Road. Ini adalah salah satu restoran yang biasa dikunjungi Bapak setiap beliau terbang ke Thailand. Nggak hanya restoran ini menyajikan makanan Jerman, dengan daging babinya yang luar biasa enak dan gurih dan tower-tower bir yang sepertinya lebih tinggi kalau mau dibandingan dengan tower bir salah satu tempat minum-minum asik di Teras Kota bernama Backyard, restoran ini juga menampilkan live show yang seru banget dan sulit untuk nggak ikutan terjun ke dalam keseruan tersebut.





Ada saat dimana saat gue tengah nyemilin Chicken Wings, tiba-tiba gue mendengar lonceng yang keras dari arah belakang gue dan di sana sudah ada barisan para mantan eh- pelayan, dan salah seorang pelayan yang berdiri di barisan paling depan memakai kostum kereta api. Nah lho, pikir gue, mau Conga Line nih. Dan, bener aja, beberapa detik setelah mas-mas berkostum kereta api memberi sinyal kepada DJ untuk memainkan musik, barisan tersebut mulai berjalan mengitari meja-meja pengunjung dan mengajak semuanya untuk bergabung. Pas gue nengok ke samping, Ibu gue sudah hilang. Ternyata beliau sudah jadi salah satu gerbong kereta api..

Tuesday, November 29, 2016

Fat Belly Food Truck's Bulldog

This is one of the most expensive burger I have ever bought in my life, yet I did not regret spending every rupiah that I had on it. It was Fat Belly Food Truck's burger that I had last weekend. I had to order the dish with my Go-Jeg application because I still haven't got any permission from the institution to spend the weekend outside the barrack. It's a good thing that the food truck is only half an hour away as it is regularly peddles its' black-bun burgers at Lippo Karawaci.

I took the liberty to browse the menu on the Go-Jeg application the day before, just so that I can be sure on which dish I was going to have. After spending a few minutes contemplating, I finally decided that I was going to go for the Bulldog. It didn't cross my mind to check the internet on how the burger would look like, but, hey, I don't think some homemade black buns filled with caramelized onion, homemade beef patty, a couple of beef sausage, stripes of beef bacon, a soft fried sunny-side-up, melted cheese, and a glaze of the food truck's special secret sauce could go wrong. 


Boy, my decisions have never been this flawless in my whole entire life. My Bulldog was very beautiful, and it came with some scrumptious homemade french fries and a bottle of water. Despite the fact that the food was brought using a motorcycle, it was not the slightest bit messy. The burger and the whole filling was still intact.

The Bulldog was rather small for a 50K burger. But, it had all kinds of meat with cheese and a sunny-side-up, plus they also threw in some french fries, so it was a nice deal for me. 


I took a big bite of my Fat Belly's black bun burger and, I bullshit you not, I had an explosion of flavor in my mouth. The black bun was fluffy as hell. A bit soggy on the bottom from the sweet and delicious special secret sauce, but I'm not complaining. The combination of the three different meat - the beef bacon, sausage, and the beef patty - with the oozing yolk from the soft fried egg was orgasmic. I particularly love the sweet caramelized onion as it balances the other savory and salty element of the burger. And I don't usually have my burger with the fries, I usually finish one before the other, but combining both in every bite added the extra kick to the flavor burst. Everything just went well together. I couldn't be happier. 

Fellow cadets of STPI, you ought to try this burger once in your weekend. Just quickly open your Go-Jeg app, go to the Go-Food section, scroll down and click on the "Burgers, Sandwiches & Steak" option on the explore tab, search for Fat Belly Food Truck, and get yourself some Bulldogs. If you prefer other dishes that have less meat, you can always go for the Bomber - which I'm going to get sometime in the future if I haven't get out from this hell hole. 

Sunday, November 27, 2016

Warkop Yang Tertukar

Satu tahun yang lalu, di suatu malam minggu random dimana gue pingin banget nongkrong di luar karena nggak ada gunanya kalau gue ngendok sendirian di rumah, gue ngechat semua teman taruna yang namanya terlintas di kepala gue untuk gue ajak ngablu bareng di sebuah tempat tongkrongan di Jatiwaringin. Warkop yang Tertukar namanya. Akhirnya gue berhasil ngejaring dua dari sekian banyak taruna yang gue LINE. Entah kenapa kok mereka mau aja nurut pas gue ajak ngopi-ngopi cantik, apalagi salah satunya datang jauh-jauh dari Tangerang.


Bukan Kinan namanya kalau nggak pakai acara nyasar, alhasil gue nyasar dulu lah di pintu keluar Jatiwaringin. Yang harusnya belok kanan, gue malah belok kiri. Gue sempet kebingungan nyari letak si Warkop yang Tertukar karena, ternyata, tempat nongkrong itu terletak di suatu area yang isinya banyak tempat tongkrongannya. Dan, kebetulan, pintu masuk ke area tersebut nyempil banget di ujung jalan. Ya jelas aja akhirnya gue harus muter balik, masuk tol lagi, keluar pintu tol lagi, dan baru sampai.


Sesampainya di sana, tanpa banyak babibu, gue langsung memesan segelas Iced Chocolate dan Roti Bakar Oreo, yang disajikan dengan isian olesan Nutella, taburan potongan Oreo, dan sesendok es krim Vanilla. Di sini gue agak rancu, jadi gue pesen Roti Bakar Oreo atau Roti Bakar Nutella? 

Nggak banyak yang bisa diceritain dari tempat nongkrong ini karena makanan dan minuman yang disajikan nggak terlalu variatif dan spesial. Semuanya bisa kita bikin sendiri di rumah, dan mungkin bahkan bakalan lebih enak. But, it's not a bad place to hang out with your friends. 

Seperti yang gue bilang, karena Warkop yang Tertukar terletak diantara tempat nongkrong lain, jadi agak mudah buat kita untuk pindah tempat semisal udah bosan dan buntu mau ngapain lagi selain main-mainin sisa lelehan es krim dari roti bakar. 




Warkop yang Tertukar
Garden Kuliner, Jl. Jatiwaringin No.7
Pondok Gede, Jakarta

Opening Hours:
Monday - Sunday: 4PM - 12AM

Pig-a-Boo's Nasi Babi Crispy Sambal Matah

Hidup gue jadi lebih mudah semenjak gue menggunakan jasa Go-Food selama masa konsinyir. Buat kalian yang nggak tau konsinyir itu apa, konsinyir adalah sesuatu yang jauh jauh jauh lebih menakutkan dari film the Conjuring. It's a state when cadets don't have the permission to enjoy their weekend outside the institution. Pada intinya, gue dihukum nggak boleh pulang, atau kata orang tua gue di setrap.

Nah, selama masa konsinyir, gue terjebak dengan segala macam makanan yang ada di barak dan lingkungan barak, which are boring as hell. Makanannya itu itu aja. Not that I'm not grateful, don't get me wrong, tapi gue bosen. Minggu pertama konsinyir masih biasa-biasa aja karena ada kantin GSG yang menyediakan varian makanan yang menarik macam roti bakar, mie ayam bakso, nasi ayam penyet, nasi padang, dan nasi rames. Tapi, setelah minggu ke-15 dikurung begini, lama-lama muak juga. Akhirnya gue memutuskan untuk memakai layanan jasa Go-Food. 


Minggu lalu, gue memesan dua porsi makan siang dari Pig-a-Boo. Jelas aja dari namanya udah ada unsur haramnya untuk gue bagi dengan teman sebarak gue yang beragama muslim, jadi aja gue makan sendiri dalam sekali genjot. 

Nasi babi pertama yang gue lahap adalah Nasi Babi Rica Rica dengan potongan babi bumbu rica ricanya yang pedesnya kurang ajar dan tumpukan sayur daun pepaya yang pahit dan pedas. Gue biasanya anti menyantap potongan babi yang ada lemaknya, tapi kali ini gue santap habis saking enak dan gurihnya. 



Nasi babi yang kedua adalah Nasi Babi Crispy Sambal Matah dengan potongan babi panggang kriuk dan onggokan sambal matahnya yang kecut dan segar. Nah, ini kesukaan gue. Memang bintangnya adalah babi panggangnya yang gurih dengan slepetan kulitnya yang renyah dan asin, tapi sambal matahnya pun memegang peranan penting soal kombinasi rasa. Kalian harus tahu, sambal matahnya itu kecut dan segar banget, bawang merahnya yang cantik berhasil menarik perhatian gue, dan rasanya nggak terlalu pedas namun kuat. A definite must try. Bisa-bisa gue nambah tiga porsi sambal matahnya kalau makan di restorannya langsung. 



Kedua makanan ini patut diberikan acungan jempol, apalagi Nasi Babi Crispy Sambal Matahnya. Sayangnya, porsi babinya terlalu sedikit kalau menurut gue. Nasinya segunung, sayur daun pepayanya manusiawi, sambalnya lumayan banyak, tapi lauk babinya jomplang banget. But, all in all, I'm happy with Pig-a-Boo's meal selections. 

A&W's Choco Fondant Dessert

A few while ago, I got a special delivery from one of Jakarta's famous fast food restaurant ever existed. No, it's not rumah makan padang - although I have to say that a rumah makan padang deserves a two thumbs up for their super quick and delicious meal - it's from A&W, woohoo!

The packet was wrapped in plastic covers and it got a cute ribbon on top. Inside was ten of A&W's soon-to-be released menu (which you all can now find and enjoy at the restaurant because they have published the dessert already) of chocolate dessert. There were two kinds, one was the Choco Fondant: créme de Tiramisu and the other was the Choco Fondant: créme de Matcha.


The instruction was to heat the chocolate dessert in an oven toaster before indulging, so I did the exact thing to both dessert. After a few minutes, I was welcomed with a delicious and mouth watering smell of dark chocolate, yum.

I took a spoonful of the Choco Fondant: créme de Tiramisu and the gooey chocolate tiramisu inside the chocolate fondant didn't ooze out the way a chocolate lava cake would. The cake itself was very floury and somewhat flavorless with a hint of bitterness, but it went quite nice with the sweet chocolate tiramisu mixture. The white chocolate chip on top of the cake didn't say much as they were merely just a decoration.



Next, I tried the créme de Matcha, which was not my favorite compared to the other dessert for its' weird matcha taste. Unlike the gooey chocolate tiramisu mixture, the matcha inside the cake wasn't in a form of liquid but more of a crumbly almond cream like substance. It didn't taste like matcha to say the least. It got the sweet and bitterness of a matcha, but you can definitely tell that it's not a good one. On the one hand, the cake had the same texture as its' sibling and the almond on top didn't do quite much as well.



If I had to choose between these two, I would definitely go for the créme de Tiramisu. But, if I had to choose what dessert I would have from A&W, I would go for the waffles. Period. 

Saturday, November 26, 2016

Best of Bangkok: Day 2

Saking membahagiakannya hari kedua gue di Bangkok, Thailand, gue lupa banget untuk mengabadikan makanan-makanan yang gue makan, tempat-tempat yang gue kunjungi, dan hal-hal yang gue lakukan dalam foto. Gue full nge-vlog hari itu. Kalian bisa menonton hari kedua gue setelah pengumuman berikut..

"Mohon perhatian anda. Pertujukan film di teater dua belas segera dimulai. Para penonton yang telah memiliki karcis, dipersilahkan memasuki ruangan teater dua belas."

Best of Bangkok: Day 1

Kalian nggak kebayang betapa girangnya gue saat Bapak mendeklarasikan bahwa kami sekeluarga akan liburan ke Bangkok. Akhirnya, setelah sekian lama cuma bisa nontonin video orang-orang makan street food di Bangkok dan modal imajinasi akan rasanya yang entah kayak gimana, gue bisa terjun langsung di antara semua makanan-makanan itu. Nggak ada lagi ngeluh "Eh, ini makanan apa sih kayaknya enak deh" atau "Sumpah ya enak banget itu apaan tau," ke temen barak setelah berjam-jam gue bergulir di account Instagram acak seputar kuliner di Bangkok, Thailand.

Subuh-subuh gue bangun, langsung mandi, dandan minimalis yang penting nggak pucat, put on my airport clothes that I've sorted the night before, masukin barang-barang ke bagasi taksi Blue Bird yang udah di telfon dari sejak Ibu gue bangun, dan berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Sesampainya di sana, gue dan Ibu gue langsung check in dan kemudian duduk manis di Starbucks sambil menikmati segelas Green Tea Latte panas, secangkir Cappuccino hangat, dan kombinasi Chicken Omelette Croissant Bun dan Cheese Bagel. Ciamik. "Jangan makan banyak-banyak," kata Ibu gue, "nanti di sana kan kita masih makan lagi, belum di pesawat dapat makanan." Nggak gue gubris seperti biasa, karena gue hidup untuk makan dan makan untuk hidup. Jangan sebut gue Malinkundang.

"Para penumpang yang terhormat," kata mbak-mbak di loudspeaker ruang tunggu, "pintu teater tiga telah dibuka. Para penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan memasuki ruangan teater tiga." Mabok kali, ya.

Beberapa menit setelah pesawat lepas landas, para pramugari Garuda Indonesia segera dengan sigapnya membagikan nampan yang berhiaskan makanan pembuka, utama, dan penutup untuk sarapan kedua gue. Gue menyantap dua potong daging rolade bareng setup sayur dan kentang rebus, seporsi kecil rujak yang manis dan kecutnya nendang banget tapi bikin nagih, beberapa suap kue coklat yang membuat gue berteori mengenai tekstur dari styrofoam, dan dinner roll hangat yang empuk dan gurih ketika dipertemukan dengan olesan unsalted butter dari Anchor.






Setelah kenyang, karena masih ada tiga jam lagi yang harus ditempuh, gue memutuskan untuk nonton film karya anak bangsa, yaitu Battle of Surabaya. Jujur, gue nonton karena ada Reza Rahadian yang menjadi salah satu pengisi suara dari tokoh-tokoh film animasi tersebut. Tapi, makin gue tonton, ternyata filmya bagus, berbobot, dan mendidik. Gue jadi belajar sedikit mengenai sejarah Pertempuran Surabaya setelah enam tahun menolak untuk hatam isi dari buku sejarah yang dibeliin Ibu gue mahal-mahal untuk gue sekolah. Buat kalian yang belum nonton, apalagi buat kalian yang nilai ulangan sejarahnya dulu mepet-mepet kayak gue, gue sangat merekomendasikan film ini.


Finally, after a four hour flight, Mom and I arrived at Suvarnabhumi Airport in Bangkok, Thailand. Sesampainya disana, seperti yang gue perkirakan, gue seperti lagi nonton film-film rom.com Thailand yang biasa gue beli bajakannya di tukang DVD langganan di Bekasi Cyber Park. Gue sama sekali nggak ngerti apa yang mereka omongin. Boro-boro ngerti, kata-kata yang familiar aja nggak ada. Sering gue dengar mereka selalu mengucapkan "kaa", atau "kab" di akhiran kalimat, tapi itu pun gue nggak paham artinya apa. I just can't with language barrier. 

Dengan determinasi tinggi, gue ngekorin Ibu gue yang berjalan menuju tempat pemberhentian taksi. Dalam hati gue menolak keras untuk harus berinteraksi dengan warga lokal manapun, hanya karena gue malu dan nggak pede. Seandainya gue bisa diam dan manut dengan apa yang Ibu gue kerjakan, gue lebih memilih manut, but life doesn't always go the way you want it to be. "Coba kamu tanya gih sama mas-masnya cara naik taksinya gimana," perintah Ibu gue. Layaknya anjing peliharaan, gue nurut. Dan kami pun dapat taksi. Kemudian dianterin ke Golden Palace Hotel yang jauhnya sekitar setengah jam dari airport, dan harus banget kena tipu yang berakhiran harus membayar pak supir taksinya dua kali lipat dari tarif normal. Oke deh, sip.

Sesampainya di hotel, kami disambut dengan Bapak yang lagi ngaso di teras hotel dengan rokok Marlboro Black Menthol-nya. Bertukar pelukan kilat, yang dilanjutkan dengan pertanyaan, "Tadi bayar taksi berapa, Tie," dari Bapak dan dibales dengan, "400baht," oleh Ibu dan dilanjutkan dengan "HAH?!" ala-ala acara televisi Extravaganza yang biasanya diramaikan dengan teriakan-teriakan "Wakwaw!" dan tepuk tangan penonton. "Iya tadi aku udah minta supirnya pake meteran dan dia oke oke aja, tapi terus dia bilang 'traffic traffic more expensive' dan dia minta 400 baht. Kita mau turun, tapi udah keburu jalan taksinya," cerita Ibu gue singkat. Hanya butuh jeda sepersekian detik sebelum Bapak mengakhiri kasus dengan "Ya wes, lah" andalannya yang singkat, padat, dan jelas.

Gue lupa nomor kamar kami berapa dan terletak di lantai berapa, tapi yang gue inget adalah bahwa kamar kami berdekatan dengan kamar lain, yang hanya dibatasi beberapa pintu, yang kata Bapak gue ada hantunya. "Beneran ada hantunya, Pak" gue tanya. "Iya, beneran," balasnya. Ya, gue terima-terima aja, Thailand kan memang terkenal dengan film-film bergenre horornya, yang hantu perempuannya jauh lebih bikin jantung gue ketar-ketir pas nongol daripada hantu perempuan lokal, ehem Tante Kunti. Yang penting bukan di kamar ini aja, pikir gue dalam hati.

Di kamar, gue dan Ibu menyantap potongan daging babi dan seporsi kecil ifumi yang Bapak belikan beberapa jam sebelum kami sampai di mall yang letaknya hanya sepuluh menit perjalanan menggunakan shuttle bus gratis dari hotel. Enak banget, kacau, nggak bohong. Daging babinya dipotong kecil-kecil dan digoreng kering, sampai lemaknya pun udah nggak terlalu kenyal dan agak garing. Bumbu dari daging babi gorengnya ngena banget dilidah, manis, asin, gurih, semuanya nyampur jadi satu. Kuah ifuminya yang kental pun rame banget rasanya, dari gurih, manis, sentilan mecin di sana sini, dan kriuk kriuk segar dari sayurannya. Persetan dengan timbangan badan, pikir gue.

Setelah makan, kami bertiga leyeh-leyeh sebentar. Awalnya gue tiduran di kasur, tapi kemudian insting gue untuk membuka laptop, log in di akun Steam, dan mengklik tombol "Play" untuk DOTA 2 pun tak tertahankan. Jadilah gue main satu match. Kemudian Bapak bersabda, "Kamu jalan-jalan gih nak ke mall naik shuttle bus. Gratis, kok. Shuttle busnya setengah jam sekali mangkal di hotel." Tanpa babibu, gue langsung nyamber tote bag bikinan Ibu gue yang berisikan dompet, kamera, hp, dan power bank, dan segera meluncur ke lobby hotel di ground floor. Beneran langsung cabut, gue sedang tidak menghiperboliskan keadaan hanya karena gue sedang menulis pengalaman gue berlibur di Thailand di blog gue. I literary sprinted thought the hall way, clicked the elevator button to go down, hopped in, hopped out, and sprinted again to the hotel's lobby just to find the shuttle bus that would take me to the hotel was still parked there, waiting for the hotel's guests to fill it full. Petualangan pun dimulai!


Gue lupa blas nama mall-nya apa. Sebelum pergi, Bapak sempat menyarankan untuk gue turun ke food court yang terletak di lantai basement mall tersebut dan makan menu yang sering dia pesan setiap dia ke Bangkok. "Jadi tuh itu kerang dimasak sama telur sama tepung garing. Enak, deh," kata Bapak. Udah gue cari, tapi gue nggak menemukan bentukan dari si kerang telur goreng tepung yang Bapak maksud. Akhirnya gue beralih ke pojokan yang menjual khanom bueang. Apa itu khanom bueang? Basically, it's a super thin crepe-like dessert filled with coconut meringue and egg yolk strips, or golden threads as the locals say. Another style of khanom bueang, it is filled with coconut meringue, shredded coconut, bits of sweet dried shrimp, and chopped spring onion. 



Gue paling suka sama khanom bueang yang manis. Coconut meringue-nya manis dan ringan kayak busa, dan golden threads-nya punya tipikal manis yang nggak bikin mual, meskipun teksturnya mirip karet gelang. Khanom bueang yang manis juga enak, kok, tapi gue nggak begitu doyan dengan udangnya yang meskipun manis tapi agak amis.



Gue sering banget ngeliat makanan ini di publikasikan di Instagram dalam bentuk video dan foto, dan akhirnya gue bisa mencicipinya langsung. No more imagining things, yes!

And what's the point of coming to Thailand but not having an authentic Thai Milk Tea, right? Sudahlah langsung gue samper kios yang menjual berbagai macam varian minuman dengan basic teh dan susu. Gue agak kaget tengah mau memesan Thai Milk Tea gue karena untuk yang pertama kalinya gue bertatap muka dengan bencong Thailand. Bukan diskriminasi! Ingat, bukan diskriminasi! Memang Thailand adalah negara yang terkenal dengan laki-lakinya yang tidak sedikit operasi sana sini untuk menjadi wanita, toh? Ya, sudah. Nah, gue pesanlah itu minuman Thai Milk Tea segelas. Gelasnya tinggi banget by the way, sampai-sampai gelas ukuran venti ala Starbucks pun kalah.

Mantep banget! Rasanya nggak beda jauh degan Thai Milk Tea yang pernah gue minum di Indonesia, tapi yang ini lebih manis dan kerasa banget daun tehnya, nendang yang seakan-akan kalau minuman ini bisa hidup, gue yakin dia bakal ngomong, "WEY GUE THAI MILK TEA ASLI LHO," dengan bahasa Thailand. Sayangnya esnya kebanyakan, jadinya ujung-ujungnya gue nyeruput lelehan es hambar dengan sentilan manis susu kental manis dan pahitnya teh.



Malamnya, gue dan Ibu gue jalan-jalan berdua ke Khaosan Road, jalan raya macam Malioboro yang kanan kirinya nggak kurang dari jajanan, bar, dan kios-kios oleh-oleh. Bapak gue ke mana? Bapak saat itu harus nerbangin pesawat balik ke Doha, Qatar, jadinya nggak bisa ikut jalan-jalan. Beliau baru balik ke Bangkok lagi keeseokan harinya, jadilah gue quality time berdua sama Ibu.

Nah, kembali lagi ke Khaosan Road. Di Khaosan Road itu banyak banget jajanan, atau mungkin kalian lebih kenal dengan istilah street food, yang selama dua puluh satu tahun gue hidup cuma bisa gue tonton di Indovision dan Instagram. Mulai dari Pad Thai, Mango Sticky Rice, serangga goreng, sate-satean, mangga Thailand, durian Thailand, semua ada di Khaosan Road. Yah, mungkin nggak semua, karena seinget gue, gue nggak menemukan makanan yang bernuansa babi malam itu.

Semua makanan yang gue lihat gue beli malam itu. Gue sangat bahagia dengan Mango Sticky Rice asli Thailand perdana gue yang rasanya nggak ada duanya. Potongan mangga Thailand yang manis dipadukan dengan ketan putih kuah santan yang gurih dan manis itu ternyata menciptakan kombinasi rasa yang nggak bisa dikalahin dengan Mango Sticky Rice manapun. Pernah gue makan Mango Sticky Rice di restoran Thailand di Jakarta yang bernama Jittlada dan itu rasanya beda banget. Ibu gue pun, setelah kami pulang dari Bangkok, membawakan Mango Sticky Rice buatan beliau ke barak dan, meskipun enak, rasanya tetap beda dengan Mango Sticky Rice asli Thailand. Ciamik!


Sementara gue sibuk dengan Mango Sticky Rice gue, Ibu gue mampir ke jajanan sebelah yang menjual Pad Thai. Ada banyak penjual Pad Thai malam itu di Khaosan Road, tapi penjual Pad Thai yang kami kunjungi itu banyak banget pembelinya, sampai-sampai pada ngantri. Gue rasa karena si mbak-mbak penjual Pad Thai berbadan kurus berbalut tank top dan apron, dan potongan rambut bob-nya yang centil, menarik perhatian semua turis yang sedang jungkir balik di Khaosan Road malam itu.

Pad Thai itu nggak lebih dan nggak kurang dari mie goreng. Mie goreng yang dilengkapi dengan berbagai macam pilihan lauk dan topping sesuai dengan selera pembelinya. Karena Ibu gue alergi seafood, akhirnya beliau memutuskan untuk membeli Chicken and Egg Pad Thai, yang kemudian dihias lagi dengan taburan kacang, potongan cabai, dan taburan bubuk cabai. Rasanya campur aduk. Meskipun aneh, karena gue nggak pernah seumur-umur makan mie goreng pakai taburan kacang, tapi enak.


Kuliner malam pun gue lanjutkan dengan membeli durian Thailand dengan harga 80 baht seporsinya. Mahal sih, coba deh kalian kali Rp4.000,00, tapi masa udah jauh-jauh ke Thailand nggak makan durian Thailand, kan? Dan ternyata rasanya nggak terlalu manis, meskipun empuk dan harum. Enak sih, tapi mungkin guenya yang nggak ahli milih durian, ya? Yang penting udah nyoba deh, gitu.


Nah, setelah gue selesai melahap durian sendirian, gue mulai merasakan sakit perut kronis yang bikin gue nggak bisa jalan. Gue kekenyangan. Kenyangnya itu kenyang bodoh yang bikin lo bertingkah macem adik tiri Hagrid di Harry Potter bernama Grawp, yang merupakan raksasa bodoh namun polos. Udah aja jalannya ngangkang, mulutnya kebuka sedikit, gerakannya lambat, dan mukanya lelah. "Tie, kenyang," gue bilang, yang kemudian dibalas Ibu gue dengan, "Ya iyalah, makan mulu!"


Tapi, kuliner malam kami nggak terhenti sampai di situ. Gue dan Ibu gue melewati gerobak yang menjual berbagai macam sate dan kami memutuskan untuk membeli satu tusuk masing-masing. Gue dengan jantung ayam gue dan Ibu gue dengan sate ayamnya. Iya, gue suka jantung. Enak, gurih, kenyal-kenyal gimana gitu, dan gue yakin di mata bule kayaknya gue barbar banget bisa-bisanya nyemilin jantung binatang.

Nyemil nyemil nyemil sampai akhirnya kuliner malam gue terhenti di Nutella Crepe pinggir jalan yang gue beli dalam perjalanan pulang ke hotel. There's always room for dessert, you know? Tapi, meskipun begitu, gue pun bingung antara gue memang kuat makan, atau terlampau rakus.