After my aunt and I bought Hurom, juicing became easier and much more fun. One morning, I got up and headed straight to the kitchen. I bought some fruit and vegetables the other night and started preparing them. They were pineapples, zucchinis, and kales. Put them all together in the slow juicer and bam! you got yourself a liter of fresh and delicious juice. And, the best thing is that them juices look like the ones that you can get at fancy restaurants.
The juice was green in color. Very cold and sweet, even though I didn't use any sugar, nor honey, in the process of making it. True, juiced zucchini sounds a little weird, but it worked out. The pineapple was overpowering the flavor, while the kale didn't do much about the taste. But, it sure did make the juice green. Hurom for the win!
During my quest of wanting to be healthy, there was this period of time when I would just start my day with a nice bottle of cold-pressed juice. Back then, I didn’t have the proper machine to make this particular kind of juice, so I ordered some freshly squeezed OJ online from a friend of mine.
Marsha, who owns an online cold-pressed juice shop named Fresha Juicery, is a friend of mine in AirAsia. Ever since I knew she hustle her way in business, I’ve been somewhat a regular customer of hers. Her cold-pressed juices are vibrantly amazing, not to mention healthy and very suitable for those in the progress of going vegan, or just simply pursuing a healthy life.
If the phrase “you are what you eat” is true, then I’ll be a rainbow for consuming Fresha Jucicery’s cold-pressed juice. I mean, just look at them!
Fresha Juicery provides a wide variety of mixed fruit and vegetable juice on the go. They do delivery service and online orders through LINE and a website named, Lemonilo. I usually ordered mine via instant message. I usually go for the package of a random ten bottles of juice that costed me around 300K, minus the delivery fee. With a help from Go-Send, I woke up one morning greeted with a stocked fridge.
I don’t have a favorite juice because I, simply, love them all. They are all freshly made! All of them are very sweet even though there’s no sugar, nor honey, added. Some are sweet, some are slightly sour, some are tasteless, it truly depends on what combination of ingredient in the juice. One time, I had me a “Special Request” juice, consisted of watermelon and chia seeds and it was awesome!
If you would like to know the list of products that Fresha Juicery offers, then you have to contact them via LINE. Very friendly, thorough, and fast service. And, if you’re in the mood for some plant-based milk, or a healthy pudding such as chia pudding, they have it also at Fresha Juicery.
Nowadays, being healthy is only a click away. Go ahead and try them juice for your own good!
Berangkat kerja dari Terminal 3 itu menyenangkan, tapi lebih banyak bikin kepala pusingnya. Satu karena jalan dari imigrasi ke pesawatnya jauh, kedua karena banyaknya tempat jajan terkenal yang makanan dan minumannya aesthetically pleasing dengan harganya yang nggak terlalu bersahabat untuk dompet kaum medit seperti gue. Salah satu contohnya adalah Colette Lola. Iya, gengs, Colette & Lola buka cabang di bandara. Kurang keren apalagi Terminal 3?
Kemarin siang, saat gue tengah menunggu kedatangan pesawat yang akan gue terbangi dari Jakarta ke Singapur, gue mampir ke kiosnya Colette & Lola yang berlokasi berdekatan dengan Gate 8 dan Gate 9. Nyari nyari nyari, tapi nggak ketemu cemilan yang rendah kalori, rendah gula, dan rendah karbohidrat. Lalu pandangan gue tertuju kepada sederet menu dengan nama Sejuice Me's Healthy Juice. Seperti yang udah gue sebutkan di atas, harganya nggak terlalu bersahabat, berkisar antara Rp50.000,00 sampai Rp65.000,00. Sesungguhnya gue, pada saat itu, nggak lapar. Tapi mulut dan tangan rasanya gatal ingin jajan. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, pilihan gue jatuh pada sebotol cold-pressed juice dengan nama Immune Booster. Pas banget lagi butuh asupan imun.
Terbuat dari campuran apel, jeruk, dan nanas, dilengkapi dengan goji beri dan chia seed biar nggak bosen-bosen amat neguk, tapi juga bisa ngunyah. Total biaya yang gue keluarkan adalah Rp60.000,00 karena, ternyata, meskipun harga jus botolan ini lebih murah lima ribu rupiah, ternyata ada pajaknya. Berasa makan di restoran, ya.
Untungnya jusnya enak dan segar, nggak ngecewain. Meskipun jeruknya mendominasi, tapi apel dan nanasnya pun bisa terasa disetiap tegukan. Gue paling senang dengan butiran-butiran goji beri dan chia seed yang bisa dikunyah. Rasanya ibarat memakan coklat yang ada isian biskuit dan kacangnya.
I had a good start for today. Even though I slept a bit late last night, I woke up today at six without any extra grunt and rant. Class starts at 9 and I was lucky enough that my chauffeur was able to drive me from Bekasi to M1. I put on a forgotten flannel that I had for years, it's dark blue in color and it has a rather comfy texture of fabric, and I look exceptionally well. Not girly, nor beautiful, but well.
I had me a bottle of Fresha Juicery's Hunny Bunny as we drove passed Tanjung Priok harbor. The combination of apple, carrot, and honey were super fresh and energizing, very suitable to consume to boost your mood. The carrot didn't overpower the whole flavor as the juice had a strong hint of apple in it. I assume the sweetness of the cold-pressed mana came from the honey.
For once, I finally enjoy my morning. Too bad I forgot that happiness doesn't last long.
Pas kemarin di Bali, ada satu hari di mana gue dan Ibu gue jalan-jalan ke kota untuk belanja dan nonton film di bioskop. Karena rumah kami memang letaknya di desa, kanan kiri sawah semua dan kalau malam-malam gelapnya kayak lagi program Live In di pedalaman kampung, kami memang benar-benar harus ke kota kalau mau mencari hiburan. Perkebunan padi seketika berubah menjadi jalan raya yang diramaikan kendaraan berplat nomor DK. Gue pun menjadi semangat saat sampai tujuan karena udah lama nggak ngeliat papan reklame bulat berwarna hijau tua dengan tulisan Starbucks. "Bener-bener kayak orang desa main ke kota, ya," ucap Ibu gue.
Perjalanan dari Desa Pejeng ke Denpasar kurang lebih dua jam. Destinasi pertama kami adalah Mal Bali Galeria yang terletak di sisi Jalan By Pass. Dengan desain gedung yang sepertinya mengikuti gedung tradisional di Bali, Mal itu tampak beda dengan mall-mall lainnya yang pernah gue kunjungi. Hanya dua lantai, bangunannya luas dan tidak dihias dengan Air Conditioner di setiap sudutnya, dan dilengkapi dengan area berjalan yang hijau di tengah-tengahnya. Ibarat donat tapi dalam bentuk kotak dan adalah sebuah bangunan.
Siang itu, kami mampir ke bioskop yang ada di Mal Bali Galeria dan menikmatti indahnya nonton film keluaran terbaru dalam keadaan sepi. Belum pernah, seumur hidup gue, gue nonton film dengan keadaan sesepi dan sekosong itu. Cuma ada lima orang doang dalam satu studio!
Kami nonton Alien: Covenant. Gue penggemar berat seri film Alien karena itu adalah makanan sehari-hari gue saat gue masih berumur 4 tahun. Iya, sekecil itu gue udah nonton film garapan Ridley Scott dari yang pertama sampai yang keempat. Gue bahkan inget banget di suatu siang, saat gue masih TK dan sedang disuapin sama Ibu gue, gue lebih memilih nonton Alien ketimbang film Robin Hood karya Disney.
Tapi film itu pun yang menyebabkan gue takut setengah mati berenang di kolam, dan di laut. Pokoknya aktivitas apapun yang mengharuskan gue untuk berinteraksi dengan air, gue ogah, dan ketakutan ini berlangsung sampai gue kelas 3 SD. Akhirnya, setelah gue dipaksa ikut kursus dan berhasil berenang dari tepi kolam ke tepi seberangnya, dalam keadaan hujan badai yang membuat air kolamnya butek nggak karuan, atas dorongan Bapak gue, gue pun berhasil menghilangkan rasa takut dikejar-kejar Xenomorph di dalam air.
Selesai nonton film, gue kepingin makan yang berkuah karena, ternyata gue baru sadar bahwa makanan berkuah adalah comfort food buat gue, gue mendapat kabar yang nggak enakin. Jadi, ketimbang seharian mecucu dan menyebarkan hawa negatif ke seluruh penjuru Denpasar, gue memutuskan untuk makan Soto Betawi di Kafe Betawi.
Ditemani kerupuk oren yang rasanya terlalu bagus kalau dibandingin dengan kerupuk oren ala tukang ketoprak gerobakan, gue melahap Soto Betawi gue yang dihias dengan remahan emping dan bawang goreng. Rasanya nggak kayak Soto Betawi sama sekali, lebih kayak sayur lodeh. Terlalu banyak santan, terlalu manis, dan nggak ada gurih-gurihnya blas. Agak mengecewakan, tapi cukup untuk menghibur hati yang lagi gundah. Ditambahin sambel pun nggak ngaruh apa-apa karena rasanya tetap kayak sayur lodeh dan bukan rasa soto.
Sebelum meninggalkan Mal Bali Galieria, untuk ketemuan dengan Tante gue di daerah Seminyak, gue sempet mampir ke gerai Starbucks yang membuka cabangnya di mal tersebut dan membeli tumbler yang gue kepingin dari kapan tau. Sayangnya, desain tumbler yang gue mau udah nggak ada, karena udah lewat musimnya, jadinya gue pilih yang paling murah aja. Tadinya gue mau bayar pakai Starbucks Card, karena bisa dikasih diskon 10% untuk tumbler-nya dan dapat minuman gratis seukuran Tall, sayangnya mesin pengoperasian kartunya sedang error. Batal dapat diskon, deh. But I got me this tall-sized Iced Shaken Lemonade, with Passion Fruit Tea and less ice, so yay!
Yang tadinya mau ketemuan di Nalu Bowls harus diganti karena, saat itu, Nalu Bowls akan tutup dalam waktu satu jam. Akhirnya kami pindah haluan dan memutuskan untuk ketemuan di Earth Cafe yang terletak di sisi Jalan Kayu Aya.
Nggak susah kok untuk menemukan Earth Cafe ini karena terbantu dengan papan reklame warna hijau yang kemungkinannya kecil untuk kelewatan. Awalnya sempat bingung mau parkir di mana karena cafe ini mungil banget, tapi ternyata ada parkiran khusus di dalamnya yang bisa memuat mobil dalam hitungan jari dan beberapa motor.
Karena saat itu gue lagi sok-sokan mau menerapkan hidup hits dengan diet sehat, jadilah gue pesan chia pudding parfait ini yang nama aslinya gue lupa. Parfait ini terbuat dari chia seeds yang dicampur dengan almond milk hingga mengembang, yang kemudian dihias dengan potongan stroberi, potongan mangga, taburan kuaci dan goji berry, tumpahan pemanis alami yang terbuat dari kurma, sedikit yogurt, dan parutan kelapa kering. Wow, Kinan jadi vegan! Hidup vegan!
Gue nggak nyangka makanan sekecil ini ternyata semengenyangkan itu. Asli, gue kenyang banget makan beginian doang! Beberapa suap terakhir itu rasanya menyiksa, entah kenapa. Sebenarnya enak kok, meskipun kalau chia puddingnya dimakan sendiri aja akan terasa sangat hambar maka dari itu dikasih segala hiasan biar ada rasa sedikit, tapi lama-lama lidah gue bosen juga dengan makanan vegan dan organik ini. Gue sangat merekomendasikan parfait ini untuk kalian yang asli vegan dan yang sedang diet sehat.
Sementara itu, Ibu gue tengah sibuk dengan jamur goreng kriuk dan jus C4-nya yang terdiri dari wortel, timun, dan apel. Kenapa ya, rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau? Kayaknya enak banget Ibu gue ngunyah potongan-potongan jamur yang dibalut tepung garing nan gurih. Makannya pakai kecap asin pula, tambah enak kan jadinya!
Sudah, deh, setelah kenyang menyantap biji ngembang yang rasanya hambar itu, gue dan Ibu gue memutuskan untuk kembali ke Desa Pejeng. Sudah cukup jalan-jalannya di kota, besok-besok lagi kalau udah suntuk dengan sawah dan segala hutan belantaranya. Dan gue pun harus menyetir dalam posisi kekenyangan yang membuat gue agak mengantuk. Sip.
Kafe Betawi
Mal Bali Galeria
Jl. By Pass I Gusti Ngurah Rai
Opening Hours:
Monday - Sunday: 10AM - 10PM
Starbucks
Mal Bali Galeria
Jl. By Pass I Gusti Ngurah Rai
Gue kurang bisa menahan godaan kalau udah berurusan dengan SNCTRY. Bawaannya pingin ke situ terus, apalagi karena tempatnya nggak begitu jauh dari gereja gue. Seandainya jalanan Jakarta nggak padat kendaraan, mungkin bisa setiap hari gue sarapan di sana.
Kemarin gue jajan di SNCTRY untuk yang ke-248719 kalinya. Bohong, deng. Tapi, beneran, gue lupa itu kunjungan gue yang keberapa saking seringnya gue mampir ke health bar andalan gue setelah BerryWell.
Dari semua pilihan superfood bowl yang tersedia di SNCTRY, I decided to go with the Almond Chocolate. Dengan basis buah naga putih dan pisang, yang dicampur dengan almond mylk dan almond butter, superfood bowl yang satu ini bener-bener bikin gue ketagihan karena rasanya yang dominan pisang. Dan, tentu saja, homemade granola-nya patut diacungi jempol seperti biasa.
Selain superfood bowl-nya, gue juga membeli dua botol fresh-pressed juice bernama Holy Rose dan Verde. Holy Rose, entah kenapa gue tiba-tiba keinget air suci yang biasa gue usap di kening setiap misa jaman gue masih SD dulu, adalah jus yang terbuat dari campuran air mawar dan air kelapa. Iya, air mawar. Gue juga belum pernah nyobain air putih yang diodok-odok kelopak bunga mawar seumur hidup gue, ya, sampai kemarin itu! Dan rasanya rasa bunga. Enak, segar, manis, dan rasa bunga. Nggak jelek, tapi lucu, aja.
Sedangkan Verde, yang berhasil ditegak Ibu gue sampai habis, terbuat dari campuran kale, bayam, timun, dan anggur hijau. Asli sehat banget jus yang satu ini. Tapi, pasti kalian tau kan ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang baik, nah ini salah satu contohnya. Sehat, sih, sehat banget. Tapi, rasanya itu benar-benar rasa sayuran. Ibarat makan sup, tapi sesup-supnya diblender dan disaring.
My first burrito experience was nothing near the word "disappointment". I was overwhelmed at first, by how gigantic it is for a single portion, but I managed to devour the whole thing by myself. What was unfortunate is the fact that I was too full I couldn't manage to bring myself to order some taco.
It was at Taco Casa where I had my first burrito, a small and compact mexican restaurant at Ubud. It can fill in about twenty people in one serving, but the parking lot only fits a couple of car and a motorcycle. I didn't get any spot on my first try to park at the restaurant. I ended up having to drive a lap, came back, then parked my car at the freshly empty spot.
The place was filled with people, but there were some tables that were vacant. Mom and I got ourselves a table and immediately order.
There were not much to choose from the menu since they serve the typical Mexican food, such as taco, burrito, nacho, enchiladas, fajitas, and quesadillas. But, they do serve a wide range of meat! Steak, chicken, shrimp, they have it here, and of course with different set of price as well.
I went for the Chicken Burrito, while Mom get herself a plate of Beef Enchiladas. I have no idea what enchilada is. I just surfed the web and it's said that enchiladas are basically rolled meat-filled tortilla topped with a bucketful of tomato and chilly sauce. It kind of reminds me of lasagna, but they tasted different as lasagna uses pastry, while enchilada uses corn tortilla.
You may worry that the portion will be a bit too much for you, because it was for me, but if you're a heavy eater, you can just enjoy your meal and be merry.
My 8-layer Chicken Burrito was humongous. It was! I'm not the slightest bit joking when I say that the burrito had a bigger diameter than my wrist. Filled with chicken meat, guacamole, salsa, cheese, sour cream, rice, and two types of beans, I couldn't move after I finish my burrito.
It was delicious, but I have to say that all the ingredients wrapped inside that corn tortilla didn't have the flavor explosion that I hoped it would have. There were not one special flavor that stands out from the rest, everybody was delicious in their own way, yet they didn't blend into one orgasmic flavor. It was okay for my first burrito experience, but I think I'm more of a taco kind of girl.
Since we ate so much, Mom and I decided to order something healthy and rich-in-fiber drink. She had a glass of Pure Apple Juice, while I have me some Beetroot Carrot and Celery Pure Juice. Mom's drink was sour and sweet, like how apple juice is supposed to taste like, while mine tasted painful and it reminded me of grass. Healthy shit sure do taste horrible. Pleh!