Showing posts with label Surabaya. Show all posts
Showing posts with label Surabaya. Show all posts

Sunday, May 5, 2019

Santi's Cake's Spiku Kenari

Just as I got home, there was the mail man with a big box just in front of my house. I took a quick glance and spotted the word “makanan”, which is “food” in English. I was expecting for a delivery, either today or tomorrow, and turned out my package was delivered today. “Is it for Kinan,” I asked the mail man. He nodded and handed me the big box that had stickers on it that said, “URGENT” and “FOOD. DO NOT FLIP”. I went inside the house, excitedly opened the box, and was welcomed with two boxes of Santi’s Cake Spiku Kenari, woohoo! 

Urgent delivery for Kinan!

Choose the size of your liking.

Quality check is a must!

Just how on earth shouldn't I be excited.

So, last week, the owner of Santi’s Cake, who goes by the name David, reached out to me and said that he wanted to send me his homemade Spiku. Spiku (most Indonesian are more familiar with the term Spikoe, or Lapis Surabaya) is actually derived from an Indonesian-Dutch dessert named Spekkoek. Although the two are somewhat different from one another, the basic method of baking the cake is pretty similar, which is baking stacks of layered batter. While Spekkoek, or Kue Lapis Legit, has numerous layers and consists of Indonesian spices, such as cinnamon, cloves, cardamom, and nutmeg, Spiku has only two to three layers of cake and is made entirely of cake batter and natural food coloring, like cocoa powder. 

Mom holding the entire cake effortlessly. 

Walnuts galore!

Just a slice away and I couldn't wait any longer.

David might did some alteration to his cake by adding a dash of modernity because his Spiku Kenari has no layers. It’s just a large, yet light and fluffy, cake with a sprinkle of diced walnuts. (Now, the walnuts we have in Indonesia are much different than those walnuts you see on Tv. I may be wrong, because the two, when translated to Indonesian, are both “kacang kenari”, so I apologize in advance if I gave the wrong information. Do enlightenment on this subject!) It is very thick, but I bullshit you not about how light it was. Mom and I got to try lift one of the cakes, which was the big one, with each of our hands and we both agreed that the cake is far from heavy. I don’t think it even weights a kilo! 

Look at that cross-section!

Doesn't it reminds you of a sunflower?

Mom took the liberty of slicing the cake. She didn’t need any effort to ram the knive into the cake as it was very fluffy and moist. With one quick move, she managed to slice the cake evenly. No crumbs, no cracks, just a perfect cross-section of it, and boy was it beautiful. The brown surface of the cake hid a beautiful perfect yellow cake inside. I love how the color combination reminded me so much of a beautiful sunflower.  

It was a full house today, my aunty and my cousins were at home, so the five of use got to try a slice of the cake each. The first thing that popped in each of our heads was the same: fluffy. The cake was very fluffy and fairly moist. At first glance, I thought the cake would be dry, yet I stand corrected after my first bite. The texture reminded us of how a sponge cake should be, yet it was more moist and more dense. On the other hand, it was not as heavy, nor as solid, as a Lapis Surabaya. So, in terms of texture, it goes without saying that it ranks above sponge cake, yet below Lapis Surabaya. 

Another slice 'cause one will never be enough.

Hello, beautiful!

The sweet flavor is not sickening, although we could hint the piquant vanilla essence that dominated the whole flavor wheel. I assume no spices were used in the making of this cake because there was no significant kick of nutmeg, nor cardamom, whatsoever. Unfortunately, I’m no fan of walnut, so I did no justice in distinguishing its’ role in the cake. To me, walnuts taste bland. Period. But, I do love to have a different crunchy and chewy texture to chew on in between my cake, so it was good nonetheless. 

The color combination fulfill my aesthetic needs.

Don't you just want to have a bite of this Spiku Kenari?

The cake was probably sent all the way from Surabaya yesterday and it landed safely at Bekasi today, and the fact that it arrived safely intact and still have a good quality to it awes me. 

For those of you who live in Surabaya and Denpasar, or other cities in Indonesia, and want to get a bite of this cake, y’all can head straight to Santi’s Cake Instagram to obtain the information you needed on how to order this cake. It’s time to give modernity a shot! 

Dig in!


Santi's Cake
Available for online order

Contact:
Surabaya: +62 815 5211 1800, or +62 812 3262 767
Denpasar: +62 819 9906 5826


Saturday, December 22, 2018

Pagi.

Pagi harinya Surabaya itu memang nikmat, ketika angin masih bertiup sepoi dan teriknya mentari belum tumpah memenuhi padatnya jalan raya akan kendaraan yang bersaing untuk sampai ke tujuan masing-masing lebih dulu. Setelah dua pekan aku habiskan dengan seragam, tanpa ada waktu rehat yang cukup untuk memanjakan diri dengan secangkir kopi, beberapa batang rokok, dan tempat yang nyaman dengan santapan cantik, akhirnya aku di sini. Di Volks Coffee. 

Flat White sudah menjadi minuman andalanku sejak dua hari yang lalu, ketika ia memperkenalkanku dengan secangkir kopi dan susu yang tidak kalah menarik dengan cappuccino bergambar angsa, atau teh hangat beraroma buah-buahan. Perbandingan susu yang lebih banyak daripada ekstrak kopi ini memang cocok untuk aku yang gampang bereaksi ketika bersentuhan dengan kafein. Selamat tinggal, tremor. Selamat tinggal, irama jantung yang pecah bagaikan kembang api di malam Tahun Baru. 


Aku tidak tahu, apakah rasa yang menjadi tujuan utamaku, atau penampilan. Tapi, yang pasti aku senang. Potongan-potongan buah bertaburan di atas perpaduan buah-buahan tropis yang sudah dilumatkan menjadi makanan pembuka yang sangat cantik pagi ini. Menjelang siang. Tapi, tidak apa. 


Volks Coffee
Jalan Tamrin No. 34
DR. Soetomo, Tegalsari 
Kota Surabaya, Jawa Timur 60264

Opening Hours: 
MON - SUN: 8.30 AM - 8PM

Contact: 
+62 813 5765 8829

Sunday, December 2, 2018

Sego Sambal Mak Yeye

“Apa, sih, yang lo suka dari Mak Yeye,” tanya gue kepada Afif. “Ya, gue suka penyetannya, Kin,” jawabnya, “gue suka sambelnya, telornya, ikan peinya, tempenya. Ya, penyetannya!”. Jawabannya nggak ada yang masuk di nalar dan, buat gue, agak sedikit bias. “Sebenernya, yang bikin enak itu joroknya, Kin,” tambahnya lagi, “nggak tau, kan, lo di dalem sambelnya itu sebenernya ada iler Genderuwonya.”. Waduh. 

Sego Sambel Mak Yeye adalah salah satu kuliner legendaris di Surabaya yang letaknya hanyalah di sebuah gang kecil di Jalan Jagir Wonokromo. Tempat makan ini memonopoli gang tersebut, di mana di kanan kiri gang tersedia meja dan kursi untuk tamu makan, tapi lokasi penjualannya hanya satu dan sangat-sangat kecil. Ibarat semut mengerubuti remah martabak yang tercecer di lantai, beginilah situasi saat kami beradu urutan dengan warga lokal untuk memesan beberapa porsi penyetan. Kami berempat, ada gue, Afif, Ega, dan Mas Koko. Sementara Afif dan Mas Koko sibuk mengantri, gue dan Ega menyibukkan diri dengan hp kami masing-masing. 


Kurang lebih setengah jam lamanya gue dan Ega menunggu di meja yang kami tempati, di salah satu bangunan yang dijadikan sebagai tempat makan, barulah Afif dan Mas Koko datang membawa dua pasang piring berisikan nasi dan lauk-pauk yang terlihat biasa saja dan nggak begitu menggugah selera. “Dua asin, dua manis, kan.” tanya Afif memastikan. Punya gue yang manis, entah apa yang membedakan dengan yang asin karena tampilannya nggak ada bedanya. “Kalo yang manis itu dikasih gula, Kin,” jelas Ega, “jadi di sambelnya itu ditaburin gula biar manis.”

Kan, biasanya, khasnya penyetan itu adalah lauk yang dilumati (biasanya dengan ulekan, atau beban hidup) yang kemudian dicampur dengan sambal dan baru disajikan di atas nasi. Nah, sebenarnya, kalau mau dibilang “penyetan”, nasi dan lauk Mak Yeye ini nggak bisa tergolong sebagai penyetan karena lauknya nggak dibenyek-benyekin; lauknya hanya diletakkan saja di pinggiran nasi dan sambalnya dituangkan di atasnya. Kalau gue pribadi lebih senang menggolongkan kuliner khas Surabaya ini dengan “sego lawuh”, atau nasi lauk kalau diartikan ke bahasa Indonesia. 

Nasi pulen yang menggunung ditimpa dengan dua potong tempe goreng, satu telur dadar, satu potong ikan pei, dan tumpahan sambal yang kelihatannya pedas banget. Ikan Pei itu ikan apa? Gue awalnya nggak tahu. Gue udah keburu melahap beberapa suwir saat Afif memberitahu gue bahwa itu adalah ikan Pari. Hancur hati gue saat gue tahu karena gue udah berniat untuk nggak memakan ikan Pari. “Lho, kenapa emangnya, Kin,” tanya Afif. Gue udah beberapa kali menyelam di laut dalam dan terkagum-kagum saat melihat sekawanan Ikan Pari berenang berkeliling gue, dan mereka sangat-sangat cantik dan gue udah terlanjur sayang dengan ikan tersebut. Gue nggak sampai hati untuk sengaja memakan mereka. “Ya, masa gue makan temen, Fif,” jawab gue. Yang bikin gue makin sedih adalah ternyata rasa daginnya enak. Dagingnya manis dan empuk, dan rasa gurihnya agak-agak mirip dengan rasa daging ikan Tuna. Dagingnya diasap dan rasa asapnya terasa di setiap gigitan. Sama sekali nggak amis. Kalau kalian penasaran rasa ikan Pari kayak gimana, nggak usah ditanggepin, ya, rasa penasarannya. Please. Mau nggak mau gue harus menghabiskan jatah ikan Pei yang ada di piring gue karena gue nggak mau ikan itu mati sia-sia. 


Harus gue akui, sambalnya memang nikmat banget. Rasanya gurih dan manis, asinnya pas, dan pedasnya luar biasa gue sampai kehabisan nafas dan berucucran keringat. Kombinasi lauk yang paling top, menurut gue, adalah nasi, telur dadar, dan sambal itu sendiri. Telur dadarnya sangat berminyak, tapi gurih dan asin. Teksturnya kering, agak lembut di bagian tengahnya, dan tipis banget. Udah pasti telur ini nggak bagus buat kesehatan, tapi kadang justru makanan yang nggak bagus buat kesehatan lah yang enaknya nendang. Tempenya nggak berkesan sama sekali karena rasanya yang tawar dan pemotongannya yang terlalu tebal sehingga nggak ada garing-garingnya sama sekali ketika digigit meskipun sudah digoreng. 

Jujur, gue menikmati banget sambal yang disajikan di Sego Sambal Mak Yeye. Meskipun nggak ada faktor “wow” yang bisa dibanggakan, tapi gue tetap merekomendasikan sajian kuliner khas Surabaya ini bagi kalian yang belum pernah mencicipi. Tapi, boleh nggak gue minta satu hal? Kalau kalian mau makan di sini, nggak usah pakai ikan parinya, ya? Nggak tega. 


Sego Sambal Mak Yeye
Jalan Jagir Wonokromo Wetan, No. 10
RT005 RW006 Jagir
Wonokromo, Kota Surabaya 
Jawa Timur 60244

Contact: 
+62 821 4065 2797

Opening Hour:
MON - SUN: 9PM - 4AM

Available on Go-Food 

Wednesday, October 31, 2018

Coffee at Louis with Myself and I

After days of eating just instant noodles and microwaved tteokbokki for breakfast and lunch, I decided to treat myself to a nice and beautiful brunch at Coffee at Louis. My best friend recommended me this dining place. “The food is good, and the place is very pretty and not too crowded with Surabayans,” she said. I’ve been wanting to drop by since months ago, but Surabaya was just too hot for me to function. Yet, finally, I got up today, went to the hospital to do some checkups and brought myself out to eat. 


Breakfast at Louis'

My refillable cup of Creme Brulee Tea

I did some research on Coffee at Louis’ Instagram page, where I scan all the food and beverage on the menu and decide on what I want to have. I obviously settle for the non-carb option, which is the Chicken Salad. But, then, I saw this new dish they have, a dessert menu named Pouched Pear, and it caught my attention instantly. I have never had pouched pear before, hence being unfamiliar with how it should taste, so I gave it a try. 

They have all sorts of cakes and cookies here at Louis'

The staff was a very friendly and assertive man. He greeted me and welcomed me, asking on how many person would be dining today. “It’s just me,” I answered, and he escorted me to the indoor seats, which then I cut as he was pointing at a table for two, saying that I’m going to sit outside because I need to smoke. Still with a smile, he opened the door for me and gesture politely to another table for two in the open. He went back inside, then came back a minute later with a glass of water on the house and an ashtray. 

I love how the place is not jammed-pack with people. It’s easier for me to function in public when there are less people, and I managed to finish all the things that needed to be done with my laptop today in a snap of a finger. 

This fulfills my aesthetic needs

The sight of the indoor seating

My Chicken Salad didn’t look as beautiful as I wanted it to be, but the quality of the food is amazing. The greens were rather cooked as they were topped with slices of grilled chicken, but it’s okay. There were diced croutons here and there, along with slices of baby tomato. The portion of the grilled chicken was rather generous. I got the thigh part of the chicken and, even though I’m more of a breast person, it was delightfully delicious and very much enjoyable. 

I love how the chicken skin was very crispy and savory. I don’t usually like chicken skin, but this one was an exception. The meat was very tender and delicious, and it had this level of umami that was just on point. There wasn’t much dressing on the greens, but I could tell that it was balsamic vinegar. 

Some greens to go with your cup of Joe

My share of Chicken Salad

To be honest, all of the ingredients of the salad didn’t manage to work together as a team as they had their own spotlight of flavor that stood out from each other. Like, the egg, for example. The egg was just boiled and sliced in half, and it was just there sitting on the side of the plate waiting to be eaten. I tried to combine it with all of the elements in the plate in a spoonful of a bite, but the flavor just didn’t merge well. But, hey, it’s a salad. Nothing can go wrong. It’s just a matter of personal choices. 

My first Pouched Pear I've ever taste

Drizzle drizzle drizzle!

After I finished my salad, I moved on with my Pouched Pear, which was cold. I thought, the name “pouched” would make the pear hot from  coming out straight from a pan, but it seemed that I had the wrong idea. 

The dessert was very beautiful and it had, in my opinion, this autumn vibe going on with all the color selection. It came with a tiny cup of spiced syrup, while the pouched pear laid there majestically on a bed of vanilla yogurt, circled with Coffee at Louis’ house made granola. It was a delightful sight for sore eyes.

Autumn-like dessert
I cut through the poached pear to find that the pear was rather tender, like as if it was poached, but still had this crispness of a fresh pear here and there. I scooped some of the vanilla yogurt, along with the spiced syrup and the house made granola, and brought the spoonful of delicious goodness into my mouth. Damn, it was delicious!

I put a bit too much of the spiced syrup into my pear, making it way too sweet for my taste. But, it still tasted amazing. The pear tasted fresh, sweet, and juicy, and the flavor blended well with the cinnamony granola and the solid vanilla yogurt. I have never experienced autumn in my life, but every bite of the dessert pear that went into my mouth felt like how fall season should be. 

I also ordered a cup of hot Creme Brulee tea to go with my food. The aroma of the tea was really like Creme Brulee: all toasty and sweet and caramel like, which blowed my mind. I didn’t put any sugar into my tea, because that’s how I drink my tea, yet it still tasted delicious. 

Guys, in all seriousness, if you feel like having a quiet me-time while still able to enjoy good food, do visit Coffee at Louis. You won’t regret a single second. 


Coffee at Louis
Jl. Trunojoyo No. 69
D.R. Soetomo, Tegalsari
Kota Surabaya, Jawa Timur 60264

Opening Hours:
WED - MON: 7AM - 9PM

Contact:
+61 21 822 3304 6369


Sunday, October 28, 2018

Ke Newborn: Coffee & Friends Lagi

Tiga bulan berlalu dan gue berhasil menyisihkan waktu untuk mampir lagi di kedai kopi kepunyaan Pak Eko. Kali ini nggak sendirian, gue mengajak sahabat gue yang, saat itu, sedang dinas di Surabaya. Kami bertiga disambut dengan kesunyian kedai kopi tersebut. Mas Ganang sudah tidak ada, digantikan oleh barista baru yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Mau berkenalan juga lupa, kita panggil saja dia Mbak Mawar. 

Wajah ovalnya dihias dengan sepasang kacamata berbentuk kotak. Rambutmya dikuncir, kemejanya bermotif kotak-kotak, yang ia tutupi dengan celemek sederhana berewarna hitam. “Pak Eko ada, Mbak,” tanya gue. Mbak Mawar menggeleng singkat sambil memamerkan senyum kecilnya. “Pak Eko masih di jalan, Kak,”balasnya dengan suara kecil. Ah, ya sudah, toh gue ke Newborn karena mau mengenalkan teman-teman gue dengan sajian minumannya yang apik dan murah. Nggak ada Pak Eko juga nggak apa-apa, kok. 

Sally dan Chacha sama-sama memesan minuman andalan khas Newborn yang, sayangnya, gue lupa namanya apa, sementara gue memesan satu gelas Belgian Hot Chocolate karena asam lambung gue yang akhir-akhir ini suka kambuh-kambuhan. Hanya ada Mbak Mawar yang berjaga di kedai siang itu, jadi semua minuman yang kami pesan disiapkan oleh beliau. Meskipun begitu, pelayanan tetap cepat dan rapi. Nggak lama kemudian, radio mulai memainkan rentetan lagu yang menurut gue sangat tidak cocok untuk diputarkan di sebuah kedai kopi: lagu-lagu EDM (alias, Electronic Dance Music).. versi remix.. dan agak dibikin dangdutan. Duh. 


Minuman kami datang hampir berbarengan. Gue dan Chacha nggak tahan untuk nggak melenggangkan badan kami sesuai dengan irama musik yang sedang dimainkan. “The monsters running wild inside of me, I’m faded DUNG TAK DUNG DUNG TAK DUNG DUNG TAK DUNG DUNG TAK DUNG,” begitu bunyinya. Tengah Sally menggelengkan kepala karena, mungkin, merrasaa jijik melihat tingkah laku kami, Mbak Mawar datang dengan satu shot glass berisi minuman pekat berwarna hitam. 

“Lho, Mbak, minumannya udah keluar semua, kok,”ucap gue.

“Ini dari Pak Eko, Kak,”balas Mbak Mawar, “kemarin biji kopinya baru dateng. Sambil dicoba buat jadi menu baru.”. Wah, hati senang kalau bisa mencicipi menu baru begini. 

Kata Mbak Mawar, nama biji kopinya adalah Kerinci Black Honey. Buih kopinya berwarna coklat kekuningan sehingga membuat minuman tersebut nampak mirip dengan madu. Teksturnya agak pekat. Kami bertiga bergantian menyicipi kopi baru dari Newborn: Coffee & Friends tersebut dan tasting notes kami bisa dibilang cukup sama, yaitu tingkat kemasaman yang cukup tinggi dengan sedikit manis yang seperti manisnya madu. Kopinya sendiri cukup ringan untuk diminum ketika santai. 

“Ket, lo kok enak sih dikasih kopi gratis,” ucap Sally. Gue hanya membalas dengan tawa kecil karena gue pun nggak tau bagaimana caranya gue sampai bisa disuguhi kopi berkali-kali oleh Pak Eko. 

Belum habis Kerinci Black Honey barusan, tiba-tiba datang lagi Mbak Mawar ke meja kami sambil menyajikan minuman gelap di gelas yang lebih besar, kali ini dengan berhiaskan es batu beberapa tumpuk. “Lho, Mbak, kok dikasih lagi,” tanya gue, yang kemudian dibalas dengan, “Iya, Kak, nggak apa-apa. Biar nyoba.”


“Kalau yang ini house specialty kita, Kak,” tambah Mbak Mawar. “Oooh, ini mocktail, Ket,” sanggah Sally, matanya menelusuri daftar menu minuman di dinding atas meja kasir. Sebenarnya, gue lebih senang cocktail ketimbang mocktail karena mocktail itu nggak beda jauh dari sirup. Kalau cocktail kan lebih nendang karena ada alkoholnya. Bukan begitu, bukan? 

“Ooh, ini Black Mamba, ya,” sahut Chacha. Mbak Mawar mengangguk dari balik kasir. 

Entah campuran apa yang ada di dalam mocktail ini, tapi rasanya persis seperi balsam yang dibubuhi gula: pedas, hangat, dan manis. Seandainya cocktail bohong-bohongan ini nggak dikasih es batu, gue pasti kan mengira minuman ini adalah jamu. 

Waktu itu sudah pukul 4 sore. Kami masih ada janji lagi untuk bertemu dengan teman-teman yang lainnya di Tunjungan Plaza. Padahal niat awal gue adalah untuk menunggu Pak Eko datang sambil menikmati kopi, tapi mau bagaimana lagi, janji harus ditepati. Kami bertiga pamit dengan Mbak Mawar. Gue langsung membuka aplikasi Instagram dan mencari akun Newborn: Coffee & Friends yang dioperasikam oleh Pak Zeko sendiri untuk memberi salam terima kasih. “Kopinya baru dateng kemarin, tuh,” balas Pak Eko cepat. “Iya, Pak, nanti kapan-kapan saya main lagi, yaa.”. Nggak lama, GoCar kami datang dan kami mulai menelusuri Jalan Arjuno sampai ke Tunjungan Plaza. 



Newborn: Coffee & Friends
Jl. Arjuno, No. 144
Sawahan, Surabaya
Jawa Timur 60251

Opening Hours:
Monday - Thursday: 12 PM - 12 AM
Friday - Saturday: 12 PM - 1 AM
Sunday: 7 PM - 12 AM

Wednesday, September 19, 2018

Akhirnya Kesampaian ke Holy Wings

Udah tiga kali, dalam dua bulan terakhir, gue ke Holy Wings tapi gagal terus dapat tempat duduk, yang berujung gue (dengan keadaan hati yang gondok) terpaksa kembali ke kostan. Ya, mau bagaimana lagi, ya, wong gue datangnya pas akhir pekan, udah pastinya tempat itu ramai pengunjung bermabuk-mabuk ria. Akhirnya, sore ini gue memutuskan untuk berkunjung ke tempat nongkrong tersebut pas di jam bukanya. Berhubung hari ini hari kerja, gue sangat yakin gue akan mendapat kursi kosong. Kalau sampai nggak, berarti kebangetan, soalnya gue cuma seorang diri.

Holy Wings mempunyai konsep yang agak mirip dengan Pao Pao, di mana tempat nongkrong ini adalah restoran merangkap bar. Makanan andalannya adalah chicken wings dan pentol yang disajikan dengan berbagai macam bumbu. Makanan lain pun ada, yang pakai nasi juga ada, tapi kebanyakan makanannya adalah cemilan untuk menemani alkohol yang kalian pesan. Pilihan alkoholnya banyak banget, bisa pun kalian ke bar dan menunjuk ke botol mana yang kalian mau. Tapi, jangan lupa untuk menyiapkan lembaran seratus ribu yang banyak karena harga makanan dan minuman di tempat ini lumayan mahal.


15 menit lewat jam bukanya, yaitu pukul 5 sore hari, gue disambut oleh salah satu pelayannya yang berjaga di pintu masuk restoran tersebut (restoran merangkap bar lah, ya). "Berapa orang, Kak," tanya si Mbak mungil. "Saya sendiri, Mbak". Lalu gue diarahkan ke meja yang bisa menampung 10 orang. Baiklah.

Sampai sekarang, gue masih menjadi pelanggan pertama dan satu-satunya pelanggan di Holy Wings. Nggak ada orang sama sekali! Bahkan para staf Holy Wings pun masih sibuk dengan mengecek sounds system untuk live music yang entah jam berapa akan dimulai. Para staf yang berjaga di belakang bar pun tengah berlatih lemparan-lemparan botol dan gelas kocoknya. Seandainya suara dentuman musiknya nggak terlalu menggelegar, gue jamin bisikan para jangkring bisa terdengar. Krik krik serr~

Sambil menunggu Salted Egg Chicken Wings, gue menghabiskan waktu dengan menulis, ditemani oleh segelas teh tawar panas. Nanti, kalau kalian mau pesan minuman yang sama dengan gue, jangan bilang "teh tawar panas", ya. Mintanya, "hot tea". Kalau ditanya, "Pakai gula, nggak?", baru deh jawab sesuai dengan kebutuhan.


Ditengah-tengah tulisan gue tentang Rumah Makan Apeng, pesanan gue datang: Salted Egg Chicken Wings yang udah gue impi-impikan dari tiga kali kunjungan gue yang kunjung gagal. Satu porsi harganya Rp45.000,00 dan isinya adalah tiga potong paha dan tiga potong sayap. Gue diberikan dua pasang sarung tangan plastik dan satu buah ember kecil oleh pelayannya. Gue singkirkan laptop ke samping gue, lalu gue mulai melahap ayam goreng tersebut dengan diiringi dentuman irama yang membuat gue ingin memesan bir Bintang ukuran besar. Sayang besok gue terbang.

Karena gue diberikan meja di bawah pohon sintetis, gue nggak mendapat penerangan yang cukup untuk mengabadikan tampilan chicken wings-nya dengan mode kamera biasa. Maka dari itu, saatnya Huji beraksi!

Satu porsinya berisi enam potong ayam, yaitu tiga paha dan tiga sayap. Disajikan dengan mangkuk alumunium yang beralaskan wadah kayu, tampilan chicken wings yang cukup sederhana ini berhasil membuat mulut gue banjir air liur. Padahal masih panas, tapi tetap gue santap dengan semangat 45.

Ayamnya digoreng dengan sangat sangat baik, di mana kulit dan tulang mudanya sangat garing, tapi dagingnya tetap empuk. Agak sedikit berminyak, tapi nggak apa-apa, dan bumbu telur asinnya sangat berlimpah. Bahkan di dasar mangkuknya masih ada dan menggenang sehingga bisa gue cocol dengan suwiran daging pahanya. Di depan gue adalah bar yang dipasangkan empat buah televisi besar yang sedang memutar Star Wars: the Last Jedi. Gue berasa seperti makan di rumah: sambil nonton tv.


Setelah ayam gue habis, gue masih belum mau pulang, jadilah gue pesan satu porsi Babi Panggang Bangka seharga Rp75.000,00. Gue lupa bentukan babi panggang asal Bangka itu seperti apa, jadilah gue tanya salah satu pelayannya untuk menjelaskan ke gue tentang makanan tersebut. Sayang, pelayan itu nggak tau dengan makanan yang disajikan di tempat restoran tempat dia sendiri bekerja. "Itu, mmm, kayak babi guling gitu, Kak. Ada pork belly-nya dan kulit keringnya," jelas si Mbak setelah bertanya ke beberapa teman kerjanya. Ya udah lah, lebih baik gue pesan aja biar gue tau sendiri.

Gue pikir porsinya besar karena harganya yang cukup mahal, ternyata cuma sedikit banget. Disajikan di mangkuk kecil, berhiaskan daun pisang yang ujung-ujungnya gue buang, potongan Babi Panggang Bangka itu disajikan dengan sambal pedas di mangkuk kecil terpisah. Potongannya sangat kecil dan sangat tipis, tapi rasanya luar biasa!


Betul kata si Mbak, memang Babi Panggang Bangka itu seperti babi panggang pada umumnya, hanya saja bumbunya yang beda. Kulitnya garing banget, seperti kerupuk saat digigit, dan rasanya sangat gurih, sementara dagingnya kering dan alot, tapi rasanya manis dengan sedikit ada rasa rempah-rempah. Untungnya, rasanya sama persis seperti babi panggang asal Bangka yang waktu itu sempat dibawakan salah satu Oom gue sepulangnya dia dari Bangka, jadi gue nggak kecewa sama sekali dengan porsinya yang sedikit dan cukup mahal ini.

Gue saranin, kalau kalian mau ke Holy Wings di akhir pekan, kalian bikin reservasi tempat dulu dengan menelfon nomor di bawah ini. Asli, sakit hatinya berkepanjangan kalau nggak dapet tempat. Mau nunggu, sih, bisa, tapi meja mana yang akan kosong di akhir pekan, kan? Pilihannya antara sabar, cari tempat lain, atau balik ke kostan dan pesan bir Bintang via Go-Jek.


Holy Wings
Jl. Kertajaya Indah
Blok S No. 201
Kertajaya, Surabaya 60116

Opening Hours:
MON - THU: 5PM - 11PM
FRI - SUN: 5PM - 2.30AM

Contact:
(+63) 811 319 8168 

Rumah Makan Apeng Kwetiauw Medan

Makanan Medan di Surabaya? Nggak masalah!

Malam Minggu gue akhirnya berwarna. Yang biasanya hanya gue habiskan di depan laptop, nontonin video-videonya BuzzFeed di YouTube, kali ini gue jalan-jalan keliling Surabaya bersama salah satu sahabat gue sedari SMP dan beberapa teman baru. Kami berempat, ada gue, Sally, Cacha, dan Icha. Kami menempati jejeran bangku di depan sebuah restoran, yang kabarnya makanannya enak banget, dan kami memegang nomor antrian ke-12. Padahal waktu itu udah hampir pukul sembilan malam, yang artinya waktu makan malam udah jauh lewat, tapi restoran ini masih penuh oleh warga Surabaya menikmati hidangan oriental di dalamnya.

Mari kemari yang lapar malam-malam!

Rumah Makan Apeng Kwetiauw Medan adalah salah satu restoran di Surabaya yang digemari masyarakat sekitar, begitu juga dengan pendatang-pendatang dari luar kota. Dari luar, restorannya nggak terlalu kelihatan besar, tapi pas masuk ternyata luas dan lebarnya ke dalam bukan ke samping. Sally yang hanya beberapa kali dinas ke Surabaya aja udah duluan nyobain hidangan dari RM. Apeng, padahal gue udah tinggal di Kota Pahlawan ini hampir setengah tahun lamanya. 

Menu 1
Menu 2

Kami harus mengantri cukup lama karena padatnya pengunjung malam itu. Sekitar setengah jam dan satu piring kue lobak seharga Rp10.000,00 kemudian kami dipanggil oleh salah satu pelayan yang memakai seragam layaknya taruna IPDN. 

Tampilan dalam restorannya sangat sederhana, hanya meja, kursi, dan dapur tempat memasak makanan. Kami diarahkan ke meja kami yang letaknya agak di bagian belakang restorannya. Kami hanya butuh 5 menit untuk menentukan makanan dan minuman apa yang mau kami pesan, kemudian penantian kembali dimulai. 

Kue Lobak yang hasil fotonya agak buram. 

Kelihatannya proses pemasakannya cukup cepat meskipun tamu lagi ramai-ramainya. Kurang dari setengah jam kemudian, pesanan kami dihidangkan semua di meja: 3 porsi mie keriting goreng, 15 buah pangsit goreng, satu kaleng susu kacang, satu botol air mineral, satu gelas teh manis hangat, dan satu gelas teh tawar hangat. Kedengerannya memang biasa aja, tapi ini mewah banget. 

Karena sebelumnya gue baru aja melahap satu porsi salad buatan Crunch Haus sendiri, dan setelah dari Apeng kami berencana untuk mampir ke Holy Wings, gue memutuskan untuk berbagi Mie Keriting Goreng dengan Chacha. Porsinya cukup untuk satu orang, tapi kalau kalian datang ke sini dengan keadaan lagi lapar-laparnya, gue rekomendasi kalian untuk memesan satu setengah porsi. 

Mie Keriting Goreng

Ternyata Mie Keriting Goreng ini adalah campuran mie goreng dan bihun goreng yang dimasak dengan telur orak-arik, potongan bakso ikan, lembaran sawi dan tauge yang nggak begitu banyak, dan lapchiong. Tampilannya berantakan banget, seperti habis di aduk-aduk sembarangan di penggorengan, tapi itulah yang membuat gue cukup nggak sabar untuk menyantap meskipun waktu itu keadaan lambung gue udah hampir penuh. 

Gurih dan enak. Telur orak-arik yang tercampur dalam untaian mie dan bihunnya mengingatkan gue akan mie goreng tek-tek abang-abang yang biasa dijual di gerobakan. Asinnya cukup, tauge dan sawinya berhasil memberikan jeda dari gurihnya keseluruhan santapannya. Yang paling gue demen dari semua lauk yang ada di piring itu adalah potongan lapchiongnya yang sedikit terlalu tipis untuk gue. Manis, gurih, babi, dan nendang banget! Gue nggak kecewa dengan Mie Keriting Goreng buatan Apeng ini, tapi mungkin gue udah menetapkan standar yang terlau tinggi karena Sally dan kawan-kawan yang lainnya sangat semangat ketika merekomendasikan gue hidangan ini, jadi di suapan pertama gue udah keburu kecewa duluan. Nggak ada faktor “wow”-nya, tapi bukannya nggak enak. 

Pangsit Goreng

Kenikmatan pangsit gorengnya melebihi pangsit goreng buatan Bakmi GM. Mungkin karena diisi daging babi kali, ya, jadi di lidah gue rasanya enak banget. Ada pilihan daging lain, kok, buat kalian yang nggak makan, atau nggak doyan, babi. Saus celupannya juga mirip dengan yang ada di Bakmi GM, berwarna merah pekat dengan sentuhan merah jambu, kental, dan manis. Tapi, gue masih lebih suka saus pangsit gorengnya Bakmi GM ketimbang ini. 

Nggak butuh waktu lama bagi gue untuk menghabiskan makan malam kedua gue. Setelah makan, gue tutup dengan sekaleng susu kacang yang manis dan sebatang rokok. Nikmat dunia.


P.S. Kalau kalian kedapetan nomor antrian yang cukup jauh, di depan restoran ada etalase besar kepunyaan restoran itu juga yang menjual berbagai macam kudapan khas Medan, jadi kalian bisa nunggu sambil nyemil. Jajanan pasarnya cukup terjangkau, mulai dari Rp10.000,00 sampai Rp30.000,00. Kue-kue juga ada. Tapi, jangan banyak-banyak makannya, nanti keburu kenyang duluan sebelum makan di restorannya. 

Bermacam-macam jajanan asal Medan di depan restoran.

Banyak pilihannya, monggo dipilih.

Jangan dilihatin, tok, sambil dibeli, 


Rumah Makan Apeng Kwetiauw Medan
Jl. Kedungdoro No. 267, Wonorejo
Tegalsari, Kota Surabaya
Jawa Timur 60251

Opening Hours: 
MON - SUN: 8.30AM - 11PM

Contact:
+(62)31 534 5778

Monday, September 17, 2018

Jank Jank Wings

Akhir-akhir ini gue lagi doyan-doyannya makan chicken wings. Padahal, selama 23 tahun lebih hidup gue di bumi, gue nggak bisa makan bagian ayam lain kecuali bagian dadanya. Tapi, entah sejak kapan, semua itu berubah. Gue mulai bisa makan bagian sayap sampai ke tulang-tulangnya. Bagian paha pun perlahan mulai gue tekuni. Bahkan sekarang gue udah bisa makan ayam goreng digigit langsung tanpa disuwir dulu seperti biasanya. Perubahan yang cukup signifikan, bukan?

Hari minggu kemarin, gue mencoba chicken wings garapan Jank Jank Wings yang berlokasi di daerah Rungkut. Gue beli 18 potong sayap ayam dengan tiga saus yang berbeda, yaitu Cheese, Barbeque Hickory Smoke, dan Hot Gaprok, dengan harga total Rp90.000,00 sudah beserta ongkos kirim ke daerah Surabaya Timur. Karena jarak Rongkut dengan hotel tempat gue menginap nggak begitu jauh, gue hanya perlu menunggu sekitar setengah jam saja sampai pesanan gue sampai. 

Ayamnya digoreng dengan sejenis tepung yang membuat potongan ayam tersebut mirip dengan tampilan ayam McDonald dan ayam Sabana, hanya saja sepertinya digorengnya kurang lama karena warna hasil gorengannya masih kuning langsat dan bukan kuning kecoklatan. Meskipun begitu, hasil gorengannya cukup bagus, menurut gue, dilihat dari tnigkat kerenyahan kulit ketika gue gigit dan gue suwir. Dagingnya cukup empuk, sayangnya warnanya agak pucat. 

I present you, Jank Jank's chicken wings!

Dari tiga saus yang gue pesan, yang paling gue suka adalah saus Barbeque Hickory Smoke. Rasa barbequenya nggak terlalu membuat mual, manisnya nggak berlebihan, dan yang membuat saus itu enak adalah rasa asap, atau smokey flavor-nya, yang ketara banget. Ada sedikit rasa merica di dalam saus itu juga sehingga membuat varian rasanya semakin beragam.

Rasa saus kejunya cukup gurih dan sedikit asin, cocok dipadukan dengan suwiran daging ayam yang empuk dan lembaran kulitnya yang kriuk. Sayang, sausnya terlalu encer. Padahal kalau dibuat lebih kental akan lebih nendang dan, mungkin, bisa ngalahin saus barbeque tadi. 

Look at them crispy wings. 

Saus yang terakhir adalah saus Hot Gaprok, yang pada intinya adalah saus pedas dengan sedikit rasa manis yang rasanya mirip-mirip dengan rasa sambal di restoran-restoran Thailand. Pedasnya nyegrak, membuat gue bengek di suapan pertama, dan pedasnya crnderung pahit. Tapi, setelah gue telan, barulah gue bisa merasakan aftertaste manis di pangkal lidah gue. Cukup menyenangkan, tapi tetap bukan favorit gue. 

Clockwise, from the top: Hot Gaprok, Cheese, Barbeque Hickory Smoke.

Tapi, meskipun chicken wings dari Jank Jank Wings cukup enak, gue masih lebih senang dengan chicken wings kepunyaan Crazy Wings yang waktu itu gue pesan ke kostan melalui aplikasi Go-Food. Ayamnya lebih garnig dan lebih enak, menurut gue, meskipun hasil gorengannya lebih mirip ayam goreng rumahan daripada ayam goreng McDonald. Menurut kalian, bagaimana?


Jank Jank Chicken Wings
Jl. Dukuh Kupang VI, No. 15-17
Dukuh Pakis, Kota Surabaya

Opening Hours:
MON - SUN: 10AM - 11PM

Contact:
(+62)822 4504 5093