Showing posts with label holy wings. Show all posts
Showing posts with label holy wings. Show all posts

Thursday, April 30, 2020

Holymie - Sensasi Party di Holywings

Pertama kali gue tau tentang Holymie adalah dari saudara gue. Awalnya nggak terlalu gue gubris karena gue pikir itu cuma gimmick April Mop. Eh, ternyata, saat kemarin gue iseng-iseng berkutat di explore page Instagram, yang berujung mampir ke akun Instagramnya @holywingsindonesia, mie ini beneran diproduksi dan udah dijual untuk masyarakat JABODETABEK! Tanpa pikir panjang, gue langsung pesan lima bungkus dan segera gue bayar supaya bisa cepat-cepat dikirim ke rumah. Gue pikir baru akan dikirim besok, ternyata langsung dikirim dan sampai di rumah gue dua jam kemudian. Berasa kayak beli mie di warung, instan banget. 

Holymie - Sensasi Party di Holywings merupakan mie instan yang diproduksi Holywings yang dibandrol dengan harga Rp48.000,00 per bungkusnya. Memang agak mahal untuk ukuran mie instan, tapi tunggu sebentar, jangan bacot dulu. Mie Kuah Seblak Jagermeister ini terdiri dari bahan-bahan berkualitas yang terbukti enaknya dan salah satu bumbu pelengkapnya adalah Jagermeister itu sendiri. Bukan, ini bukan sembarang perisa Jagermeister, melainkan alkoholnya beneran. Gue udah nyicip sendiri dan gue konfirmasi langsung dari pihak Holywings melalui DM Instagram. Meskipun mahal, mie instan ini worth it banget buat ganti suasana di rumah kalau-kalau lo bosen dengan mie instan pasaran yang bisa lo beli di Indomaret depan komplek rumah. 


Sama seperti mie instan lainnya, satu bungkus Holymie ini mencangkup dua balok mie instan dan bumbu penyedap, tapi lo juga akan mendapat side dish lebih berupa 5 butir pentol (bakso sapi ukuran mini) dan 2 buah pangsit. Lo bebas berkreasi dengan lauk apa aja yang lo punya di rumah untuk menyantap mie instan ini. Mau ditambahin telur, kek. Cocktail sausages, kek. Kulit pangsit, kek. Bebas! Tapi, kalau gue boleh saran, lo nggak perlu nambahin lauk apa-apa lagi karena satu bungkus Holymie udah cukup untuk bikin lo kenyang berjam-jam. 


Belum ada banyak video-video di sosial media yang membahas cara untuk menyajikan Holymie. Tapi, gue pikir, siapa juga yang butuh video tutorial untuk memasak mie instan? Tanpa basa-basi, gue langsung menggodok air untuk mie instan, beserta pentol dan pangsitnya (seharusnya sih bisa langsung dimakan, tapi kondisi makanan saat sampai di rumah gue masih agak beku karena sempat disimpan dulu di freezer sebelum dikirim), dan mencampur semuanya ke dalam satu mangkok setelah selesai dimasak. Sebenarnya gue agak bingung dengan Jagernya. Gue nggak tau apakah alkohol itu harus dimasukkan ke air rebusan mie, atau dituang ke dalam mangkok setelah semuanya bahan makanan tercampur dengan bumbu. Akhirnya, gue memutuskan untuk main aman. Gue pakai cara yang kedua, karena kalau dipikir secara logis, kalau gue campur itu alkohol ke dalam air rebusan mie, otomatis alkoholnya akan menguap. Jadinya bukan Mie Kuah Seblak Jagermeister, tapi jadi Mie Seblak aja tanpa embel-embel kuah Jagermeister. 



Buat gue yang kuat makan dalam porsi banyak, porsi satu bungkus Holymie ini banyak banget untuk gue habisin sendirian. Saking banyaknya, mie instan ini bisa lo santap berdua, atau bertiga. Porsi mienya lumayan banyak, meskipun ukuran dari mie itu sendiri kurus-kurus. Padahal gue sengaja merebusnya setengah matang, biar nggak terlalu lodoh dan ngembang, tapi tetap aja banyak banget hasil akhirnya. 

Tekstur mienya cukup kenyal, dan ukurannya yang kecil membuat mie ini gampang banget disantap. Gue paling suka dengan pentolnya karena dagingnya terasa banget, begitu juga dengan pangsitnya yang diisi dengan daging ayam dan udang. Kedua lauk tambahan ini nggak main-main, isinya nggak cuma tepung dan mecin doang! Kuahnya gurih, asin, dan pedas. Kalau dibikin nyemek, rasa asinnya bakal nampol banget, jadi lo harus pakai air yang cukup banyak untuk ngencerin kuahnya agar rasanya maksimal. Tingkat pedasnya pun bisa lo kontrol sendiri karena porsi satu bungkus sambal yang ada di dalam kemasan cukup banyak. Berhubung gue nggak kuat makan makanan pedas, gue hanya menambahkan seperempat takaran sambal ke dalam Holymie gue sehingga pedasnya pas di lidah. Tapi, kalau kalian suka tantangan, monggo disuntak semua sambalnya. 

Berhubung gue tuang Jagermeisternya terakhir, saat semua elemen makanan udah bercampur semua di dalam satu mangkuk, rasanya lumayan keras, tapi nggak terlalu nyegrak karena udah bercampur dengan bumbu-bumbu yang lainnya. Masih kerasa pahit, dan aroma herbal yang menjadi ciri khas Jagermeister pun tercium, but it actually worked well with the entire ingredients! Sampai sekarang gue masih bingung kalau ditanya ini kuahnya rasa apa. Ibarat makan seblak, tapi ini seblak highclass yang lo nggak bisa sembarang beli di pinggir jalan. Enak, atau nggak? Ya, enak! Mungkin kalian agak bingung dan bertanya-tanya, “Emangnya nyambung Jagermeister dijadiin kuah mie?”. Guepun sempat berandai-andai sebelum mencicipi, dan ternyata nyambung-nyambung aja, tuh! Memang, sih, kedengarannya agak aneh. Tapi, toh, ada banyak makanan lain yang dimasak dengan alkohol, seperti steak yang dimasak dengan anggur merah, atau ayam goreng tepung yang menggunakan campuran bir di dalam adonan tepungnya. Alcohol in food works just fine and it doesn’t taste as weird as it sounds.

Gue ada highlight khusus di saah satu akun Instagram gue, @stardust.express, yang membahas tentang Holymie saking gue sukanya dengan mie instan berkuah alkohol ini. Kalau kalian ada waktu, boleh, kok, mampir!


Beberapa tips dari admin Holywings mengenai cara penyajian Holymie:
  • Masukkan Jagermeister ke dalam kuah rebusan mie sesaat sebelum mie mau disajikan di mangkuk, supaya rasanya nggak terlalu kuat. Jangan terlalu lama, nanti Jagernya nggak kerasa. 
  • Kasih kuahnya yang banyak, supaya nggak terlalu asin
  • Holymie nggak disarankan untuk dibikin jadi mie goreng, atau mie kuah nyemek

Udah penasaran pingin nyicip, belum? Kalau udah, kalian bisa langsung pesan Holymie kalian dari aplikasi Holywings yang bisa diunduh dari App Store, atau Google Play Store. Kalau masih bingung cara pesannya bagaimana, kalian bisa tanya-tanya dulu ke admin Holywings dengan mengirimkan DM ke akun @holywingsindonesia, atau @holywingstaste. Very friendly service and quite the fast response! Kalau udah punya Holymie, mau party #dirumahaja pun serasa party di Holywings!

Wednesday, September 19, 2018

Akhirnya Kesampaian ke Holy Wings

Udah tiga kali, dalam dua bulan terakhir, gue ke Holy Wings tapi gagal terus dapat tempat duduk, yang berujung gue (dengan keadaan hati yang gondok) terpaksa kembali ke kostan. Ya, mau bagaimana lagi, ya, wong gue datangnya pas akhir pekan, udah pastinya tempat itu ramai pengunjung bermabuk-mabuk ria. Akhirnya, sore ini gue memutuskan untuk berkunjung ke tempat nongkrong tersebut pas di jam bukanya. Berhubung hari ini hari kerja, gue sangat yakin gue akan mendapat kursi kosong. Kalau sampai nggak, berarti kebangetan, soalnya gue cuma seorang diri.

Holy Wings mempunyai konsep yang agak mirip dengan Pao Pao, di mana tempat nongkrong ini adalah restoran merangkap bar. Makanan andalannya adalah chicken wings dan pentol yang disajikan dengan berbagai macam bumbu. Makanan lain pun ada, yang pakai nasi juga ada, tapi kebanyakan makanannya adalah cemilan untuk menemani alkohol yang kalian pesan. Pilihan alkoholnya banyak banget, bisa pun kalian ke bar dan menunjuk ke botol mana yang kalian mau. Tapi, jangan lupa untuk menyiapkan lembaran seratus ribu yang banyak karena harga makanan dan minuman di tempat ini lumayan mahal.


15 menit lewat jam bukanya, yaitu pukul 5 sore hari, gue disambut oleh salah satu pelayannya yang berjaga di pintu masuk restoran tersebut (restoran merangkap bar lah, ya). "Berapa orang, Kak," tanya si Mbak mungil. "Saya sendiri, Mbak". Lalu gue diarahkan ke meja yang bisa menampung 10 orang. Baiklah.

Sampai sekarang, gue masih menjadi pelanggan pertama dan satu-satunya pelanggan di Holy Wings. Nggak ada orang sama sekali! Bahkan para staf Holy Wings pun masih sibuk dengan mengecek sounds system untuk live music yang entah jam berapa akan dimulai. Para staf yang berjaga di belakang bar pun tengah berlatih lemparan-lemparan botol dan gelas kocoknya. Seandainya suara dentuman musiknya nggak terlalu menggelegar, gue jamin bisikan para jangkring bisa terdengar. Krik krik serr~

Sambil menunggu Salted Egg Chicken Wings, gue menghabiskan waktu dengan menulis, ditemani oleh segelas teh tawar panas. Nanti, kalau kalian mau pesan minuman yang sama dengan gue, jangan bilang "teh tawar panas", ya. Mintanya, "hot tea". Kalau ditanya, "Pakai gula, nggak?", baru deh jawab sesuai dengan kebutuhan.


Ditengah-tengah tulisan gue tentang Rumah Makan Apeng, pesanan gue datang: Salted Egg Chicken Wings yang udah gue impi-impikan dari tiga kali kunjungan gue yang kunjung gagal. Satu porsi harganya Rp45.000,00 dan isinya adalah tiga potong paha dan tiga potong sayap. Gue diberikan dua pasang sarung tangan plastik dan satu buah ember kecil oleh pelayannya. Gue singkirkan laptop ke samping gue, lalu gue mulai melahap ayam goreng tersebut dengan diiringi dentuman irama yang membuat gue ingin memesan bir Bintang ukuran besar. Sayang besok gue terbang.

Karena gue diberikan meja di bawah pohon sintetis, gue nggak mendapat penerangan yang cukup untuk mengabadikan tampilan chicken wings-nya dengan mode kamera biasa. Maka dari itu, saatnya Huji beraksi!

Satu porsinya berisi enam potong ayam, yaitu tiga paha dan tiga sayap. Disajikan dengan mangkuk alumunium yang beralaskan wadah kayu, tampilan chicken wings yang cukup sederhana ini berhasil membuat mulut gue banjir air liur. Padahal masih panas, tapi tetap gue santap dengan semangat 45.

Ayamnya digoreng dengan sangat sangat baik, di mana kulit dan tulang mudanya sangat garing, tapi dagingnya tetap empuk. Agak sedikit berminyak, tapi nggak apa-apa, dan bumbu telur asinnya sangat berlimpah. Bahkan di dasar mangkuknya masih ada dan menggenang sehingga bisa gue cocol dengan suwiran daging pahanya. Di depan gue adalah bar yang dipasangkan empat buah televisi besar yang sedang memutar Star Wars: the Last Jedi. Gue berasa seperti makan di rumah: sambil nonton tv.


Setelah ayam gue habis, gue masih belum mau pulang, jadilah gue pesan satu porsi Babi Panggang Bangka seharga Rp75.000,00. Gue lupa bentukan babi panggang asal Bangka itu seperti apa, jadilah gue tanya salah satu pelayannya untuk menjelaskan ke gue tentang makanan tersebut. Sayang, pelayan itu nggak tau dengan makanan yang disajikan di tempat restoran tempat dia sendiri bekerja. "Itu, mmm, kayak babi guling gitu, Kak. Ada pork belly-nya dan kulit keringnya," jelas si Mbak setelah bertanya ke beberapa teman kerjanya. Ya udah lah, lebih baik gue pesan aja biar gue tau sendiri.

Gue pikir porsinya besar karena harganya yang cukup mahal, ternyata cuma sedikit banget. Disajikan di mangkuk kecil, berhiaskan daun pisang yang ujung-ujungnya gue buang, potongan Babi Panggang Bangka itu disajikan dengan sambal pedas di mangkuk kecil terpisah. Potongannya sangat kecil dan sangat tipis, tapi rasanya luar biasa!


Betul kata si Mbak, memang Babi Panggang Bangka itu seperti babi panggang pada umumnya, hanya saja bumbunya yang beda. Kulitnya garing banget, seperti kerupuk saat digigit, dan rasanya sangat gurih, sementara dagingnya kering dan alot, tapi rasanya manis dengan sedikit ada rasa rempah-rempah. Untungnya, rasanya sama persis seperti babi panggang asal Bangka yang waktu itu sempat dibawakan salah satu Oom gue sepulangnya dia dari Bangka, jadi gue nggak kecewa sama sekali dengan porsinya yang sedikit dan cukup mahal ini.

Gue saranin, kalau kalian mau ke Holy Wings di akhir pekan, kalian bikin reservasi tempat dulu dengan menelfon nomor di bawah ini. Asli, sakit hatinya berkepanjangan kalau nggak dapet tempat. Mau nunggu, sih, bisa, tapi meja mana yang akan kosong di akhir pekan, kan? Pilihannya antara sabar, cari tempat lain, atau balik ke kostan dan pesan bir Bintang via Go-Jek.


Holy Wings
Jl. Kertajaya Indah
Blok S No. 201
Kertajaya, Surabaya 60116

Opening Hours:
MON - THU: 5PM - 11PM
FRI - SUN: 5PM - 2.30AM

Contact:
(+63) 811 319 8168