Showing posts with label tipis kering. Show all posts
Showing posts with label tipis kering. Show all posts

Sunday, April 30, 2017

Lagi dan Lagi dan Lagi

Jangan bosen, ya! Kan, kemarin udah gue bilang bahwa gue lagi ketagihan banget sama Martabak Manis Tipis Keringnya Martabak Bro. Setelah nyobain salah dua menu dari varian pilihan martabaknya Martabak Bro, akhirnya gue memutuskan untuk nyobain martabak tipker dengan rasa dan topping lain, yaitu Redvelvet dan Choco Cheese.


Tepuk tangan untuk Martabak Bro untuk menyajikan produk martabak tipker yang konsisten, meskipun harganya kurang bersahabat untuk dompet mahasiswa apalagi dompet taruna, dengan pilihan topping yang neko-neko, tapi masuk di lidah. Woohoo!


Sekali lagi, gue memesannya melalui layanan jasa GrabFood. Berhubung kedai martabaknya hanya sekitar 2 menit dari rumah gue kalau naik motor, nggak butuh waktu yang begitu lama untuk pesanan gue sampai di rumah. Kurang dari waktu yang dijanjikan di aplikasi, yaitu satu jam.

Martabak yang gue pesan adalah, salah satunya, Martabak Manis Tipis Kering Spesial rasa Redvelvet. Warnanya merah dan gue rasa pakai pewarna, ya, karena menurut gue jarang banget ada tempat makan yang kalau di menunya ada Redvelvet udah nggak lagi menggunakan buah bit, atau beet root. Yang paling gampang, murah, dan efisien adalah nggak kurang dan nggak lebih dari pewarna makanan. Tapi, bisa jadi gue salah informasi, do correct me if I'm wrong.



Bentukannya nggak beda jauh dari martabak yang satu ini, yang membedakan hanya warnanya aja. Sama-sama diolesi cream cheese, sama-sama ditaburi remah-remah Oreo, dan rasanya pun nggak begitu berbeda. Sayangnya, gue nggak menerima martabak yang satu ini dalam kondisi kering, melainkan agak memble dan lembek. Nggak apa-apa, sih, toh memberikan efek negatif yang besar pada martabaknya. Tapi, ya, nggak ada sensasi garing dan kriuknya.

Kemudian, martabak kedua adalah Martabak Manis Tipis Kering Spesial rasa Choco Cheese. Yang satu ini gue sengaja pesan untuk Ibu gue karena beliau nggak suka makanan yang terlalu neko-neko. Jadi, lah, gue pesenin menu yang bisa dibilang standard.



Adonan yang dipanggang sampai kecoklatan itu garingnya bukan main! Diisi dengan taburan meses, parutan keju, dan sedikit olesan cream cheese, martabak tipker Choco Cheese ini cocok banget dicemilin oleh kalian yang menyukai kesederhanaan martabak. Paling harganya aja yang nggak terlalu sederhana. Tapi, gue jamin, kalian nggak akan komplain yang lain selain isiannya yang kurang banyak.

Bisa dibilang gue adalah orang yang menyukai kesederhanaan martabak. Gue nggak perlu martabak dengan topping dan warna yang macam-macam. Maksimal Redvelvet. Kalau untuk martabak yang pakai coklat Beng-beng, atau Kit Kat Green Tea, gue belum berani coba. Takut nyesel kalau ternyata nggak cocok di lidah, tapi duit sudah melayang. 

Monday, March 13, 2017

Lagi-lagi Martabak Manis Tipis Kering

Maaf, ya. Kayaknya gue lagi ketagihan Martabak Manis Tipis Keringnya Martabak Bro, nih. Udah dua malam berturut-turut gue pesen terus via GrabBike. Kemarin gue pesen yang isinya Oreo dan cream cheese, nah, sekarang mau coba menu yang lain.


Karena Ibu gue nggak begitu doyan makan, apalagi kalau makanannya udah aneh-aneh dan ada marshmallow-nya, jadi gue putuskan untuk memesan menu martabak manis tipis kering yang nggak terlalu neko-neko. Pilihan jatuh pada Double Choco, salah satu menu Martabak Manis Tipis Kering Spesial dari Martabak Bro yang harganya nggak begitu mahal kalau dibandingin dengan menu yang sebelumnya gue pesen, yaitu Rp33.000,00.



Ternyata yang dimaksud dengan Double Choco adalah martabak dengan adonan coklat dan isi coklat. Gue sempat kaget pas kotak dibuka dan gue menemukan martabak tipis kering gue berwarna coklat tua nyerepet hitam. Gue kira gosong, tapi ternyata memang tampilannya begitu. 


Yang ini rasanya ciamik banget. Renyahnya martabak tipis kering itu benar-benar renyah. Adonan coklat manis dan berasa coklatnya, cocok dipaduin dengan taburan mesis coklat yang menjadi isian martabaknya. Buat beberapa orang yang nggak suka manis, mungkin, nggak cocok, ya. Tapi, kalau untuk gue sih udah pas banget. 

Dan juga, kalau martabaknya dibiarin keanginan selama beberapa jam kedepan, martabaknya nggak akan jadi lembek, melempem, dan memble seperti martabak tipker isi Oreo dan cream cheese yang sebelumnya. Mungkin karena faktor basah dari cream cheese kali, ya, yang lama-lama meresap ke dalam adonan yang kering sehingga membuatnya jadi lembek. Tapi, tetap enak, kok. 


Thursday, March 9, 2017

Martabak Manis TipKer ala Martabak Bro

I couldn't stop myself from ordering some martabak from Martabak Bro with GrabBike tonight. Rasanya nggak ada dosanya buat gue untuk menghamburkan beberapa lembar ribuan malam ini demi beberapa potong Martabak Manis Tipis Kering ala Martabak Bro, yang diisikan dengan olesan cream cheese dan potongan Oreo. Ngebayanginnya aja gue udah nggak kuat tadi, sampai-sampai jari gue langsung luwes pas nulis orderan di aplikasi Grab-nya saking nafsunya. 

Seketika uang jajan gue langsung habis, tapi hati bahagia rasanya saat abang GrabBike datang membawakan plastik yang isinya kotak hangat nan harum. 


Harumnya beneran menggugah selera! Kalau di kartun-kartun, kotak martabaknya langsung mengeluarkan sinar ketika dibuka dan mata gue berbinar-binar, di belakang gue ada pelangi dan kuda terbang, dan liur gue berceceran kemana-mana, dan lutut gue lemas, dan gue pingsan di tempat. Lebay, sih, tapi ya namanya juga kartun, kan. 



Tampilan martabaknya pun nggak kalah menarik dengan harumnya. Benar-benar tipis, kelihatan renyahnya, agak gosong namun mengkilap (just how I like my martabak to be), banyak remahan Oreo berceceran di permukaan kotak, dan cream cheese-nya nggak main-main overdosis-nya. Nggak berekspektasi dikasih food porn, tapi dikasih food porn. Kebayang, nggak, bahagianya gue kayak apa?


Tipis keringnya beneran tipis dan kering. Renyah bukan main! Martabak manisnya, karena dipanggangnya mungkin agak lama, jadi agak gosong sedikit dan menurut gue itu enak banget. Benar-benar membahagiakan, baik perut gue maupun indra perasa gue sama-sama terpuaskan. Hanya satu aja yang kurang, yaitu cream cheese-nya yang terlalu berlebihan untuk lidah gue. The martabak had overflowing cream cheese, which might be good to some people who love cheese with all their hearts, but not me. Cream cheese gurihnya menghancurkan kemanisan martabaknya dan agak mendominasi keseluruhan rasanya. Coba porsinya lebih sedikit, pasti kombinasi rasanya pas. 


But, anyway, I ended up devouring the whole six pieces, so. . .