Showing posts with label STPI. Show all posts
Showing posts with label STPI. Show all posts

Saturday, November 10, 2018

Seraya Kopi

Salah satu sahabat baik gue dari Curug baru aja membuka kedai kopi pertamanya di daerah Meruya. Memang, sih jarak tempuh antara Bekasi ke Meruya itu memang nggak ada yang nandingin, apalagi kalau kondisinya hari Jumat sore, hujan deras, dan sedang macet, tapi tetap gue jabanin perjalanan lintas planet tersebut demi meramaikan kedai kopinya. Namanya Khairil, gue jarang bercerita tentang dia di sini. Nah, biarlah posting-an blog gue kali ini berputar di seputar dia dan kedai kopinya. 

Seraya Kopi

Kedai kopi mungil di Meruya Selatan

Iya, ini Khairil

Khairil adalah teman sebangku gue semasa gue masih menempuh pendidikan di STPI, Curug. Selama kurang lebih dua tahun lamanya, selama masa pendidikan ground school kami, kami berdua menjadi alarm berjalan untuk masing-masing: dalam artian, semisal salah satu dari kami sedang pulas-pulasnya tidur dan dosen, atau flight instructor, sudah datang, kami langsung membangunkan satu sama lain sebelum pengajar sadar bahwa kami sedang enak-enaknya melayang di alam mimpi. Nggak lama, gue dan Khairil berselisih jalan karena dia harus melanjutkan pendidikannya menjadi pilot helikopter di hanggar sebelah, sementara gue sibuk dengan rentetan piper warrior di hanggar fixed-wings. Sempat, pada dua tahun yang lalu, hubungan gue dan Khairil terputus karena situasi dan kondisi yang memaksakan gue untuk memutus semua hubungan dengan banyak orang yang ada di dalam hidup gue. Untungnya, gue berhasi keluar dari dalam lingkaran setan dan gue pun bisa berteman baik lagi dengan Khairil. 

Yang lagi melet namanya Dheddy

Khairil in the midst of trying to keep his cool

Kalau yang ini namanya Mas Luqman

Hari Jumat kemarin, gue dan Gavin, beserta rombongan teman-teman sekelas gue yang berbeda kendaraan, serentak datang ke Seraya Kopi dan membuat rusuh kedai kopi tersebut. Nggak ada maksud jahat, memang kami anak-anaknya rusuh aja. Khairil yang saat itu tengah melayani tamu, yang berdatangan ke kedai kopinya, pun kewalahan. Tapi, namanya juga anak Curug, ya, semua bisa diurus dengan baik dan cepat. 

My support system

Yang ini namanya Robby, doyannya Queen

Seraya Kopi adalah nama kedai kopi kepunyaan Khairil. Saat ditanya alasan kenapa dia memilih nama tersebut, jawabannya cukup puitis, meskipun nggak berhasil disampaikan dengan keren. “Seraya itu artinya sambil,” kata Khairil, “jadi lo itu semisal “seraya membaca” berarti “sambil membaca”, “seraya nyebat” berarti “sambil nyebat”, nah ini seraya kopi.”. Namanya juga anak-anak Charlie, semua orangnya nggak terimaan, jadi kami langsung menyoraki Khairil seraya menertawakan kegugupannya. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, memang pemilihan namanya cukup puitis kok. 

Semua menu makanan dan minuman yang disajikan di Seraya Kopi memiliki harga yang sama, yaitu hanya Rp15.000,00. Satu porsi sosis, satu ember kentang goreng, satu cangkir cappuccino, satu gelas minuman Red Velvet, semuanya harganya nggak lebih dari satu lembar dua puluh ribuan. Gue, yang notabene orangnya medit banget, mah senang banget pas tau harganya nggak selangit karena udah jarang banget sekarang ada kedai kopi yang menyajikan minuman berkualitas dengan harga bersahabat. 

Menu Seraya Kopi

Tiwus dan Aceh Gayo

Yang gue suka dari Seraya Kopi adalah bahwa tempat ini menyajikan berbagai macam minuman non-kopi untuk mereka yang doyan nongkrong, tapi nggak doyan kopi. Jadi, untuk kalian yang kalau setiap nongkrong minuman andalannya adalah Iced Lychee Tea, atau Iced Peach Tea, kalian nggak perlu khawatir karena mereka punya kuncian kalian di sini. Minuman-minuman dingin berbasis bubuk juga ada, kok, seperti contohnya minuman Red Velvet dan minuman Matcha. Gue pribadi senang dengan minuman Red Velvetnya yang segar dan manis. Meskipun rasanya agak lebih mirip dengan Strawberry Milkshake, tapi gue tetap suka. 

Nah, untuk kalian yang doyan kopi, apalagi kopi-kopi manual brew, di sini pun ada pilihan V60 dengan biji-biji kopi yang ciamik, seperti Tiwus dan Aceh Gayo. Gue otomatis memilih Tiwus sebagai teman minum gue malam itu. Disajikan secara sederhana di dalam botol kecil, dilengkapi dengan shotglass yang mengingatkan gue akan akhir pekan terakhir gue di De Hooi, sajian kopi dari Seraya Kopi sama sekali nggak mengecewakan. Memang agak lama proses pembuatannya, gue harus menunggu kurang lebih sekitar 20 menitan, tapi tetap nggak mengecewakan. 

Bagian dalam dari Seraya Kopi

I spot a new Instagram update with that wall

Dibandingkan dengan sosis gorengnya, gue lebih suka dengan kentang gorengnya yang berbalut bumbu dan sedikit taburan rempah-rempah di atasnya. Asinnya cukup, gurihnya dapet, dan mecinnya pas. Langsung bikin pinter! Terlebih lagi, potongan kentang gorengnya nggak kurus-kurus seperti kentang goreng McDonal, melainkan agak gemuk dan lumayan panjang. Jadi makin sayang, kan. 

Kentang Goreng - 15K

Cappuccino - 15K

Selama 6 jam lebih gue menghabiskan Jumat malam gue di Seraya dan, mungkin karena akhir pekan, tamu-tamu terus berdatangan meskipun tamu yang lain baru aja keluar. Karena kedai kopi ini cukup mungil dan selalu dipenuhi dengan anak-anak kuliahan dari kampus sebelah, gue lebih merekomendasikan tempat ini untuk nongkrong, ketimbang untuk mengerjakan tugas. Kalau kalian adalah tipe orang yang senang mengerjakan tugas di keramaian, be my guest. Tapi, kalau kalian adalah tipe orang yang senang dengan kesunyian dan susah fokus kalau banyak suara seperti gue, mending nggak usah coba-coba, deh, ngerjain tugas di sini. Mendingan kalian kumpulin rombongan anak-anak kelas kalian, bawa gitar dan segepok kartu remi, dan habiskan malam akhir pekan kalian dengan segelas cappucinno dan sepiring kentang goreng. 


Seraya Kopi
Jl. H. Lebar No. 38
RT007 RW002, Kembangan
Meruya Selatan, Jakarta Barat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

Opening Hours:
MON - SUN: 10AM - 10PM

Saturday, April 15, 2017

Perjuangan Beli Keripik

Udah hampir enam bulan lamanya gue nggak terbang dan gue kangen. Dulu, bisa setiap hari gue terbang, bahkan dua sampai tiga kali dalam satu hari. Gempor, sih, untungnya nggak sampai thypus, but it was fun while it lasts. 

Ada, dari seluruh penerbangan yang gue lakuin semasa gue jadi taruna, yang paling nggak bisa gue lupain, yaitu pas terbang solo gue ke Lampung. Gue benar-benar terbang sendirian ke Lampung dan saat itu cuacanya lagi kacau. Sekacau jamban yang habis dimampirin setelah semalamnya gue makan Samyang dan Sate Taichan pakai Bon Cabe. Kebayang, kan?


Gue berangkatnya udah agak siang, sekitar jam sembilan lewat. Padahal harusnya gue terbang jam tujuh pagi, tapi karena satu dan lain hal, gue harus berangkat dua jam setelahnya. Jam segitu, langit udah mulai dipenuhi awan, namanya awan cumulus. Semakin siang, semakin banyak awan, dan ukurannya semakin besar.

Gue paling takut sama yang namanya turbulance. Mau itu karena masuk awan, ketampar angin, maupun goyangan kecil karena pas takeoff dapat crosswind, semuanya gue nggak suka. Untungnya, pas pergi ke Lampung, cuacanya masih bagus, jadinya adem-adem aja dan semuanya berjalan dengan lancar. Tapi, pas balik ke Budiarto, gue harus nembus awan gegara waktu itu udah satu jam menuju siang bolong dan tebal awannya nggak karuan. Gue nggak ada pilihan lain selain menembus awan, mau cari celah pun nggak bisa karena bentangan awannya rata. Setengah jam terakhir sebelum gue mendarat di Budiarto, gue sempat nggak berhenti mengucapkan, "Tuhan Yesus pimpin" setiap detiknya karena gue masuk awan. Kacau, sih, kalau disuruh ngulang lagi gue ogah. Tapi, untungnya, gue mendarat dengan selamat di Budiarto.


Nah, yang paling gue suka dari penerbangan gue ke Lampung adalah oleh-olehnya. Yak, Keripik Pisang Kepok! Dengan perjalanan ini, secuil cita-cita gue sebagai pilot, yaitu jalan-jalan keliling dunia dan nyobain setiap makanan dari setiap daerah yang gue singgahi, tercapai. Gue berhasil ke Lampung dan beli jajanan khas Lampung, yaitu si Keripik Pisang Kepok.

Dari semua varian rasa yang pernah gue coba, Melon, Strawberry, Coklat, Susu, Asin, Keju, Manis, yang paling gue suka adalah rasa coklat. It's my favorite! Keripik pisangnya renyah banget, ada yang tebal ada yang tipis, dan semuanya berbalur bubuk coklat yang bikin nagih bukan main. Gue paling demen kalau udah tinggal sisa remah-remah pisang, dengan gumpalan-gumpalan bubuk coklatnya. Sedap bukan main!


Udah menjadi tradisi kami, taruna penerbang, untuk selalu membawa oleh-oleh khas Lampung yang satu ini setiap kami menyelesaikan terbang kami ke Lampung. Gue udah melewati stage itu dan gue seneng banget. Lebih senengnya lagi, gue berhasil bawain "hasil terbang" gue ke Ibu dan Bapak gue. Mereka masing-masing gue bawain Keripik Pisang Kepok, satu rasa Keju, satunya lagi rasa Manis.

Cerita (Nggak Diajak) Ngampung

Dulu, jamannya masih hidup di barak, kadang kalau lagi bosen, gue suka kabur malam-malam dengan kawan-kawan gue. Kadang gue orangnya cukup prosedur, taat peraturan maksudnya, tapi cuek-nya gue lebih besar ketimbang ketakutan gue untuk dihukum. Gue lebih pingin bersenang-senang, meskipun ada kemungkinan buruk yang bisa terjadi kedepannya, ketimbang nggak ngapa-ngapain karena takut. Akhirnya, ada suatu masa di mana gue sering banget lompat tembok barak dan kabur ke tempat hiburan terdekat. Kita, para taruna, nyebutnya "ngampung".

Ngampung ini udah ada dari jaman Bapak gue jadi taruna, dulu banget sekitar tahun 1980-an. Ada yang bilang ngampung, ada juga yang bilang "ngota", yang arti kasarnya adalah main ke kampung, atau ke kota. Sederhananya, kita kabur dari barak untuk cari hiburan.

Hiburan bagi gue saat itu adalah, nggak kurang dan nggak lebih dari, jalan dan jajan. Gue diajak ngampung buat beli martabak aja udah seneng, apalagi waktu itu sering diajak ngampung ke Enigma. Enigma itu adalah semacam tempat nongkrong di Serpong - bisa makan, bisa mimik-mimik cantik, bisa juga main billiard - cuma sekitar setengah jam perjalanan pakai kendaraan sewaan dari barak.

Dalam hal ngampung, gue hanya sebagai profokator pada siang hari, yang tugasnya manas-manasin kawan-kawan gue dengan, "Eh, ngampung, yuk!" atau "Aduh, pingin martabak, deh." Masalah jadi ngampung atau nggaknya tergantung inisiatif yang lain, pada mau gerak, atau pada males. Biasanya gue selalu dikabarin sahabat gue kalau jadi jalan. "Ket, ikut ngampung, nggak," katanya. Gue akan ngampung kalau dia ngajak, tapi nggak pernah gue inisiatif ngampung sendiri, kecuali waktu itu saat gue dan teman-teman barak gue ngidam banget makan pizza dan akhirnya gue nekad kabur berduaan naik motor demi beli dua loyang Pizza Hut. Dedikasi tanpa batas!

Pernah suatu kali, gue nggak diajak ngampung, entah alasannya kenapa. Sedih, dong, rasanya kayak didepak dari geng, padahal mungkin dia cuma lupa ngajak aja. I have this tendency to overthink stuff and take something way far more serious than it should be, but I forced myself not to dan pura-pura nitip martabak sebagai oleh-oleh. "Mau martabak, hehehe," kata gue manja dan dibalas dengan, "Mahal, ngapain juga beliin lo martabak." Rasanya pingin nyebur ke sawah sebelah barak.

Berhubung barak gue difasilitasi dengan modem wifi.id, jadilah gue begadang berduaan dengan laptop, sementara dua teman barak gue udah pada di dunia mimpi masing-masing. Tiba-tiba gue dapat LINE call dari salah satu kawan gue, menginstruksikan gue untuk ke koridor barak. "Ket, koridor bentar, dah," katanya.

"Ngapain, Pin" tanya gue.

"Dibawain martabak nih sama si Puki," balasnya.


Wah, langsung lupa diri. Gue mencolot dari kasur, buru-buru pakai celana training dan kaos olahraga, dan meluncur ke koridor barak. Waktu itu belum ada CCTV, jadi taruna masih bebas berkeliaran diatas jam tidur. Kalau sekarang, mah, udah lebih ketat.

Bener, dong, gue dibawain martabak. Pertama dan terakhir kalinya. Dan gue sekaget itu karena gue tau betapa meditnya sahabat gue yang satu itu (baca cerita gue yang ini, deh). Seketika langsung seneng. Setelah gue terima kotak martabaknya, gue balik ke barak, dan bangunin teman-teman gue.

"Wey, martabak, nih," teriak gue.

Ngemil, deh. Abis itu ngantuk. Kemudian tidur nyenyak.



Bagi gue, orang yang paling baik di dunia adalah orang yang ngasih gue makanan. And, boy, you're one and always have been. 

Friday, November 7, 2014

Reminiscing Kantin Kespen

There is this cafeteria inside my institution territory that we, cadets, always visit everyday. It doesn't have a name, so we named it after its' division area: Kespen. Kespen stands for Keselamatan Penerbangan, or Aviation Safety Division, which is one of four main majors in Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI). Kantin Kespen, or Kespen Cafeteria, is located in the old Kespen area -adjacent to where my division is, the Pilot Division. We, pilot cadets, are easily hungry, and the only budget-friendly dining place is Kantin Kespen. So, don't be surprised if we keep coming back to this particular cafeteria within two to three hours span in just a day. 

The atmosphere at Kantin Kespen

At Kantin Kespen, you can find pretty much everything to fill your empty stomach with. Sure, you might not find anything fancy here, but every food and drinks that are sold here are both budget-friendly and stomach-filling. What more can a cadet with Rp10.000,00 in his pocket possibly ask, right? 

The first thing that you will find here is a buffet of dishes that you can have for your meal. You can have your warm fluffy rice with any dishes that you like - either it be vegetables or beef, seafood or eggs, fried chicken or grilled eggplants, you name it. My kind of meal would me a plate of Rp2000,00 worth of white rice, accompanied with a scoop of marinated mussels, a spoonful of stir-fried baby squid, fried tempe marinated in sweet soy sauce, and a piece of tempe fritter - and it goes pretty damn well with a glass of cold and thirst-quenching american-orange-flavored Nutrisari.

Your selection of dishes to go with your rice

Sometimes, the cafeteria serves fried rice instead of plain white rice

When my favorite dishes were sold out, I usually go with other dishes to sought for solace

If you don't feel like having a meal, you can browse through the snack section to ease your craving. On the table, you will find lots of snacks, such as candies, biscuits, and crisps, and a couple tray of fritters. Most snacks are worth a thousand rupiah, but there are some which are half price less. Whenever I come to Kantin Kespen with a full stomach, yet have the urge to nibble on something, I usually go with the fritter. My favorite would be the banana fritter and sweet-potato fritter, but sometimes I like to have me a plate of sambal and sweet soy sauce covered tempe fritter. Pure awesomeness.

A table full of snack

One of the worker at Kantin Kespen who take over the frying section 

In the midst of making deep-fried tempe

A plate of fried tempe glazed with sweet soy sauce and sambal

When you're not in the mood to eat anything and just looking for something to quench your thirst, you can always go to the so-called "bar" and order yourself a drink. It's not like those bars that you usually find at pubs and night clubs, but it is how it is, and it's got a bartender who make us drinks as well. The drinks that they served here are at Kantin Kespen are mostly instant and in sachets, such as instant cappuccino, condensed milk, fruit-flavored drinks (which is known as Kool-Ais in America), and oat milk drinks named Energen. If you prefer to have canned drinks and bottled drinks, you can always head to the fridge and chose the drink you like. But, you can always grab yourself a glass of water if you're not in the mood for something with flavor though, not to mention it's free of charge.

What kind of drink will you have today?

In the middle of mixing a drink

The rush hour in the cafeteria is usually in the morning, between 7 to 9 AM, followed by an hour after mid day, and during tea-time. Usually, during tea-time, there will be food vendors parking their carts to sell their food products. The regulars are rujak vendor, es podeng vendor, and bakso vendor - and when those three vendors come, I will definitely spend some more rupiah to ease the crave.

The sight of Kantin Kespen during rush hour

Breakfast has never been this good at STPI

Sunday, June 22, 2014

Dear readers,

being a cadet has taken its' toll on me. 


I haven't been able to take control of my blog in the past 6 months due to the hectic schedule of the academy I'm now enrolling at. The only spare time that I have is only during the weekends, and it doesn't even last for 24 hours - I go home at 6 in the evening on Saturday, then I have to go back to the barracks at 4 in the afternoon on Sunday. Even if I have the opportunity to bring my laptop to the academy, along with a modem with super duper fast internet connection, I still won't be able to update Milky Way Cafe because activities start at 5 in the morning and end an hour before midnight. So much chaos.

For those who wonders, I've been recruited to STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia), some people prefer to call it ICAI (Indonesian Civil Aviation Institute), a semi-military academy where the students here are called "cadet" - "taruna" or "taruni" in Indonesian, depends on your gender. 

Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia

Being a cadet, you can't do anything on free will for you are required to follow every single rules existed. You have to wear uniform all the time. All taruna have to be bald, while the taruni have to cut their hair Anna-Hathaway-short. You wake up to the sound of trumpets being played, pretty much like Forrest Gump and Cadet Kelly combined. Every morning and night, they do a rollcall to check if all cadets are in position - and if one of them is nowhere to be found, a consequence is to be applied on all of us. School starts from 7 to 5, and after that is dinner, followed by an obligatory study time, and ended with a rest period at 9. It's a pretty strict and organized life I'm living, so that is why I can't leisurely write about Ladurée's Macaroons, or Mendl's Courtesan au Chocolat, as I pleased. 

The uniform that we wear


I'm not sure how long this will last, but I hope I will be able to write again, soon. Will you wait for me? 


Regards,
Kinan Luhur W.