Showing posts with label date. Show all posts
Showing posts with label date. Show all posts

Saturday, August 18, 2018

Homemade Energy Bars

Beberapa bulan yang lalu, saat gue lagi getol-getolnya ngurangin makan demi mengurangi berat badan, gue menemukan resep cemilan anti karbohidrat dan anti gula yang cocok banget untuk dikonsumsi kaum-kaum hawa yang kebelet kurus secara instan. Hanya bermodalkan kurma dan kacang-kacangan, cemilan ini dengan mudahnya bisa kita buat dan dikonsumsi untuk mengganjal perut yang keroncongan. Mau makan 10 buah pun rasanya nggak sedosa kalau dibandingin dengan kita nyemilin es krim Aice yang harganya cuma Rp2000,00 itu.

Bahan yang kalian butuhkan hanyalah kurma dan kacang. Terserah kacangnya mau berapa banyak dan berapa macam. Karena gue bukan pakar gizi, asal nggak mengandung karbohidrat dan gula bohongan, gue nggak menakar seberapa banyak kadar kalori dalam cemilan sehat ini.


Cara membuatnya terlampau gampang. Masukkan kurma ke dalam food processor dan lumatkan sampai teksturnya mirip seperti adonan kue kering. Masukkan kacang-kacangan ke dalam kurma yang sudah halus dan aduk sampai merata. Adonan ini, nantinya, akan kalian bentuk. Suka-suka kalian mau dibentuk seperti apa. Bulat boleh, pipih juga oke, atau mau diratakan di loyang menjadi satu potong energy bar besar pun boleh. Pokoknya sesuai selera gigitan masing-masing.

Kalau gue, waktu itu, gue buat menjadi bola-bola kecil lalu gue pipihkan. Kemudian, gue bungkus dengan baking paper, atau kalau orang di pasar ngertinya kertas roti, supaya nggak nempel satu sama lain saat gue simpan di tupperware. Iya, adonan ini bakal lengket banget. Gue saranin, kalau kalian males tangan kalian lengkat, ngebentuknya pakai sendok aja.


Kalian ngerti lah, ya, rasa kurma bagaimana, jadi nggak perlu gue jelasin juga rasa energy bar ini seperti apa. Manis dari kurmanya itu memberikan gue energi tambahan di saat gue lagi lemas-lemasnya, sementara kacangnya bisa menjadi sumber protein nabati dan enak aja saat dikunyah. Daripada jajan jajanan yang kandungan karbohidrat, gula, dan kalorinya nggak bersahabat, mendingan kita bikin kunyahan sendiri yang udah pasti terjamin kesehatannya. Betul, kan? 

Wednesday, May 10, 2017

Kencan Waktu Itu

Selamat tanggal 10 Mei, selamat menyaksikan cintanya Ale dan Anya di bioskop-bioskop terdekat anda! Konon katanya, kalau sudah nonton film ini, kamu pasti akan percaya lagi sama cinta. Gue udah nonton duluan tanggal 5 Mei kemarin, iya pas gala premiere-nya di Plaza Indonesia, dan gue yang sudah percaya sama cinta aja jadi dua kali lipat percayanya setelah nonton.

Ngomong-ngomong soal Ale dan Anya, gue pernah lho kuliner ala kedua sejoli itu. Tau Ketoprak Ciragil? Nah, di novelnya, Ketoprak Ciragil itu adalah salah satu makanan favorit Ale di Indonesia, kedua setelah telur dadar bikinan istrinya tersayang. Being the geeky reader that I am, waktu itu gue berhasil ngajak Dheo ke Ketoprak Ciragil biar kami bisa makan ketoprak, sementara gue pura-puranya jadi Anya dan dia jadi Ale.
Berdasarkan informasi yang gue dapat di Zomato, Ketoprak Ciragil itu cuma buka sampai jam 5 sore. Berhubung waktu itu masih siang, dan mungkin keberuntungan sedang berpihak pada kami, warung ketopraknya masih buka dong pas kami sampai, cihuy! Dengan semangatnya gue pilih tempat duduk dan memesan dua porsi ketoprak pakai telur dadar. Gue nggak bisa berhenti cengar-cengir. "Kamu sekepingin itu, ya, ke sini," tanya Dheo, yang kemudian gue jawab dengan anggukan dahsyat dan, "AYO KITA FOTO DULU!"

Nggak lama, ketoprak kami pun jadi. Bentuknya nggak beda jauh dengan ketoprak pada umumnya, tapi bumbunya memang lebih cair, sih. Biasanya kan ada gumpalan-gumpalan dan serpihan kacang yang nggak rata, nah, kalau bumbu kacang ketoprak ala Ketoprak Ciragil itu kayak bumbu kacangnya sate. Berbeda, tapi gue nggak protes.

I hate to break the excitement, but, rasanya biasa aja. Nggak se-wah! yang gue harapkan, sebagaimana tanggapan Ale terhadap makanan tradisional khas Indonesia yang satu itu, tapi gue mencoba untuk menutup kekecewaan gue dengan tetap girang dengan roleplay kami sebagai Ale dan Anya. Hm, roleplay gue, sih, sebenarnya, karena pacar gue nggak ngerti siapa mereka.

Harganya bikin kaget. Serius, gue kaget. Mahalnya hampir tiga kali lipatnya harga ketoprak gerobakan yang biasa keliling siang-siang di komplek rumah gue. "Sumpah, ya, mahal banget! Aku pikir bakal waw, bakal spesial gitu, tapi ini sama aja kayak ketoprak biasa," amuk Ale-alean gue, "Nggak apa-apa. Yang penting cita-cita kamu kesampean, kan?" Uhuk, he's the best. 


"Abis ini ke mana, lagi, langsung mau ke mana tuh makan nasi goreng," tanyanya. Iya, kuliner kami belum selesai sampai di sini. Karena siangnya udah jadi Ale dan Anya, maka dari itu malamnya kami jadi Alexa dan Beno. Yak, tepat sekali, Nasi Goreng Sabang!

Tapi, karena waktu itu masih sore dan gue yakin nasi Goreng Sabangnya juga belum buka, akhirnya kami main ice skating dulu di Mall Taman Anggrek.

Ice skating, salah satu olahraga yang paling menyakitkan yang pernah gue coba dalam hidup. Mental gue harus jadi, keberanian gue harus terpupuk, dan gue harus buang jauh-jauh rasa malu. Kadang, agar kita bisa maju, kita harus jatuh dulu. Dan, dalam hal ice skating, harus jatuh beneran.

Gue. Nggak. Bisa. Main. Ice. Skating. Sementara pacar gue dengan luwesnya bisa berjalan mundur diatas es sambil melenggak-lenggokkan badannya diantara kerumunan warga lokal yang sok-sokan bisa main ice skating, padahal nggak bisa. Ya, salah satunya gue! Tapi, gue masih sadar diri untuk memotivasi diri gue sendiri untuk bisa dalam olahraga ini. Masa cowoknya jago, tapi ceweknya acakadut?


Kami menghabiskan kurang lebih dua jam muter-muter ice ring yang kala itu bagaikan lautan manusia, sumpah nggak wajar banget mau meluncur satu puteran aja pakai berhenti-berhenti saking ramenya, baru setelah itu kami meluncur secara kiasan ke Menteng untuk menyantap Nasi Goreng Sabang.

Sebelumnya, gue udah cek Twitternya Kak Ika Natassa terlebih dahulu. Inget gue, beberapa waktu yang lalu, beliau pernah nge-tweet mengenai kebenaran Nasi Goreng Sabang yang menjadi santapan andalan Alexa dan Beno dalam novelnya Divortiare. Sekali lagi, gue menggunakan jasa aplikasi Zomato untuk menguak informasi kebenarannya dan akhirnya sampai lah kami di gerobak nasi goreng ternama itu.


Awalnya agak bingung, sih, untuk nemuin tukang nasi goreng yang benar. Ternyata namanya bukan Nasi Goreng Sabang doang, melainkan Nasi Goreng Sabang Pak Robby. Untung yang jual Pak Robby, kalau yang jual Pak Beno, yang ada gue nempel nggak lepas-lepas sama si Bapak dan menanyakan, "Oom Beno, kok pindah profesi dari dokter kece jadi tukang nasi goreng?".

Jujur, gue lupa dengan pesanan gue malam itu, juga gue lupa pesanan Dheo apa. Tapi, pada intinya, nasi gorengnya sama, cuma lauknya aja yang beda. Seng oseng oseng, si Pak Robby sibuk dengan wajan raksasa dan spatulanya, mengaduk-aduk dua porsi nasi goreng dengan pedas yang sedang, beserta lauk, dan tumpahan Kecap Bango yang mungkin kalau dikonsumsi terus-menerus akan membuat gue terjangkit diabetes.

Yes, nasi goreng gue udah jadi, dan akhirnya gue bisa jadi Alexa, pikir gue dalam hati. Pas banget, sih, karena memang tokoh pasangan favorit gue dari semua karya Kak Ika adalah Alexa dan Beno. Sekali lagi, gue sesemangat itu akhirnya bisa kesampaian cita-citanya untuk menyantap Nasi Goreng Sabang. "Udah, nih," katanya, "kesampean semua, dong?" yang gue balas dengan peluk manja dan ucapan, "Hehehe makasih, ya, beb," yang saking manisnya bisa ngalahin manisnya Kecap Bango. "AYO FOTO DULU!"

Sekali lagi semangat dan sekali lagi kecewa. Nasi gorengnya nggak ada spesial-spesialnya, bahkan ada nasi goreng gerobakan yang suka keliling di komplek rumah almarhum kakek gue dulu di daerah Pluit yang lebih enak dari ini. Porsinya, sih, luar biasa banyak, sangat cukup untuk ukuran taruna, mah. Kalau orang awam bilangnya "porsi kuli" saking banyaknya. Gurihnya nggak dapet, asinnya nggak dapet, mecinnya kurang banyak (please, jangan membohongi diri sendiri, mecin itu memang top kalau udah ketemu jajanan gerobakan), nasinya agak lengket dan lembek, dan nggak ada yang spesial dari nasi goreng tersebut. Penonton kecewa, bung.

Tapi, ya, nggak apa-apa. Sekecewa-kecewanya gue akan Ketoprak Ciragil dan Nasi Goreng Sabang, yang penting kencannya menyenangkan. <3


Zomato Information on Ketoprak Ciragil and Nasi Goreng Sabang Pak Robby

Thursday, April 13, 2017

Woke Up at Five to Bake

I woke up at five to the sound of my dogs barking, giving commands for me to open the door that leads them to the backyard so that they can do their thing after a night of being kept inside due to the heavy rain. It has been raining hard these days in Bekasi. The sky is cloudy even as I am typing down right now, and I'm guessing it's going to be stormy later on the evening. So much for hoping somebody will pay me a visit.

I woke up and I couldn't get myself to continue my slumber. It's not that I woke up feeling fresh and all pumped up, no, but I just couldn't get myself to sleep. So, I figured, why not make myself happy with some baking action in the kitchen.

I googled recipes on how to make date cake since I have this box of dates that Mom brought from Doha, Qatar, which I'm not a big fan of due to its' peculiar texture. I finally found one that caught my interest. Sourced from an Australian cooking website named Taste.com.au, I prepared all of the cooking utensil and ingredients needed to make the cake and immediately try to pull it off. Here, is the link to the Sticky Date Cake with Caramel Sauce.


I'm not a pro at baking, but I do enjoy it. I have baked brownies for a few times and they didn't always end up the way I wanted them to be. At one point, I tried to bake this Milka-based brownies that came out as hard as a brick. I could probably hit somebody with it and he would passed out.

I didn't have high expectation on how my date cake will be, so I just went with the recipe and hoped for the best.

In the recipe, two cups of boiling hot water was needed to make the chopped dates tender. Then, I have to combine the date mixture with the cake mixture that has egg in it. Now, I know how an egg mixture will be destroyed if I were to put another mixture with high temperature in it. The heat will cook the egg up, leading to a disaster. It took me a while to figure this out. I ended up putting the date mixture in the freezer for around five minutes until the boiling water cools off, then I mix it together with the egg mixture. I turned out fine, thank God.

Combined the mixture, poured it into a cake pan, put it in the oven, and let it bake for 45 minutes. I occupied myself with some house chores as I waited for my Sticky Date Cake to finish baking.

The cake turned out, unexpectedly, fine and gorgeous. It didn't show any uncooked batter as I poked some holes into it with a toothpick, the edges didn't stick to the cake pan, the surface felt firm despite the texture being soft and tender. All in all, it baked all the way through, woohoo!


The recipe said that I am supposed to eat it with some caramel sauce. Unfortunately, I didn't have the ingredients to make one, so I settled with some butter.

The date cake was moist, similar with how a sponge cake should be, but not crumbly. It had a strong date flavor and a bit of date bits as well, which was okay for me. It was sweet to the point of making me nauseous when I ate too much of it, but the butter helped to ease down the sweetness.

It was okay. The cake was okay.

The problem is, I don't have people to give the cake out to. Help!