Showing posts with label Abon Gulung. Show all posts
Showing posts with label Abon Gulung. Show all posts

Tuesday, April 10, 2018

Roti Abon Gulung Khas Solo

"Cobain Abon Gulung Khas Solo, Kin. Bisa dipesen lewat Go-Jek. Menurutku, ini lebih enak daripada yang Manokwari," ucap Papo melalui Whatsapp. Saat itu, gue dan Ibu tengah meneguk gelas kedua jus yang kami pesan di restoran hotel Omah Sinten. Cuacanya panas banget dan kami sepertinya kekurangan minum gara-gara seharian keliling-keliling naik becak. Gue buka aplikasi Go-Jek, dibagian Go-Food, dan gue cari di kotak pencarian dengan kata kunci "Abon Gulung Khas Solo". 


Nggak lama, muncullah di opsi pertama toko roti tersebut yang berjarak kurang dari 10km dari tempat kami menginap. Mumpung gue masih ada sisa saldo Go-Pay dari Bapak, gue pesan satu kotak yang rasa original. Tergoda banget untuk menyicipi di tempat karena secinta itu gue dengan roti abon gulung, tapi gue masih ingat berat badan. Akhirnya, sepulangnya gue dan Ibu ke Caman, barulah kami buka dan kami icip barengan dengan Oom, Tante, Eyang, Ninik, dan saudara-saudara gue yang sedang ngumpul. 



Satu kotak tersebut berisikan sepuluh potong roti abon gulung yang manis dan imut-imut. Presentasi dari rotinya lebih kalem dan lebih rapi kalau dibandingkan dengan Abon Gulung asal Papua yang bentuknya lebih lonjong dan isian abonnya awur-awuran kemana-mana. Agak mirip dengan tampang roti abon hasil produksi BreadTalk, dan ukurannya pun nggak beda jauh, tapi jauh lebih manis. Hiasan taburan kacang wijen putih, kacang wijen hitam, dan irisan daun bawangnya pun tampak jelas, tapi nggak ngotot. Ibarat membandingnkan Shion dengan Nezumi dari serial animasi berjudul No.6: sama-sama cogan, tapi yang satu berandalan, yang satu anak rumahan. 

Rotinya empuk, daun bawangnya terasa gurihnya, perbandingan saus mayonaise dengan abonnya cukup manusiawa dan nggak terlalu berlebihan, tapi menurut gue isian abonnya agak kurang banyak menurut gue (atau, mungkin, guenya aja yang terlalu rakus). Makannya nggak kerasa karena ukurannya terlalu imut, dua kali gigit tiba-tiba lenyap seketika. 



Gue agak kesusahan memilih roti abon mana yang paling enak, asal Solo, atau asal Papua, karena keduanya sama-sama enak meskipun punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tapi, sepertinya, kalau gue disuguhkan kedua roti di depan mata, gue akan langsung memilih Roti Abon Gulung dari Manokwari Bakery, atau Hawai Bakery, hanya karena ukurannya lebih besar dan abonnya lebih tumpah. 

Kalau kalian lebih suka yang mana? 

Friday, October 9, 2015

Abon Gulung Hawai Bakery

Beberapa minggu yang lalu, gue dioleh-olehin sekotak Abon Gulung khas Hawai Bakery dari Oom gue yang baru pulang terbang dari Manokwari, Papua. Bahagianya bukan main saat gue disodorin paperbag bernuansa merah bergambar setumpuk jajanan khas Papua tersebut. Memang sih, pada intinya Abon Gulung nggak lebih dari sejumput abon yang digulung pakai roti. Tapi, entah kenapa, gue kayaknya doyan banget sama cemilan yang satu ini. And by "doyan banget", I meant ya doyan banget mungkin gue bisa ngegayem tiga gulung dalam sekali makan. Sisanya, gue eman-eman sampai mepet tanggal kadaluarsa.



Abon Gulung Hawai Bakery yang dibawain Oom gue ini adalah abon gulung rasa original, yang berarti nggak ada tambahan topping apapun selain abon. No chocolate, no chesse, no nothing. Just how I like it. Bukan berarti gue nggak suka dengan kombinasi rasa abon dan keju, atau abon tuna ya, hanya saja gue lebih suka dengan keoriginalitas Abon Gulung apa adanya.


Roti abon ini memiliki ukuran yang tergolong panjang, kira-kira sepanjang telapak tangan, dan tebal yang menurut gue manusiawi. Seperti biasa, gulungan roti ini diisi dengan abon sapi manis yang lumayan banyak, sampai-sampai abonnya keluar dari gulungannya. Tekstur rotinya pun lumayan kaku dan keras jika dibandingkan dengan roti-roti unyu buatan Bread Talk, Bread Life, dan toko roti lainnya, namun tetap nikmat. Ada titik dimana saat gue tengah menggigit dan mengunyah cemilan Timur ini, gue merasakan temstur rotinya yang agak flaky dan mirip pastry, dan itu enak. Banget. Parah.


Biasanya, sekotak Abon Gulung ini hanya bertahan tiga hari dari tanggal produksi, jadi memang harus cepat-cepat dimakan. Mau dieman-eman sebagaimanapun, pasti roti abon asal Papua ini akan cepat ludesnya. Sedih, sih, soalnya gue adalah tipikal orang yang kalau lagi keranjingan sesuatu akan terus stuffing myself with whatever that is sampai gue bosen dan muak. Untungnya, ada yang namanya kulkas, jadi gue bisa menyimpan Abon Gulung itu sebulan lamanya, atau mungkin lebih, suka-suka gue. 

Yang disayangkan itu adalah fakta bahwa tekstur roti abon tersebut akan berubah kalau disimpan di kulkas. Roti yang pada awalnya udah kaku dan keras, bakalan jadi jauh lebih keras setelah didinginkan. Bayangin aja cireng kenyal yang dianginin semaleman, pasti bakal jadi sekeras bata kan besoknya? The same goes with this one.

Tapi, all in all, Abon Gulung itu enak. Banget. Parah. Dan kalian harus nyoba, setidaknya sekali seumur hidup. Mungkin gue terlalu berlebihan, but I just can't help it. Memang enak banget, parah.