Saturday, October 15, 2016

Smoothie Bowl 101!

Smoothie bowls! Who doesn't love 'em? Dari tampangnya yang warna-warni dan meriah aja udah bisa bikin gue greget layaknya penderita OCD yang nggak tahan kepingin bersih-bersih rumah yang baru aja disapu pel lima menit yang lalu. Belum lagi gregetnya nambah ketika gue baca bahan-bahan pembuatannya yang orang-orang bilang super food ini, yang pelafalan namanya membuat gue merasa seakan-akan gue bule dari kampung sebelah. Chia seeds. Acai berry. Multigrain nuts. Goji berry. Spirulina. Gue bahkan nggak akrab dengan yang namanya spirulinague pikir itu semacam sesuatu yang berhubungan dengan program KB.

Kalau boleh jujur, gue nggak terlalu peduli dengan kandungan vitamin dan omega bla bla bla yang ada di dalam setiap suapan smoothie bowl ini karena, ya udah, yang namanya buah-buahan pasti mengandung berbagai macam vitamin yang bagus untuk tubuh kita. Betul, dong? Hanya saja, yang ini diblender dan dihias secantik mungkin, jadinya udah pasti lebih menarik untuk disantap ketimbang yang biasanya kita makan pisang utuh dari kulkas layaknya penghuni bonbin. 

I dig smoothie bowls just because they look super fancy and festive. I'm not gonna lie. Memang, sih, smoothie bowl mana dari cafe apa pasti memiliki kombinasi rasa yang berbeda, tergantung dari bahan dasar pembuatan yang mereka pakai. Itu pun menjadi salah satu faktor yang membuat gue akhirnya mencicipi bermacam-macam smoothie bowl dari tempat makan yang berbeda juga. But, still, I dig it because it appeals to my eyes. 


SNCTRY
Jalan Dharmawangsa Raya No. 4, Kebayoran Baru - Jakarta 12160

Bukan Kinan namanya kalau jalan nggak pakai nyasar. Hanya dengan bermodalkan aplikasi Zomato dan Google Maps, gue berhasil sampai di SNCTRY meskipun gue harus nyetir dengan amat sangat pelan, demi cafe ini nggak kebablasan untuk yang kedua kalinya karena tempatnya sangat kecil dan nyempil, dan jalan yang gue lalui adalah jalan satu arah sehingga gue nggak bisa memutar balikkan mobil gue saat gue kelewatan pintu masuknya meski hanya sepersekian meter. 





Gue merasa nyaman banget dengan suasana outdoor seating SNCTRY yang, meskipun sempit dan kecil, adem dan sejuk. Mungkin didukung dengan faktor timing yang pas kali, ya, karena saat itu masih sekitar jam delapan pagi, mataharinya belum terlalu terik dan udaranya masih agak sejuk, jadinya gue dapet suasana yang ciamik.


Menu sarapan gue pagi itu adalah semangkuk Green Superfood Bowl, yang terdiri dari campuran yogurt, pisang, apel, bayam, dan spirulina. Of all the smoothie bowls available that day, why did I choose this one, you asked? Sederhana aja, karena warnanya hijau dan ada yang namanya spirulina di dalam makanan ini. Seumur-umur gue belum pernah mencoba spirulina, yang ternyata adalah semacam superfood yang berasal dari ganggang - yang berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, dan bisa mendetoksifikasi segala keong racun yang bersemayam di tubuh - kebayang, kan, betapa semangatnya gue saat memesan menu yang satu ini?

Selang beberapa menit setelah gue pesan, datanglah smoothie bowl perdana gue. Persis seperti yang ada di bayangan gue: warnanya hijau, atasnya dihias dengan potongan-potongan pisang dan apel hijau dan taburan beberapa jenis kacang dan buah-buahan kering. Cantik. Enak banget buat dilihatin doang.

Perlu beberapa kali jepretan sana sini sebelum akhirnya gue menyantap sendokan pertama dari Green Superfood Bowl ala SNCTRY ini. Campuran rasa segar dan kecut dari apel dan bayam beradu dengan manisnya pisang dan tendangan pedas dan tajam dari taburan kacang dan buah-buah kering yang sepertinya disangrai dengan kayu manis dan jahe terlebih dahulu sebelum disajikan.

Untuk keseluruhan, rasa didominasi oleh gurihnya bayam dan kecutnya apel. Untungnya, ada pisang yang bisa ngebantu gue merasakan sedikit rasa manis, so it went down nicely. The homemade granola also helps in giving flavor to the fruit puree as they give a little twist of spices in every grain. Sayangnya, gue pecinta rasa manis dan gue nggak terlalu gemar dengan pedasnya jahe, jadi Green Superfood Bowl dari SNCTRY ini macam angin lalu buat gue. It was okay for my first smoothie bowl, but that's it. 


Berrywell
Fairground Building, Jalan Jendral Sudirman, Kav. 52-53 Lot 22
Jakarta, Senayan - Jakarta Selatan 12190

Meskipun tempatnya kecil, terpencil, dan seakan-akan berada jauh dari peradaban di luar sana karena letaknya di lantai dasar sebuah bangunan yang secara teknis merupakan tempat parkiran mobil, gue sangat senang dengan pencahayaan di Berrywell yang sangat membantu dalam proses pengambilan gambar dan video untuk blog gue. Hanya tersedia beberapa meja dan kursi yang berdempetan satu sama lain untuk memaksimalkan kuota pengunjung, tapi tempat itu cukup untuk membuat gue dan teman gue menikmati setiap menitnya selama kami di sana.


Otak medit gue bekerja dengan sigap sesampainya gue di Berrywell saat gue melihat dispenser cantik berisikan lemon-infused water dingin, beserta shot glass yang berbaris rapi di sampingnya, tertata rapi di sebuah meja di ujung cafe. "Yes, nggak usah keluar duit buat beli minum," pikir gue. 


Menu yang gue coba malam itu adalah semangkuk Green Energy, yang terbuat dari campuran bayam, green tea, pisang, nanas, dan dihias dengan berbagai macam topping, mulai dari biji bunga matahari, coconut flakes, chia seeds, goji berries, oat, dan cocoa nibs. Rame banget, kan?

Soal rasa, smoothie bowl yang satu ini lebih banyak rasa pahitnya, yang gue rasa diperoleh dari campuran green tea dan pisang. Kalian mengerti kan pisang itu rasanya manis, tapi at some point akan ada bitter aftertaste-nya? Nah, itu dia. Rasa pahitnya terlalu dominan, sehingga gue membutuhkan bantuan tambahan rasa dari topping yang menghiasi permukaan smoothie bowl ini, yang sayangnya nggak banyak membantu karena mereka pun hambar, kecuali potongan pisang dan cocoa nibs. Once again, it was an okay smoothie bowl, but it didn't leave a big impression on me. 




 Nalu Bowls
Jalan Drupadi No. 1, Seminyak - Bali 80361

Ini dia tempat yang gue idam-idamkan sejak lama, Nalu Bowls! Terletak di sebuah gang sempit di daerah Seminyak, Bali, gue bela-belain naik uber dari Sanur hanya demi bisa menyantap salah satu menu smoothie bowl-nya untuk sarapan. Iya, gue seniat itu orangnya.

Gue sama sekali nggak menyesal udah bangun pagi, lebih pagi dari biasanya gue bangun, hanya demi menempuh perjalanan seharga delapan puluh ribuan untuk semangkuk buah blenderan. Sesampainya gue di sana, gue bahagia dengan bagaimana Nalu Bowls looked exactly like I expected it would be. Very small, very petite, not too crowded because it was only 8 o'clock in the morning, very appealing to the eyes especially when the sun ray is on point, very cozy, dan sangat-sangat Intagram-able. But, you know me, I don't do interiors. I care more about the architecture of the food. 



Kadang gue suka kesel sama diri gue yang suka modal mental doang, ya contohnya seperti saat gue mampir ke Nalu Bowls ini. Gue cuma bawa diri, modal mental, dan uang receh untuk transportasi. Terus gue mau bayar makanan yang gue pesen pakai apa, jual rambut? Untungnya di sini terima pembayaran menggunakan kartu debit, jadi gue nggak perlu mendedikasikan tujuh tahun hidup gue nyuci blender dan mangkok di sini. Siapapun yang menciptakan kartu debit BCA, terima kasih, ya.


Pagi itu gue lagi nggak nafsu untuk menyantap smoothie bowl yang serba hijau, akhirnya pilihan gue jatuh pada J-Bay. Nothing can go wrong with a bowl of blended peanut butter, banana, soy milk, and honey, not to mention, topped with homemade granola, sliced banana, and drizzled with honey. And, guess what? Nothing did!

J-Bay khas Nalu Bowls adalah smoothie bowl yang paling enak, paling dingin, paling menyerupai es krim, paling mantep, dan paling membahagiakan yang pernah gue santap, yet! Gue sangat sangat menggemari tekstur blended ingredients-nya yang mirip banget dengan es krim. Perpaduan rasa antara selai kacang dan pisangnya harus gue kasih acungan jempol tanpa batas, belum lagi potongan pisang manis dan madu yang membuat health food ini nggak hambar-hambar banget pun nggak luput dari acungan jempol. Belum lagi homemade granola-nya yang sangat renyah, nggak terlalu berat, dan manis. Gue akan bahagia kalau bisa sarapan ini setiap hari. 

Perlu gue ingatkan bahwa J-Bay ini manis banget, bisa-bisa kalian yang nggak doyan manis bakalan tersiksa kalau harus menyantap health food yang satu ini. Tapi, untuk para penggemar manis, seperti gue, smoothie bowl mahakarya Nalu Bowls ini bagaikan surga di telapak kaki Ibu. 




Fillmore Coffee
Suites at Seven, Jalan H. Sidik No. 7, Setiabudi - Jakarta Selatan 12940

Butuh perjuangan buat gue untuk sampai ke Fillmore Coffee karena letak cafenya yang sangat sangat tidak strategis. Cafe kecil nan mungil ini berada di lantai dasar dari sebuah apartment kondo bernama Suites at Seven, yang terletak di sebuah gang sempit. Iya, lagi-lagi gang sempit. Pertama kalinya gue ke Fillmore Coffee, gue nyasar jauh sampai ke jalan buntu. Alhasil, gue harus memutar balikkan mobil gue di gang sempit itu dan untungnya berhasil setelah bulak-balik maju mundur. 

Gue langsung jatuh cinta pertama kali gue menginjakkan kaki di Fillmore Coffee. Tempatnya mungil dan sangat nyaman, nggak banyak pengunjung yang datang tapi nggak bisa dibilang sepi juga, dihias dengan tanaman rambat yang cantik di sudut sana sini secukupnya, dan pencahayaannya sangat sangat ciamik. Tipikal cafe kece sederhana yang pengunjungnya pun orang-orang kece. Iya, gue salah satunya. 


Karena saat itu gue lagi males mikir berkepanjangan, akhirnya gue memutuskan untuk memesan menu yang familiar di mata gue, yaitu Fillmore Bowl, dengan bahan dasar peanut butter, cocoa, pisang, almond, chia seeds, dan granola. 

Gue harus menunggu agak lama untuk pesanan gue selesai dibuat untuk alasan yang gue nggak tau pasti apa. Mental gue goyang karena saat itu gue kepingin banget ngunyah dan pesanan gue nggak datang-datang, sampai gue akhirnya lalu lalang di kasir, berfikir keras mengenai lebih baik mana, nungguin smoothie bowl jadi, atau pesan makanan lain sembari nunggu. Akhirnya gue memutuskan untuk menunggu karena saat gue mengintip isi dompet, hanya ada Tuanku Imam Bonjol seorang.


Chocolate in color, topped with sliced banana, a line of chia seeds, a hint of almonds here and there, and a handful of mixed nuts and crisp coconut. It had a very simple, yet appealing presentation, but it didn't leave a big impression on me. 

I'm no food expert, tapi gue merasa bahwa kombinasi bahan yang digunakan untuk membuat smoothie bowl ini saling baku hantam di dalam mangkuk. Both cocoa and peanut butter have their own fortes, but to combine them with each other in a smoothie bowl? I don't think they are a match made in heaven. Lidah gue bingung mau berpihak pada siapa. Belum lagi ada campuran pisang di dalamnya! Lidah gue makin bingung, karena pisang bisa masuk ke dua-duanya, and I don't know which ship I should go down with! 



Sejauh ini gue baru mencicipi empat macam smoothie bowl dari empat tempat makan yang berbeda, and my favorite so far is the J-Bay from Nalu Bowls! Gue belum sempat berkelana lagi karena saat ini gue sedang dalam masa konsinyir, alias masa hukuman dimana gue jadi tahanan barak dan nggak boleh mencicipi peradaban dan indahnya lampu kota saat malam. I'm looking forward to the day when I can get my hands on those smoothie bowls once again!

Monday, May 23, 2016

Pocky Chocolate: Almond Crush


Got this Pocky Chocolate: Almond Crush from my dorm mate, Anggita, whose parents just got home from a quick getaway to Japan. A pack of this baby contains a couple bag of Pocky, in which was filled with five sticks of milk chocolate covered biscuit sticks drizzled with chunks of almonds on it. 

I was very satisfied with how the actual product itself looked very similar with the advertisement pictures printed on the box. Them Pocky sticks were very short compared to the ones produced here in Indonesia, yet a bite of it gave you a mouthful of flavor smack. Bam!

The combination of the creamy chocolate milk enveloping the upper part of the biscuit stick blended well with the savory almond chunks, and they were generous in amount, making it better. I'm guessing that the producer of these sweet treats back in Japan used a different quality of chocolate because of the fact that the milk chocolate that was covering the biscuit melted easier when it made contact with heat. Unlike the ones here in Indonesia. 

I really like this particular Pocky flavor. I would probably buy a dozen of them if I get the chance to go on a quick holiday to the land of the rising sun. And then I would probably buy another dozens of other flavors as well. 


Australian Jerky (Food Review Video)

This is the first time I have ever made a food review video. Instead of the usual blogging, I decided to try making a food review video of some Australian snacks that my best buddy, Icha, sent me a few months ago. There were four packs of them and they were meat jerkies. But, not just any meat jerkies, but exotic Australian animal jerky. Yes, I'm talking about kangaroos! 

Unfortunately, in the video I was using my mother languange, Bahasa Indonesia, because I don't feel like using English at that moment. You can see all the awkwardness and the bucketful of ignorance in me. I was being so ignorant I declared that emus are ostrich (I know, my bad, I thought they were the same animals). 

So, without further ado, enjoy the video down bellow. If you can't manage to comprehend what I'm saying on the video, you can hire a translator to help you understand the whole situation, or maybe you can just tell by the expressions that I made. 

Sunday, May 15, 2016

Brown Fox: Waffle & Coffee

Halo, readers! Akhirnya ya, setelah sekian lama nggak kelihatan, gue nongol juga. 

Brown Fox: Waffle & Coffee

Pagi ini gue sarapan di Brown Fox: Waffle & Coffee, cafe mungil dengan parkirannya yang sempit, yang terletak di Jalan Taman Margasatwa, Pasar Minggu. Saking mungilnya, dan karena cafe ini juga mengumpat dari kehiruk pikukkan daerah Pasar Minggu, gue hampir kelewatan kalau bukan karena billboard sign-nya yang lumayan mencolok. 

Meskipun cafe ini terletak tidak jauh dari Rumah Sakit Hewan Ragunan, gue tetap harus menggunakan aplikasi Zomato dan Google Maps karena gue sangat tidak suka memperhatikan jalan dan sering banget nyasar. Bukannya gue buta arah, tapi gue sangat malas untuk memperhatikan jalan. Blame it on the blue top. 

You just can't miss that big orange sign

See, very compact and minimalist

Cafe ini memang mungil banget, tempat parkirannya pun mungil hanya muat 3 mobil dan beberapa motor saja. Outdoor seating tersedia bagi kalian yang lebih senang menghirup percampuran antara udara segar dan karbon monoksida, indoor seating pun ada buat teman-teman yang suka memanjakan diri dengan semburan freon. 

Gue suka banget dengan interior design Brown Fox cafe yang sangat sederhana dan minimalis, namun tetap nyaman dan bikin betah berjam-jam nongkrong sambil menikmati jaringan internet gratis yang cuku cepat dan lumayan stabil. Hanya ada beberapa framed quotation di sisi kanan kiri tembok, beberapa tanaman hias di meja, setumpuk majalah untuk dibaca di dalam cafe dan tidak boleh dibawa pulang, dan kombinasi pewarnaan yang manis dengan pemilihan perabotan minimalis yang sangat serasi. Semuanya cukup untuk membuat gue nyaman saat melangkah masuk kedalam cafe bertema Jepang ini. 

And where does the bunny go?

Very cute T-shirt and bags by Skelly are being sold here


Pasti kalian sadar dong betapa seringnya gue menggunakan kata "mungil" untuk mendeskripsikan cafe ini. Gue nggak bohong. Cafe yang cocok banget untuk dijadikan tempat sarapan setiap hari ini memang sangat kecil dan minimalis. Nggak butuh belasan langkah untuk gue sampai ke counter pemesanan dari pintu masuk. Seketika gue disambut dengan salah satu crew Brown Fox cafe, yang sepertinya sedang mengalami pagi yang kurang baik karena dia pelit senyuman atau mungkin pembawaan ekspresinya memang seperti itu, dengan, "Silahkan, mau pesan apa?" sambil menyodorkan deretan menu santapan yang bikin ngiler dan pusing karena bingung mau memilih yang mana. 

The sight of the cafe's counter

Who wouldn't want a kitchen like this? 

Nice, free wifi!

Hello there, Mr. Brown Fox.

Cute notebook for sale.

Condiments and magazines to accompany your breakfast with

Simple, yet elegant

Comfy, don't you think?

Kebetulan pagi ini gue lagi nggak punya banyak waktu untuk dihambur-hamburkan, jadi gue berusaha untuk tidak plin-plan seperti gue biasanya dan pilihan menu sarapan langsung tertuju pada segelas Strawberry Smoothie dan sepiring Classic Maple Waffle, with whipped cream, sprinkles of almond chunks, and strawberry slices. Mantap!

Menu side A

Menu side B

Beverages Menu


Nggak sampai 10 menit, pesanan Strawberry Smoothie gue langsung diantar ke meja - yang seketika menjadi favorite spot gue ketika menginjakkan kaki kedalam Brown Fox cafe karena letaknya yang sangat dekat dengan tembok kaca sehingga sinar matahari yang sangat membantu gue dalam pengambilan gambar bisa dimanfaatkan sebagai lighting alami yang sangat ciamik. Tapi, terlepas dari pemanfaatan sumber daya alam tersebut, meja itu memang yang paling gue suka dari semua tempat duduk yang ada di dalam cafe mungil ini. Nggak ada alasan tertentu. Suka, ya suka aja. Yang namanya hati kan nggak bisa dibohongin. 

Nggak lama kemudian, waffle gue pun diantarkan ke meja. Waffle-nya masih hangat, dan disajikan dengan whipped cream, potongan almond yang cukup banyak, taburan powdered sugar, dan beberapa potong buah strawberry segar. Bahagia banget dengan penyajiannya yang apa adanya, namun manis dan tetap bikin gue gagal untuk nggak ngiler. 

Terdengar bunyi "kress!" yang merdu banget di telinga gue ketika gue menancapkan garpu dan pisau ke potongan Classic Maple Waffle tersebut. Merdunya melebihi Beyoncé ketika beliau lagi nyanyi "I Was Here" di United Nations General Assembly saat merayakan United Nations World Humanitarian Day. Gue memang berlebihan, biarin aja. 

Classic Maple Waffle 

Waffle ala Brown Fox: Waffle & Coffee memiliki tekstur yang ringan dan renyah, cocok banget untuk disantap sebagai sarapan. Kalau boleh gue bandingin dengan waffle ala restoran cepat saji, sudah pasti waffle bikinin Brown Fox cafe menang telak. Rasanya tidak terlalu manis dan gurih, dan potongan waffle yang menyatu dengan maple syrup yang manis, whipped cream yang sangat creamy dan lembut, taburan bubuk gula yang menambah rasa manis yang berbeda, dan potongan strawberry yang segar dan agak kecut menciptakan sebuah kombinasi rasa yang harus diberika empat acungan jempol; dua dari tangan dan duanya lagi dari tangan pasangan kamu menyantap waffle. Kalau kamu makan sendirian, seperti gue, segera buka sepatu dan acungin jempol kaki. Sip. 

Sayangnya, tekstur ringan dari waffle tersebut nggak bertahan lama, karena bagian waffle yang terkena tuangan maple syrup cepat sekali menyerap segala kelengketan manis tersebut, sehingga menjadi basah dan lembab. Nggak lembek, tapi jadi lembab seakan-akan udah nggak punya semangat untuk hidup lagi. Dan, mungkin karena gue yang masih kenyang karena sebelum menyantap sarapan di Brown Fox cafe gue sempat ngemil beberapa potong biskuit Regal, gue merasa agak mual di beberapa potongan terakhir. Mungkin karena faktor gue kekeyangan, mungkin juga karena wafflenya menjadi berat dan terlampau manis. Tapi, terlepas dari itu semua, I didn't regret any single bite that I took. 

Boy, would you look at that. 

Anak durhaka mana yang membiarkan Ibunya nggak merasakan kenikmatan homemade waffle buatan cafe mungil ini? Gue membelikan Ibu gue sepasang Liége Waffle dengan topping kayu manis dan kombinasi antara chocolate syrup dan potongan almond. Dibandingan dengan waffle yang gue santap di tempat, Liége Waffle memiliki teksture yang lebih kenyal dan tebal, sejenak mengingatkan gue dengan tekstur roti bagel. Liége Waffle buatan Brown Fox cafe cukup nikmat dan mengeyangkan, tapi gue lebih suka dengan Classic Maple Waffle yang gue santap. 

A couple of Liége Waffles for Mom

On the one hand, Strawberry Smoothie ala Brown Fox cafe pun enak dan menyegarkan. Kombinasi strawberry yang agak kecut, susu yang gurih, es yang membuat segalanya menjadi lebih nikmat, dan gula yang manis memang mantap. Tapi, gue merasa bahwa perpaduan antara smoothie dingin dan waffle hangat di pagi hari itu kurang cocok. Mungkin untuk kedepannya gue akan akan mengganti minuman gue menjadi latte, atau milk tea, hangat atau hot chocolate sekalian biar lebih mantap. 

Some cold and thirst-quenching Strawberry Smoothie 

Nah, buat kalian yang kehabisan ide tempat sarapan mana yang harus kalian kunjungi sebelum ngantor atau ngampus, gue saranin kalian mampir lah ke Brown Fox: Waffle & Coffee. Sangat direkomendasikan untuk kalian yang doyan nongkrong di cafe-cafe mungil nan nyaman. Hati-hati aja kalau udah betah, takutnya kalian nggak pulang ke rumah. 


Brown Fox: Waffle & Coffe
Jalan Taman Margasatwa No. 9C
Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Opening Hours:
Monday - Sunday: 8AM - 10PM

Contact:
+62 819 9987 0041

You guys can check out their website, and made order at your Go-Jeg app for delivery service. Handy, no? Oh, and check out their Instagram, too. Very appetizing. 

Friday, March 18, 2016

ON HIATUS UNTIL FURTHER NOTICE

Selamat malam, para pembaca setia Milky Way Cafe!

I am beyond thrilled to announce that I have been making progress in my flight school, woohoo! Akhirnya, setelah menanti-nantikan terbang selama dua tahun lamanya, gue terbang juga. And by terbang, I meant real terbang as in you get to hop inside the aircraft, turn the ignition on, get it to fly, and do real maneuvers stuff. Keren, ya?

Nah, semakin sering gue terbang, semakin tinggi stage gue, maka semakin sedikit juga waktu luang yang gue punya untuk melakukan hal-hal yang biasanya gue lakukan. Yang biasanya gue bisa menikmati weekend mampir ke bistro terkenal yang sedang happening, sekarang gue kebanyakan bersemedi dirumah menikmati kasur gue yang empuknya nggak tertandingi. Yang biasanya gue bisa ngaso di barak setiap weekdays, menikmati jaringan internet yang super kenceng dengan membuka semua website yang bisa gue buka, sekarang gue lebih sering garuk-garuk tembok sambil komat-kamitin hafalan untuk terbang besok harinya. Yang biasanya sehari-hari gue bela-belain nahan lapar demi punya badan kayak Mila Kunis, akhirnya gue makan tiga kali sehari ditambah snack gara-gara otak gue yang mendadak jadi super lelet kalau gue lagi lapar.

Banyak deh pokoknya, contoh-contoh dinamika hidup gue yang berubah semenjadk gue terbang. Salah satunya lagi, ya, gue jadi jarang punya waktu luang untuk menulis. Oleh karena itu, gue memutuskan untuk hiatus. Nggak lama-lama, kok, hiatusnya. I'm thinking on taking a break until I graduate, but that doesn't mean that I will stop writing. I would definitely still write and publish is in social media, especially here in Milky Way Cafe, just not as often as I used to be. 

Kalian mau, kan, nungguin gue balik? :)

Best regards,
Kinan L. Wirastani